Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 

Kejagung Ragu Panggil SBY dan Mega
Monday 15 Aug 2011 14:00:32

Jaksa Agung Basrief Arief (Foto: BeritaHUKUM.com/RIZ)
JAKARTA-Kejaksaan Agung (Kejagung) belum berencana menghadirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri untuk dimintai keterangan dalam kasus dugaan korupsi sistem administrasi badan hukum (siminbakum). Mereka merupakan saksi meringankan bagi tersangka Yusril Ihza Mahendra.

Belum adanya rencana pemanggilan itu disampaikan Jaksa Agung Basrief Arief kepada wartawan di Jakarta, Senin (15/8). Alasannya, jajaran pimpinan kejaksaan masih melakukan pengkajian atas putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memenangkan gugatan uji material (judicial review) Yusril tersebut.

"Kami masih belum tuntas mempelajari putusan itu. Tapi masih ada satu kalimat di putusan itu yang masih dalam batas kewajaran. Ini yang perlu kami lihat dan kaji bersama. Prinsipnya, dalam arti kata apa yang memang menjadi putusan MK, kami hargai. Apalagi putusan MK itu bersifat final dan mengikat," jelas Basrief Arief.

Menanggapi sudah sampai mana berkas kedua tersangka yakni Yusril Ihza Mahendra dan Hartono Tanoesoedibjo, Basrief mengaku, sudah dilakukan gelar perkara dan berkas sudah dinyatakan lengkap (P21). Namun, memang masih belum diserahkan pelimpahan tahap kedua. “Saat kasus ini masih berjalan, tahu-tahu ada putusan Romli dan itu kembali membutuhkan waktu untuk dikaji. Dan semua itu kan sedang berjalan di praperadilan, kami harus hadapi dulu semua itu," ujar mantan Jaimtel ini.

Saat ditanya apakah lambatnya Kejagung mengeluarkan keputusan akhir atas kasus Sisminbakum yang merugikan uang negara senilai Rp 420 miliar yang menjadikan banyaknya polemik di publik, Jaksa Agung mengatakan bahwa polemik itu muncul dari media. "Polemik itu muncul dari wartawan, bukan dari kejaksaan. Ini penegakan hokum, harus hati-hati,” tandas Basrief. (mic/bie)


 
Berita Terkait
 
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
PDIP persilakan Jokowi keliling Indonesia: Tunjukkan ijazah asli!
4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua
KPK Tangkap 1.880 Pelaku Korupsi Selama 22 Tahun Berdiri
Gedung 13 Lantai RS Roemani Resmi Berdiri, Muhammadiyah Dobrak Mitos Angka Horor!
Prabowo sentil 'Hijau-Cokelat' jadi beking pelanggar hukum
Akademikus kritik narasi optimisme pemerintah: Jauh dari realitas, minim empati
Untitled Document

  Berita Utama >
   
4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua
Prabowo sentil 'Hijau-Cokelat' jadi beking pelanggar hukum
Pidato Presiden Tunjukkan Komitmen Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi
Aliansi PHPI Sorot Kinerja Polda Metro, Proses Hukum Kasus Pelecehan Seksual 3 Wanita Tak Kunjung Tuntas
Polri Amankan 321 WNA Operator Judi Online Scam Jaringan Internasional di Kawasan Hayam Wuruk
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]