Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Selebriti    
 
Rohingya
Protes ke Aung San Suu Kyi, Bob Geldof Kembalikan Penghargaan
2017-11-14 06:55:04

Musisi dan aktivis Irlandia Bob Geldof mengatakan bahwa dia merasa 'malu' memiliki penghargaan yang sama dengan Suu Kyi.(Foto: Istimewa)
IRLANDIA, Berita HUKUM - Musikus Irlandia penggagas konser Live Aid yang legendaris, Bob Geldof, akan mengembalikan penghargaan Freedom of the City of Dublin sebagai protes atas pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, yang juga dianugerahi penghargaan tersebut.

Geldof mengatakan "keterkaitan Suu Kyi dengan kota kita adalah hal yang memalukan".

Suu Kyi mendapat kecaman luas dari berbagai penjuru dunia atas sikapnya yang cenderung pasif dalam menangani berbagai tudingan pembersihan etnis terhadap warga Muslim Rohingya Myanmar.

Lebih dari setengah juta warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh menyusul kekerasan yang terjadi baru-baru ini.

Geldof adalah musisi dan penggagas konser raksasa pada tahun 1985 yang melibatkan para pemusik top dunia untuk menggalang dana untuk membantu para korban kelaparan di Afrika.

Dalam sebuah pernyataan, Geldof mengatakan: "Hubungan (Suu Kyi) dengan kota kita membuat kita malu. Kita dulu menghormatinya, dan sekarang dia begitumengerikan sikapnya dan mempermalukan kita."

Dia menyerahkan kembali penghargaan tersebut di Balai Kota Dublin, ibukota Irlandia pada Senin pagi (13/11) ini.

Aung San Suu KyiHak atas fotoEPA
Image captionAung San Suu Kyi mendapat kecaman luas atas tanggapannya terhadap kekejaman yang terjadi di Myanmar.

Suu Kyi mendapat kecaman dari para pemimpin internasional dan kelompok-kelompok hak asasi manusia karena enggan mengakui kekerasan militer negerinya, yang oleh PBB disebut "contoh buku teks tentang pembersihan etnis".

Pada hari Sabtu, kelompok musik U2 yang juga berasal dari Irlandia juga mengkritik Suu Kyi, mendesaknya untuk mengambil sikap lebih tegas menentang kekerasan yang diduga dilakukan oleh pasukan keamanan.

Dalam sebuah pernyataan di situs band tersebut, mereka menyebutkan bahwa kegagalannya dalam mengatasi krisis tersebut "mulai terlihat seperti sebuah kesengajaan".

"Jadi, kami katakan sekarang apa yang kami ingin nyatakan kepadanya: kekerasan dan teror yang diarahkan kepada orang-orang Rohingya merupakan kekejaman sangat mengerikan dan harus dihentikan."

Bulan lalu, Dewan Kota Oxford mencabut penghargaan Freedom of the City untuk Suu Kyi, yang dianugrahkan pada tahun 1997.

Pemimpin Dewan Kota Oxford Bob Price, mengakui bahwa ini merupakan "langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya" di kota itu.

Orang-orang "sangat terguncang" oleh situasi di Myanmar, katanya. Dia menambahkan sikap Suu Kyi yang tidak mengeluarkan sepatah kata tentang kekerasan yang dilaporkan di negaranya merupakan hal yang "luar biasa."

St Hugh's College di Universitas Oxford, tempat Suu Kyi mempelajari politik, pun sudah mencopot foto Aung san Suu Kyi dari dinding kampus.

Kekerasan di Rakhine meletus pada tanggal 25 Agustus ketika gerilyawan Rohingya menyerang pos-pos keamanan di negara bagian Myanmar, Rakhine, yang kemudian memicu tindakan keras militer.

Puluhan orang tewas dan muncul tudingan bahwa mereka militer membakar desa-desa Rohingya dan warga Rohingya diusir.

Militer Myanmar berdalih bahwa mereka sekadar menumpas militan Rohingya, dan menyangkal telah memburu warga sipil.(BBC/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Rohingya
Nelayan Selamatkan Para Pengungsi Etnis Rohingya Terdampar di Laut Aceh
DPR Harap ASEAN Proaktif Selesaikan Krisis Rohingya
Indonesia Dituntut Ambil Peran Tuntaskan Genosida Rohingya
Sekitar 6.700 Muslim Rohingya Tewas dalam Sebulan, kata MSF
BKSAP Sesalkan KTT ASEAN Tidak Bahas Rohingya
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Polda Metro Jaya Gelar Hasil Razia Miras Oplosan di 147 TKP
PSI Urutan Teratas Partai yang tak Akan Dipilih
Fadli Zon: Pemerintah Indonesia Istimewakan Tenaga Kerja Asing
DPR Gelar 'Lomba Kritik DPR 2018'
Memaknai Isra Mi'raj dalam Perjalanan Hidup
Dewan Pers Digugat ke Pengadilan atas Perbuatan Melawan Hukum
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Fadli Zon: Pemerintah Indonesia Istimewakan Tenaga Kerja Asing
Dewan Pers Digugat ke Pengadilan atas Perbuatan Melawan Hukum
Banyak Proyek Infrastruktur Runtuh, Jokowi Pura-Pura Tidak Tahu
Fahri Hamzah: Pemerintah Harus Segera Mencabut Perpres TKA
Amien Rais Disebut 'Politikus Comberan', PAN Kesal dan Angkat Bicara
Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Menangkap 4 Tersangka Pembobol Kartu Kredit
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]