Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Peradilan    
 
PNS
Pemerintah dan DPR Tidak Hadir, Sidang Uji UU Perbendaharaan Negara Ditunda
2017-06-10 16:07:20

Sri Bintang Pamungkas selaku Pemohon Prinsipal usai sidang perkara Pengujian UU Perbendaharaan Negara, Kamis (8/6) di Ruang Sidang Pleno Gedung MK.(Foto: Humas/Ganie)
JAKARTA, Berita HUKUM - Sidang pengujian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (UU Perbendaharaan Negara) pada, Kamis (8/6) tertunda karena ketidakhadiran pihak Pemerintah dan DPR yang semula dijadwalkan memberikan keterangan.

"Baik kalau begitu, Saudara Pemohon apakah akan mengajukan ahli untuk persidangan berikutnya?" tanya Ketua MK Arief Hidayat sebagai pimpinan sidang perkara Nomor 18/PUU-XV/2017 tersebut.

Sri Bintang Pamungkas sebagai Pemohon akan mengajukan tiga orang ahli dalam perkara tersebut, yakni ahli keuangan negara, ahli sumber daya manusia, dan ahli hukum perdata. Selain itu, Pemohon mempersiapkan dua saksi untuk sidang berikutnya yang dijadwalkan pada, Senin (12/6).

Sebelumnya, Pemohon mempersoalkan Pasal 40 ayat (1) UUPerbendaharaan Negara terkait adanya batasan kedaluwarsa terhadap hak tagih pembayaran pensiun bagi pegawai negeri. Pasal 40 ayat (1) UU Perbendaharaan Negara menyebutkan, "Hak tagih mengenai utang atas beban negara/daerah kedaluwarsa setelah 5 (lima) tahun sejak utang tersebut jatuh tempo, kecuali ditetapkan lain oleh undang-undang."

Selama 37 tahun, Pemohon mengajar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Terhitung bulan Juli 2010, ia menjadi pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). Saat pensiun, Pemohon belum memiliki Surat Keterangan Penghentian Pemberian Gaji (SKPP). Pada 6 Oktober 2016, ia menyerahkan SKPP ke PT. Taspen dan diperoleh perhitungan ada kekurangan 16 bulan dari 76 bulan pensiun yang seharusnya diterima. Menurut ketentuan Pasal 40 ayat (1) UU Perbendaharaan Negara, masa berlaku maksimum pembayaran pensiun yang bisa dibayar kepada Pemohon adalah 60 bulan. Hal tersebut mengakibatkan ia menderita kerugian materiil sebesar 16 bulan uang pensiun yang seharusnya dapat diterima Pemohon.

Menurutnya, frasa "jatuh tempo" adalah istilah yang biasa dipakai manakala batas waktu yang diwajibkan perjanjian, misalnya perjanjian pembayaran utang atau piutang dinyatakan sudah habis. Sedangkan menurutnya, tidak ada perjanjian apapun yang dibuat antara PNS dengan pemerintah. Dengan demikian, seharusnya frasa "jatuh tempo" pada Pasal 40 ayat (1) UU Perbendaharaan Negara bertentangan dengan UUD 1945.

Seharusnya, menurut Pemohon, dalam sebuah perjanjian, hak tagih berupa pelanggaran atas batas waktu pembayaran utang atau piutang yang jatuh tempo bisa dikenakan "hukuman" berupa denda. Pemohon berpendapat ak tagih dalam Pasal 40 ayat (1) UU Perbendaharaan Negara diterapkan secara multitafsir. Menurut Pemohon, Pengenaan denda dengan pembatasan pembayaran untuk 5 tahun dengan alasan "hak tagih yang terlambat atau kedaluwarsa" telah mengurangi hak atas penghidupan yang layak sehingga bertentangan dengan Pasal 27 ayat (2) UUD 1945.

Pemohon juga menilai Pasal 40 ayat (1) UU Perbendaharaan Negara bertentangan dengan Pasal 31 UUD 1945 yang telah memberi apresiasi tinggi kepada PNS maupun pegawai swasta yang bekerja di bidang pendidikan. Selain itu, ketentuan tersebut juga dinilai bertentangan dengan Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 karena telah mengurangi sumber penghidupan pensiunan PNS dan mengakibatkan mereka akan jatuh miskin.(NanoTresnaArfana/lul/MK/bh/sya)


 
Berita Terkait PNS
 
THR PNS Tidak Penuh, DPR Desak Pemerintah Keluarkan Kebijakan Adil
 
Koordinator TPDI, Petrus Salestinus: SKB 3 Menteri Langgar Hukum dan HAM Para Aparatur Sipil Negara
 
16 ASN Kaur Dipecat, Sementara Tersangka OTT BKDPSDM Lolos dari Pemecatan
 
DPR Dorong Pegawai Honorer Diberi Remunerasi
 
293 Honorer Kategori 2 Gantungkan Harapan dengan DPRD Kaur
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Korupsi BGN, Kejagung tolak permohonan justice collaborator Sony Sanjaya
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]