Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Eksekutif    
 

Akhiri Kekuasaan yang Menyandera Rakyat
Tuesday 09 Aug 2011 01:52:39

Pertemuan tokoh nasional. (Foto: Istimewa)
JAKARTA-Sejumlah tokoh nasional menyerukan pengakhiran kekuasaan yang menyandera rakyat Indonesia. Hal ini merupakan kesimpulan pertemuan 45 orang yang concern menyoroti kondisi bangsa dan negeri yang sangat memprihatinkan ini. Mereka pun meminta DPR mengambil langkah politik untuk segera mengakhiri kekuasaan yang hanya menyandera rakyat.

Demikian hasil pertemuan para tokoh tersebut yang berlangsung di Hotel Four Season, Jakarta, Senin (8/8) malam. Di antara mereka yang hadir adalah Adnan Buyung Nasution, Hariman Siregar, mantan Hakim Agung Bismar Siregar, mantan Ketua MUI Ali Yafie, Sugeng Sarjadi, Romo Benny Susetyo, Anwar Nasution, Mulyana W Kusumah, mantan KSAD Jend (purn) Tyasno Sudarto, dan Mgr Martinus Situmorang.

Pengacara senior Adnan Buyung Nasiotion melontarkan pertanyaan, apakah pemerintah saat ini masih terbuka melihat dan menghayati kondisi rakyatnya sedang hanyut dalam derita? "Capek sudah memperingatkan SBY ini, dari dalam maupun dari luar. Jadi karena itu tidak ada kata lain, tidak bisa kami menutup mata telinga melihat ini terjadi terus. Kami akan berdosa jika itu terus terjadi," tegasnya.

Sementara mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ali Yafie menyatakan, keadaan yang menyimpang dari cita-cita kemerdekaan Agustus 1945 itu, seharusnya ada yang bertanggung jawab. Sebenarnya sebagai rakyat harus ikut bertanggung jawab, karena telah bersikap masa bodoh. Bahkan, sempat membiarkan tanpa daya upaya, sehingga penyimpangan menjadi-jadi terus. “Rakyat harus peduli dengan kondisi ini, jangan dibiarkan terus," ujar dia.

Kritik terhadap pemerintah terus muncul, kata Ali Yafie, yang paling baru akhir Juli lalu kaum generasi muda dalam BEM seluruh Indonesia menghasilkan keputusan bahwa pemerintah telah gagal mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan. Disusul, bulan ini ada kritik keras dari Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) terhadap pemerintah. “Seharusnya pemerintah mendengar ini, jangan diam saja,” tandasnya.(mic/irw)


 
Berita Terkait
 
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]