Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Legislatif    
 
Jokowi
Ketua DPR Kritik Gubernur Jokowi Tidak Pro Industri Dalam Negeri
Thursday 13 Feb 2014 14:04:40

Ilustrasi. Gubernur provinsi DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).(Foto: BH/put)
JAKARTA, Berita HUKUM - Kebijakan pemerintah provinsi DKI Jakarta yang mengimport busway/BKTB dari China mengundang keprihatinan Ketua DPR Marzuki Alie. Kebijakan itu menurutnya jelas tidak sejalan dengan keinginan Indonesia membangun dan mendorong penguatan industri dalam negeri yang kuat.

“Terlepas dari kondisi bus yang katanya rusak dan karatan serta seperti bus bekas. Kebijakan itu jelas tidak pro industri dalam negeri. Kebijakan itu tidak sejalan dengan keinginan kita untuk membangun dan mendorong penguatan industri dalam negeri yang kuat,” ujar Marzuki ketika dihubungi wartawan, Kamis (13/2).

Menurut Marzuki, bangsa ini telah membuktikan kemampuannya untuk membangun industri. Jika memang mau membangun ekonomi nasional, harusnya Pemprov DKI Jakarta tidak perlu mengimport bus yang Indonesia sanggup membuatnya. Dengan kebijakan import ini jelas tidak terlihat niat untuk membangun ekonomi nasional.

”Kita sudah lihat kok faktanya bus-bus yang dibangun industri karoserie dalam negeri memiliki aspek teknis yang mampu bersaing dengan industri sejenis di luar negeri. Bus tersebut juga sudah banyak digunakan di Indonesia maupun di luar negeri, jadi kenapa harus impor?Katanya mau membangun ekonomi dalam negeri, tapi urusan bus saja harus import,” tambahnya.

Marzuki melihat dibandingkan dengan bus import dari China yang dibeli oleh pemprov DKI Jakarta, bus buatan dalam negeri jauh lebih baik.”Kalau bus nya seperti itu, kita mampu membuat yang lebih baik dari aspek kualitas. Jadi saya sangat prihatin, ditambah lagi munculnya isu adanya mark up dalam pengadaan bus tersebut,” jelasnya.

Selain itu dengan membeli bus dari luar negeri, banyak devisa yang lari ke luar negeri ditambah hilangnya kesempatan anak bangsa untuk bekerja di sektor industri rancang bangun. Kalau bus itu dibangun di dalam negeri, paling tidak ada sedikit upaya untuk sedikit menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia dengan negara lainnya.

“Berapa banyak devisa yang lari ke luar negeri?Berapa banyak tenaga kerja yang bisa diserap jika bus tersebut dikerjakan di dalam negeri?Neraca perdangangan yang minus paling tidak bisa dikurangi kalau kita tidak selalu mengimport apa yang mampu kita buat di dalam negeri,” tanya Marzuki.

Marzuki menilai, apapun alasan yang dikemukakan Pemprov DKI Jakarta terkait pembelian bus tersebut menurutnya sulit diterima akal. Dirinya pun mencontohkan alasan berkaratnya bus ketika sampai dan diturunkan dari kapal karena rusak oleh air laut dalam perjalanan.

“Alasannya sangat tidak logis dan merendahkan intelektualitas rakyat.Kalau kena air laut besi bisa berkarat itu memang benar, itu fisika dan itu alam.Tapi apa tidak ada cara untuk melindungi bus tersebut dari karat?Kalau semua mobil yang diimport karatan karena air laut, maka tidak akan ada kegiatan ekport import mobil di seluruh dunia. Tidak ada kegiatan ekport import buah-buahan, karena pasti buahnya semua busuk. Tapi semua bisa dilakukan karena pasti ada cara melindungi barang-barang selama perjalanan,” tegasnya.

Marzuki meminta aparat penegak hukum untuk menyelidiki proyek pengadaan bus ini karena dirinya yakin ada kongkalikong didalamnya.

”Coba di cek saja ke industri bus di dalam negeri ataupun harga bus sejenis dari negara lain apa semahal itu harganya?Saya yakin bus buatan dalam negeri akan jauh lebih murah,” tegasnya.

Marzuki pun mengkritik pemprov DKI Jakarta yang kabarnya akan menindak pejabat-pejabat di lingkungan pemprov DKI Jakarta yang terlibat dalam pengadaan bus tersebut.”Lantas dimana tanggungjawab pemimpin kalau selalu saja bawahan yang diberikan sanksi?Dimana kepempinannya? Yang mengambil kebijakan untuk import bus itu kan bukan bawahan tapi pimpinan,” tegas Marzuki.(Tim/dpr/bhc/sya)


 
Berita Terkait Jokowi
 
PDIP persilakan Jokowi keliling Indonesia: Tunjukkan ijazah asli!
 
Usai Resmi Ditahan, Hasto Minta KPK Periksa Keluarga Jokowi
 
Jokowi Bereaksi Usai Connie Bakrie Sebut Nama Iriana,Terlibat Skandal Pejabat Negara?
 
PKS Minta Jokowi Lakukan Evaluasi, Tak Sekadar Minta Maaf
 
PKB Sebut Selain Minta Maaf, Jokowi Juga Harus Sampaikan Pertanggungjawaban
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]