Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pilkada
'Sebagian Besar Pemilihan Gubernur dan Walikota Negara-Negara Eropa Dilakukan Tidak Langsung'
Friday 03 Oct 2014 21:22:15

Ilustrasi. Saat terjadi kericuhan di Sidang Paripurna DPR RI dalam Memutuskan RUU Pilkada, Kamis (25/9) malam.(Foto: iwan armanias/parle/iw)
JAKARTA, Berita HUKUM - Kepala Riset Garuda Center for Indonesian Governance, Faizal Abdulgani, menyayangkan keputusan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang telah menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota (Perppu Pilkada). Presiden SBY beralasan hak rakyat untuk memilih kepala daerah telah dicabut jika pelaksanaan pilkada dilakukan melalui DPRD.

Dengan adanya Perppu ini, Presiden SBY menganulir UU No.22 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, yang mengatur pelaksanaan pilkada secara tidak langsung oleh DPRD. Faizal menjelaskan bahwa tidak ada salahnya pemilihan kepala daerah melalui dewan atau parlemen. Bahkan sistem pemilihan tidak langsung justru dilakukan di negara-negara maju sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas demokrasi.

Faizal menambahkan, di Eropa yang merupakan tempat lahirnya demokrasi, sistem pemilihan Gubernur dan Walikota kebanyakan dilakukan secara tidak langsung. "Di Yunani yang kita ketahui sebagai negara asal demokrasi, Gubernur dan Walikota dipilih oleh para wakil rakyat di parlemen. Faktanya sistem pemilihan Gubernur dan Walikota seperti ini juga dianut oleh 55% negara di Eropa seperti Prancis, Belanda, Spanyol, Swiss, Swedia dan Denmark. Hanya 37,5% negara di Eropa yang menggunakan sistem pemilihan langsung dan 7,5% lainnya menggunakan sistem pemilihan gabungan," lanjut Faizal, sebagaimana rilis yang diterima redaksi di Jakarta pada, Jumat (3/10).

"Terlalu berlebihan jika pemilihan kepala daerah melalui DPRD disebut mencabut hak rakyat dan sebuah kemunduran bagi demokrasi Indonesia. Kalau sistem pemilihan kepala daerah melalui DPRD disebut kemunduran demokrasi, lalu mengapa di negara-negara yang terbilang maju tersebut malah menggunakannya?" tutup Faizal.(gcig/bhc/sya)


 
Berita Terkait Pilkada
 
• Pramono Anung-Rano Karno Menangi Pilkada Jakarta 2024
 
• Tanggapi Pernyataan Jokowi, Mahfud: Enggak Biasa...
 
• Peneliti: 57 Calon Dinasti Politik Menang Pilkada 2020
 
• Komisi II Apresiasi Tingginya Partisipasi Pemilih Kepri pada Pilkada Serentak 2020
 
• Calon Tunggal Pilkada Kutai Kartanegara Hadapi Gugatan di MK, Warga Harapkan Keadilan
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pergantian Kapolri, Suyudi Ario Seto Resmi Pimpin Korps Bhayangkara Gantikan Listyo Sigit Prabowo
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
• Temuan Ombudsman, Lapas Cibinong Diduga Kelola Hunian Napi ala Villa Mewah
• Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
• Temuan Ombudsman, Lapas Cibinong Diduga Kelola Hunian Napi ala Villa Mewah
• Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
• SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]