Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Nusantara    
 
Jokowi
Ternyata Sebelum Ruslan Buton, Khoe Seng Seng Juga Sudah Lebih Dulu Minta Jokowi Mundur
2020-05-30 04:18:19

Khoe Seng Seng .(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Sebelum Ruslan Buton, yang dijemput Polisi karena meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundurkan diri melalui surat terbukanya yang Viral, ternyata Khoe Seng Seng, seorang WNI keturunan Tionghoa juga sudah terlebih dulu menulis surat terbuka yang isinya sama.

Surat terbuka ditulis Khoe Seng Seng melalui akun facebooknya pada 29 Mei 2019. Pantauan pewarta beberapa media online diantaranya eramuslim.com, faktakini.net, swamedium.com juga telah menayangkan surat terbuka Khoe Seng Seng tersebut yang menyatakan tidak ingin NKRI terpecah-belah gara-gara Pilpres, apalagi sampai menumpahkan darah. Dia pun meminta Jokowi mundur untuk mencegah hal-hal tersebut.

Berikut ini tulisan lengkap Khoe Seng Seng:

Jakarta, 29 Mei 2019

Kepada Yth

Bpk Presiden Joko Widodo.

Di Tempat

Perihal : Permohonan Pengunduran Diri Demi NKRI.

Dengan hormat,

Surat ini saya tulis karena begitu cintanya saya terhadap negeri tanah tumpah darah saya ini dimana saya tidak ingin negeri ini terpecah belah gara-gara pilpres yang mana saya telah menghirup udara segar dari sejak saya lahir sampai sekarang yang telah lebih dari setengah abad dan telah memberikan kesempatan bekerja dan berusaha untuk bisa menjalani kehidupan sehari-hari selama lebih dari 50 tahun dan sisa hidup saya yang paling sekitar sepuluh sampai dua puluh tahun lagi, inipun jika yang Maha Kuasa berkenan berikan karena saya tidak tahu kapan saya akan dipanggil menghadap NYA yang bisa saja saya menghadap pada NYA hari ini, esok atau lusa.

Sebelum saya menghadap NYA, saya sebagai rakyat kecil (orang awam) yang melihat suasana (kondisi) negeri ini yang suhunya memanas sebelum dan sesudah pengumuman pilpres yang bisa menimbulkan pertumpahan darah, saya memberanikan diri menyampaikan sekedar saran (permohonan) pada Bapak agar Bapak sebaiknya demi persatuan dan kesatuan negeri ini dan menghindarkan pertumpahan darah di negeri ini mohon kiranya Bapak bisa mengajukan Surat Permohonan Pengunduran Diri sebagai Presiden TERPILIH 2019-2024 untuk mencegah perpecahan dan pertumpahan darah yang mungkin bisa timbul di NKRI ini jika seandainya bapak tetap ingin memimpin negeri ini pada periode 2019-2024.

Pada Pemilu Presiden 5 tahun lalu saya pendukung bapak tapi untuk Pemilu Presiden tahun ini saya mendukung lawan bapak dimana saya sebenarnya berharap ada lebih dari dua calon presiden yang bisa diajukan pada pilpres tahun ini, cuma sayang uji materi ambang batas pengajuan presiden-wakil presiden kami (saya diajak bapak Effendy Gazali dkk untuk ajukan uji materi) ditolak Majelis Hakim MK sehingga hanya dua calon yang bisa berkompetisi memperebutkan pimpinan negeri ini pada pilpres di tahun ini.

Sebagai catatan tambahan saya tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi dengan lawan bapak dalam pilpres ataupun berafiliasi dengan para relawan ataupun pendukung lawan bapak pada Pilpres 2019 ini tapi saya pernah bertemu bapak sekitar lima kali ketika bapak menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Demikian surat ini saya buat hanya untuk persatuan dan kesatuan negeri ini, semoga negeri ini selalu aman dan damai.

Dan atas perhatian bapak saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya.
KOE SENG SENG.(dbs/swamedium/idtoday/bh/sya)


 
Berita Terkait Jokowi
 
Jokowi Merasa Ngeri
 
Ketua Fraksi PKS Harap Kemarahan Presiden Ada Tindak Lanjutnya
 
Presiden PKS: Pak Jokowi Mestinya Marah Dari Dulu, Bukan Sekarang
 
Tiga Kesalahan Boni Hargens Dan Isu Kudeta Pemerintahan Jokowi
 
Mantan Staf Ahli Panglima TNI Galang Ribuan Dukungan untuk Ruslan Buton
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kasus Djoko Tjandra, Benny Harman: Sebaiknya Menko Polhukam Tidak Main Ci Luk Ba, Bosan Kita!
Pemerintah Tetap Jalankan Tapera, Legislator Beri Masukan
Fadli Zon: Hati-Hati Utang BUMN Bisa Picu Krisis Lebih Besar
Lapor JAGA Bansos, Data Pelapor Dijamin Aman
KPK Monitor Implementasi Bansos Covid-19 di DKI Jakarta dan Kemendes PDTT
Pemerintah dan DPR Perlu Duduk Bersama Batalkan RUU HIP
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Penyelidikan Kasus Dugaan Suap THR Rektor UNJ Distop, Polda Metro: Tidak Memenuhi Unsur Tindak Pidana Korupsi
Sahroni Minta Penegak Hukum Cek Kondisi Djoko Tjandra
Ongkosi Anak Buahnya Serang Nus Kei, John Kei Juga Sebut Penghianat Itu Hukumannya Harus Mati
Bupati Kutai Timur Ismunandar Beserta Istri Yang Menjabat Ketua DPRD Kena OTT dan Jadi Tersangka KPK
Pembakaran Bendera PDIP Dibawa Ke Jalur Hukum, Edy Mulyadi: Silakan, Loe Jual Gue Borong!
Hadiri Pemusnahan Barang Bukti, Kapolri: Kita Bukan Tempat Transit Perdagangan Narkoba
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]