Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

EkBis    
 
KAJS
KAJS Menolak Pembayaran Iuran Jaminan Kesehatan oleh Buruh
Monday 09 Jul 2012 19:02:03

Ilustrasi, KAJS Aksi Demo (Foto: Ist)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) - Menyikapi pernyataan Wakil Menteri Kesehatan tentang pembayaran iuran jaminan kesehatan sebesar 5% perbulan (pengusaha=3% dan buruh=2%) dan kategori penerima bantuan iuran (PBI) yang belum jelas, dengan ini Komiite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) menyatakan menolak pembayaran iuran jaminan kesehatan 2% oleh buruh dari total 5%, hal ini dikatakan Sekjen KAJS, Said Iqbal, dalam keterangannya yang dibagikan kepada awak media Senin (9/7).

Lebih lanjut Iqbal menegaskan bahwa penolakan tersebut diadasrkan atas alasan, selama ini iuran Jaminan Kesehatan (Jamsostek / Asuransi Kesehatan Swasta) dibayar semuanya oleh pengusaha yaitu 3% untuk pekerja lajang dan 6% untuk pekerja berkeluarga dengan pelayanan rumah sakit klas dua dan termasuk cuci darah, HIV/Aids, kanker ditanggung biayanya.

“Iuran pengusaha 3% adalah tidak adil karena selama ini pengusaha sudah bayar 6% (untuk pekerja yang berkeluarga) tapi kenapa tiba-tiba iuran pengusaha diturunkan menjadi 3% dan kekurangannya buruh disuruh menambah 2%, ini kan aneh,”jelas Iqbal.

Selama ini sesungguhnya buruh sudah mengiur karena bayar iuran 3% dan 6% tersebut adalah termasuk perhitungan gaji buruh/labour cost di slip gaji buruh dan di jamsostek tercatat sebagai account individual buruh dan melalui pengusaha hanya numpang lewat pembayaran saja, jadi tidak benar kalau buruh tidak bayar iuran.

KAJS berpendapat bahwa dengan iuran yang selama ini ada sudah cukup, kenapa buruh harus menambah iuran? Ini berarti akal-akalan pemerintah untuk mengumpulkan uang masyarakat dan mengurangi tanggung jawab pemerintah kepada rakyat.

Tentang PBI, KAJS berpendapat bahwa yang berhak menerima PBI adalah masyarakat yang mempunyai upah minimum (UMK) atau kurang sesuai dengan UU No. 23/2011 Tentang fakir miskin (bukan definisi fakir miskin menurut BPS) dan UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Oleh karena itu KAJS akan melakukan aksi penolakan pada 12 Juli jam 13.30-18.00 Wib di kantor Kemenkes dengan jumlah massa 5000 orang. (bhc/rat)


 
Berita Terkait KAJS
 
• KAJS Tolak Perpres Nomer 105
 
• Pelaksanaan BPJS Pemerintah Dinilai Melanggar Konstitusi
 
• Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Cacat Hukum
 
• KSPI Tolak Keputusan Hasil Rapat Pemerintah
 
• Komite Aksi Jaminan Sosial Tolak Data Sementara Pemerintah
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]