Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
PNS
Banyak PNS Muda Miliki Rekening Fantastis
Tuesday 06 Dec 2011 15:38:04

Pengunjuk rasa menuntut pemberantasan korupsi (Foto: Ist)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Wakil Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso mengaku kaget dengan laporan transaksi mencurigakan dari rekening yang dimiliki pegawai negeri sipil (PNS) muda. Rata-data dari mereka, baru berkiprah sekitar lima tahun atau golongan III B. Namun, para PNS mudah itu memiliki jumlah rekening fantastik.

“Saya syok setelah mengetahui hasil laporan korupsi, bukan saja yang dilakukan pejabat-pejabat negara senior, tapi syoknya adalah itu juga dilakukan PNS muda golongan III B," kata dia kepalada wartawan disela-sela seminar di Jakarta, Selasa (6/12).

Para PBS muda tersebut, lanjut dia, melakukan tindak pidana korupsi dengan memegang proyek-proyek pemerintahan yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Bahkan, ada yang baru berusia 28-38 tahun, sudah mengerjakan proyek miliaran rupiah. Selanjutnya untuk menghilangkan jejak uangnya, pegawai tersebut memecah uangnya ke rekening anak, istri dan orang tuanya.

“Saya kaget, karena ada proyek yang dikerjakan sang pegawai muda itu fiktif dan anggaran proyek yang ada ditilep. Awalnya, saya kira mereka bekerja buat atasan, ternyata tidak. Mereka bermain sendiri. Uangnya, dipecah-pecah. Bahkan,, ada anaknya yang baru berusia lima bulan sudah diasuransi Rp 2 miliar. Ada juga anaknya yang lima tahun, juga diasuransikan pendidikan Rp5 miliar. Uang itu juga dikirim ke ibu mertuanya," ungkap Agus.

Dalam catatan PPATK, lanjut dia, setidaknya ada 10 pegawai muda dengan tingkat golongan III B yang mempunyai rekening hingga miliaran rupiah. Hal ini diketahui dari aplikasi komputer dengan sistem visual link. Hanya dengan mengetik nama serta tanggal lahir orang itu, muncul riwayat transaksi keuangannya di bank atau perusahaan asuransi.

“Sayangnya, UU Tindak Pidana Pencucian Uang hanya bisa menjerat pelaku. Sedangkan anak, istri dan orang tua dan lainnya yang turut membantu menyimpang uang haram, belum bisa dijerat. Perlu penguatan UU itu, agar bisa menjerat mereka. UU ini hanya dapat melakukan pembuktian terbalik, kalau ia tidak bisa membuktikan hartanya itu, maka dapat dilakukan perampasan aset,” jelas dia.

Dalam kesempatan ini, PPATK meminta Inspektorat Jenderal (Itjen) di masing-masing kementerian menjalankan fungsinya dengan melakukan pengawasan terhadap pegawainya. Pasalnya, Itjen memiliki kewenangan melakukan pengawasan melekat (waskat). Jika ada anak buah yang kelihatan glamor, ditanyakan uangnya dari mana. Atasan harusnya mengetahuinya dan harus mencari tahu.

Selain itu, lanjut Agus, Itjen harus melakukan pembenahan bila waskat yang ada tidak berjalan secara efektif. Salah satunya dengan mengevaluasi pelaksanaan pengawasan yang sudah berjalan secara rutin. Termasuk sistem manual pelayanan pada kementerian-kementerian yang ada dengan sistem terintegrasi teknologi yang lebih transparan.

“PPATK akan terus berupaya melakukan koordinasi dengan Irjen kementerian. Koordinasi itu ditingkatkan dengan ditandatanganinya nota kesepahaman untuk pertukaran data dengan Irjen. Atasannya juga harus melakukan pemeriksana terhadap proyek yang diusulkan serta dijlankannya,” imbuh dia.(inc/spr)


 
Berita Terkait PNS
 
THR PNS Tidak Penuh, DPR Desak Pemerintah Keluarkan Kebijakan Adil
 
Koordinator TPDI, Petrus Salestinus: SKB 3 Menteri Langgar Hukum dan HAM Para Aparatur Sipil Negara
 
16 ASN Kaur Dipecat, Sementara Tersangka OTT BKDPSDM Lolos dari Pemecatan
 
DPR Dorong Pegawai Honorer Diberi Remunerasi
 
293 Honorer Kategori 2 Gantungkan Harapan dengan DPRD Kaur
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah
Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel
Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai
PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus
Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot
Presiden hingga DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah
Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel
Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai
PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus
Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot
Presiden hingga DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]