Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Eksekutif    
 

Pascareshuflle, SBY tak Sungkang Campuri Kerja Menteri
Thursday 29 Sep 2011 23:43:05

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: Dok. Rumgapres)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Setelah melakukan perombakan (reshuffle) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, dipastikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mengubah gaya kepemimpinannya. Kemungkinan besar, ia bakal tidak sungkan lagi untuk melakukan intervensi terhadap para menteri yang dianggap kinerjanya kurang maksimal.

“Pastinya, setelah melakukan perombakan cabinet, juga dilanjutkan dengan perubahan gaya kepemimpinan presiden. (Reshuffle) pasti jadi. Saat ini tengah proses saja ke arah (pembahasan reshuffle) itu. Presiden juga takkan sungkan untuk ikut campur langsung membantu menteri,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga kepada wartawan, Kamis (29/9).

Sedangkan intevensi itu, lanjut dia, pastinya akan melihat terlebih dahulu terhadap menteri-menteri yang kinerjanya dianggap kurang maksimal dalam menjalankan program kerjanya. "Pokoknya nanti menteri jangan kaget dan heran, bila Presiden sering turut campur dalam berbagai kasus yang dihadapi kementerian untuk mengejar ketertinggalan program pembangunan," ungkap Daniel.

Dalam kesmepatan ini, Daniel mengimbau kepada masyarakat untuk bersabar dan memberikan kesempatan presden untuk melakukan peniulaian dan perbaikan jajaran pembantunya. Ia pun menyadari bahwa kepercayaan publik menurun dalam dua tahun usia pemerintahannya itu. "Sebaiknya masyarakat memberi kepercayaan kepada presiden, agar menggunakan waktu sebaik-baiknya. Presiden takkan terburu-buru, karena akan menghasilkan nama-nama yang kurang pas," jelas dia.

Daniel mengakui ada sejumlah kementerian yang beberapa program kerjanya tidak mencapai target. Namun, ia enggan menyebut nama kementerian tersebut. "Penyebabnya berhubungan dengan alasan kecakapan dan juga faktor eksternal. Itu menjadi perhatian utama presiden," tandasnya.

Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Mohamad Nasih tidak yakin langkah yang akan dilakukan SBY itu dapat menyelamatkan poisisnya hingga akhir masa jabatannya. Pasalnya, sangat sulit mengembalikan citranya yang terpuruk di mata rakyat. “Jika publik tidak puas dengan perubahan yang dilakukan SBY, saya tidak yakin bisa sampai 2014,” ujar dia.

Saat ini tingkat kepercayaan publik terhadap kabinet SBY merosot drastis. Satu penyebabnya adalah kasus-kasus korupsi di sejumlah kementerian, seperti Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Kementerian Pemuda dan Olahraga. Selain itu, tak sedikit pihak yang menginginkan presiden dilengserkan.

Untuk itu, lanjut dia, SBY harus dapat memenuhi harapan publik dalam melakukan reshuffle dengan mengganti menteri yang dinilai buruk kinerjanya. Tapi, sebenarnya rakyat berharap banyak kepada SBY, agar lebih serius melakukan pemberantasan korupsi. Namun, lambannya penanganan kasus Bank Century telah mencederai kepercayaan masyarakat. “Memberantas korupsi mulai dari Istana dan tidak sekedar retorika. Harus ada tindakan kongkret,” ujarnya memberi saran.(mic/wmr/biz)


 
Berita Terkait
 
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]