Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Peradilan    
 

MK Periksa Perbaikan Uji Material UU Kehutanan
Wednesday 14 Sep 2011 00:40:37

Kuasa Hukum Pemohon, Tedi Turangga memberikan Perbaikan Permohonan Perkara Uji Materi UU Kehutanan, Selasa (13/9) di Ruang Sidang Pleno MK (Foto: Humas MK)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Pemohon perkara Nomor 45/PUU-IX/2011 telah memperbaiki permohonannya sesuai saran panel hakim Mahkamah Konstitusi (MK). “Sudah tidak ada perbaikan lagi,” kata kuasa pemohon uji material tersebut, Agus Surono, saat menanggapi pertanyaan ketua Panel Hakim Muhammad Alim di ruang sidang Pleno, gedung MK, Jakarta, Selasa (13/9).

Dalam persidangan sebelumnya, Pemohon mengungkapkan, pihaknya telah dirugikan dengan berlakunya Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 41/1999 tentang Kehutanan. Menurutnya, pasal tersebut telah berpotensi merugikan hak Konstitusional masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Sebab, Hak milik kebendaan dan seluruh fasilitas pemerintahan daerah berpotensi ‘dirampas’ oleh negara.

“Karena dianggap berada di kawasan Hutan,” ungkap Agus Surono, salah satu Kuasa Hukum Pemohon dalam sidang pendahuluan, Rabu (10/8) lalu.

Selain itu, menurutnya, ketentuan tersebut tidak mejamin perlindungan dan kepastian hukum para Pemohon. “Hak Konstitusional para Pemohon atas pengakuan jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil dalam negara hukum, terutama yang menyangkut proses pidana menjadi tidak pasti karena para Pemohon sewaktu-waktu dapat dipidana jika ketentuan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Kehutanan masih menjadi rujukan,” paparnya.

Akibat ketentuan itu, aset-aset daerah maupun fasilitas lainnya dinyatakan sebagai kawasan Hutan. Padahal faktanya, kata dia, lokasi-lokasi di Kabupaten Kapuas tidaklah berupa Hutan.

Hal itu mengakibatkan Pemohon I, Muhammad Mawardi, selaku Bupati Kabupaten Kapuas, tidak dapat mengembangkan potensi daerahnya karena seluruh wilayahnya ditunjuk sebagai kawasan Hutan.

“Pemerintah pusat dapat sewenang-wenang menyatakan status kawasan hutan di daerah,” ungkap Agus. Selain Mawardi, terdapat enam Pemohon lainnya, yakni Hambit Bintih, Duwel Rawing, Zain Alkim, Ahmad Dirman, dan Akhmad Taufik. Mereka bertindak sebagai perorangan.

Selain itu, Agus juga berpendapat, terjadi ketidakkonsistenan antar pasal dalam UU Kehutanan. “Pasal 1 angka 3 tidak konsisten dengan Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Kehutanan,” tegasnya.

Setidaknya, menurut Pemohon, pasal itu bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3); Pasal 18 ayat (2) dan (5); Pasal 18A ayat (2); Pasal 28D ayat (1); Pasal 28G ayat (1); serta Pasal 28H ayat (1) dan (4) Undang-Undang Dasar 1945.(mkc/wmr)


 
Berita Terkait
 
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Korupsi BGN, Kejagung tolak permohonan justice collaborator Sony Sanjaya
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]