Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Penembakan
Donald Trump Usulkan Guru Dipersenjatai untuk Hentikan Penembakan di Sekolah
2018-02-23 06:59:12

Presiden Donald Trump menerima sejumlah siswa, guru, dan penyintas penembakan Marjory Stoneman Douglas High School di Gedung Putih.(Foto: twitter)
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa mempersenjatai para guru dapat mencegah penembakan di sekolah seperti peristiwa di Florida pekan lalu yang menewaskan 17 orang.

Seorang staf pengajar yang dipersenjatai dengan pistol bisa mengakhiri serangan itu 'dengan sangat cepat,' katanya.

Trump melontarkan usulan tersebut sesudah seorang penyintas pembantaian 14 Februari dengan emosional mendesaknya untuk memastikan bahwa kejadian seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Trump juga mendukung seruan untuk memperketat pemriksaan latar belakang para pembeli senjata.

Sementara korban selamat lainnya melobi para anggota parlemen Florida untuk memberlakukan ketentuan pengendalian pemilikan senjata.

"Kita akan sangat ketat dalam pemeriksaan latar belakang, dengan penekanan yang sangat kuat pada kesehatan mental orang," kata Trump kepada siswa-siswa dari Marjory Stoneman Douglas High School pada acara di Gedung Putih yang disiarkan televisi.

"Ini tidak akan lagi sekadar omongan seperti di masa lalu," tambahnya.

US President Donald Trump holds his prepared questions as he hosts a listening session with high school studentsHak atas fotoREUTERS
Image captionPresiden Trump memegang catatan yang disiapkannya untuk pertemuan itu. Butir kelima yang disiapkan itu adalah kalimat 'Saya mendengarkan Anda.'

Trump juga menyatakan mendukung sebuah proposal yang sejak lama diupayakan oleh National Rifle Association (NRA), sebuah kelompok lobi senjata yang kuat.

Dia berjanji untuk "sangat kuat" dalam menyerukan dipersenjatainya para pendidik dengan senjata api.

"Jika guru mahir menggunakan senjata api," katanya, "mereka bisa mengakhiri serangan dengan sangat cepat."

Mengakui bahwa rencana tersebut kontroversial, Trump mengatakan, "Andai guru memiliki senjata secara tersembunyi, mereka harus mengikuti pelatihan khusus dan tidak akan ada lagi zona bebas senjata."

"Zona bebas senjata, bagi para maniak yang mereka semua pengecut - zona bebas senjata adalah daerah 'ayo kita masuk dan mari menyerang.'"

Menurut situs Armed Campuses, sejumlah negara bagian AS sudah mengizinkan pistol dibawa secara tersembunyi ke tempat kuliah. Negara bagian Florida tidak termasuk.

Dalam kampanye pemilihan presiden tahun 2016, Trump menyangkal bahwa dia mendukung diizinkannya membawa senjata di ruang kelas.

'Saya jengkel!'

Di Gedung Putih, Rabu (21/2) itu, selama satu jam Presiden Trump menyimak seruan reformasi pemilikan senjata yang disampaikan sekitar 40 siswa, guru dan keluarga.

Beberapa dari mereka menyuarakan dukungan untuk gagasan Trump tentang mempersenjatai para guru.

Tapi Mark Barden - yang anaknya Daniel terbunuh dalam penembakan di Sandy Hook Elementary School di Connecticut tahun 2012 - mengatakan bahwa penggunaan senjata bukanlah jawaban:

"Guru sekolah sudah memikul begitu banyak tanggung jawab saat ini. Berat kalau harus pula mengemban tanggung jawab luar biasa untuk memegang senjata aut yang bisa mengakhiri hidup orang," katanya.

"Tidak ada yang ingin menyaksikan terjadinya tembak-menembak di sekolah."

Andrew Pollack, yang putrinya, Meadow, meninggal dalam serangan pekan lalu - penembakan paling mematikan kedua di sebuah sekolah umum AS - mengatakan: "Kita, sebagai sebuah negara, telah mengecewakan anak-anak kita."

"Saya jengkel sekali!" dia menambahkan.(BBC/bh/sya)


 
Berita Terkait Penembakan
 
PM Australia menjenguk 'pahlawan sejati Australia' Ahmed el Ahmed yang berhasil merebut senjata pelaku penembakan masal
 
3 Anggota Polri Ditembak Oknum TNI AD di Way Kanan Lampung, Menko Polkam Minta Pelaku Dihukum Berat
 
Kapolri Janji Ungkap dan Proses Hukum Kasus Baku Tembak Sesama Anggota Polri secara Transparan
 
Rumdis Kadiv Propam Polri di Duren Tiga Geger, Satu Anggota Polisi Tewas Ditembak
 
Polisi Tetapkan Ipda OS Tersangka Kasus Penembakan di Tol Bintaro
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]