Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Lingkungan    
 
KLH
Penanganan Tindak Pidana Kehutanan: Pemberantasan Kejahatan Kehutanan, Organize Crimes
Tuesday 16 Jun 2015 05:29:30

Tampak suasana acara Lokakarya Penanganan Tindak Pidana Kehutanan yang bertemakan;
JAKARTA, Berita HUKUM - Pada hari Senin dilangsungkan acara Lokakarya Penanganan Tindak Pidana Kehutanan yang bertemakan; "Pemberantasan Kejahatan Kehutanan. Terorganisasi dan Sistematis (Organize Crimes) yang Berkeadilan". Adapun, acara lokakarya tersebut dilangsungkan di Kawasan Cikini, Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat pada, Senin (15/6).

Pembukaan Lokakarya mengenai Penanganan Kejahatan Kehutanan yang diselenggarakan bersama oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, TFCA, dan UNODC dari pantauan pewarta BeritaHUKUM tampak cukup ramai.

Pertumbuhan hutan di Indonesia terus menurun, seiring dengan illegal logging yang masih menghantui dewasa ini. Untuk itu Kementerian Kehutanan telah mengupayakan langkah-langkah penyelamatan hutan di Indonesia, dengan penegakan hukum melalui kerjasama dengan instansi dan unsur serta Lembaga sebagai alat atau baik instrumen lokal maupun internasional, seiring dengan adanya perubahan iklim dan mulai banyaknya bencana ekologis yang terus menimpa beberapa daerah. Kejahatan Kehutanan telah bermetamorphosis dalam berbagai bentuk yang semakin meluas.

Sedangkan, "kejahatan terkait illegal logging, yakni perambahan kawasan, perambahan hutan, semua terkait satu sama lain, kita membutuhkan input dari pemerintah, LSM (NGO), Perguruan Tinggi (Akademisi) Kejaksaan, Kepolisian, dimana kami menyelasikan secara holistik," ujar Drs. Rasio Ridho Sani, M.Com, M.P.M, selaku Dirjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat diwawancarai pewarta BeritaHUKUM.com, selepas acara lokakarya selesai.

Memang, Illegal logging ini menjadi persoalan bangsa. Dan harapan ke depannya dari lokakarya yang hasilnya akan disiapkan dalam tim kecil, nantinya akan dibuat tim dalam kementerian yang terkait dengan perbaikan tata kelola, Perijinan, Kebijakan ini rencananya akan disampaikan dari lngkungan hidup dan kehutanan.

"Ada secara mandat tertuang dalam UU 18 tahun 2013, terkait dengan PPP Hutan. itu sedang kita siapkan lembaganya. Dimana mempunyai wewenang dan mandat untuk penegakan hukum, bekerjasama dengan pihak kejaksaan, kepolisian. Diharapkan untuk pencegahan dan pemberantasan," jelas Rasio Ridho Sani.

Tindak pidana trans-Nasional terorganisasi di sektor Kehutanan dan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang. Seperti dibawah pemerintahan yang memiliki SDA yang melimpah, namun sering tidak memiliki kapasitas untuk mengatur pemanfaatan kekayaan alam mereka.

"Ada secara mandat UU no 18 tahun 2013, terkait dengan P3H, itu sedang kita siapkan lembaganya. Mempunyai wewenang dan mandat untuk penegakan hukum, bekerjasama dengan pihak kejaksaan, kepolisian. Diharapkan untuk pencegahan dan pemberantasan," ungkapnya.

"Diindikasikan data UNODC sekitar 6 Million US dollar (sekitar 6 juta x Rp.Rp.13.000), Potensi kerugian negara dari TSL, 7 - 8an Triliun Rupiah per Tahun. Kejahatan kehutanan menjadi penting, karena terkait dengan masyarakat luas. Seperti banjir, tanah longsor, penduduk kesulitan memperoleh income. Makanya, kejahatan kehutanan itu termasuk dalam Extra Ordinary Crime, ini yang harus kita benahi secara tegas," tandas Dirjen.

"Kita tahu, tahun depan akan merevisi UU tentang sumberdaya hayati dan ekosistem, dimana kita bisa memperkuat konservasi dan penegakan hukum terhadap kejahatan kehutanan." Pungkas Dirjen Penegakan Hukum LHK, Rasio Ridho Sani.(bh/mnd)


 
Berita Terkait KLH
 
Negara Rugi Rp362,6 Triliun, Slamet Desak KLHK Beberkan Perusahaan Pemegang Izin Konsensi
 
Legislator Imbau KLHK Tetapkan Program Konkret Kurangi Polusi Udara dan Sampah
 
Ingin Melapor ke Menteri LHK? Bisa via Medsos Saja
 
DPR Nilai Serapan Anggaran KLHK Sangat Rendah
 
Gubernur Aceh Diminta Tinjau Kembali Pergub Tentang Hukuman Cambuk di LP
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel
Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai
PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus
Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot
Presiden hingga DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
RUU PPRT Jadi Usulan Inisiatif DPR, PRT Ungkap Ini
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel
Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai
PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus
Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot
Presiden hingga DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
RUU PPRT Jadi Usulan Inisiatif DPR, PRT Ungkap Ini
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]