Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Jokowi
Jokowi Ditinggal Relawan Prodem untuk Pilpres 2019, Mantan Sebut PDIP Ketakutan
2018-03-19 06:29:34

Ilustrasi. Para Aktivis menyesal pilih Jokowi, Relawan Prodem Tobat Nasuha di Depan Istana.(Foto: twitter)
BANDUNG, Berita HUKUM - Jelang Pilpres 2019, Joko Widodo (Jokowi) mendapat ancaman serius dari pendukungnya sendiri yang ramai-ramai meninggalkannya.

Salah satunya yang dilakukan para aktivis yang tergabung dalam Pro Demokrasi (Prodem) belum lama ini.

Akan tetapi, hal itu ditanggapi dingin poitisi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari.

Kendati kehilangan dukungan dari Prodem, hal itu sama sekali tak akan menjadi masalah sama sekali.

Malah, ia menyebut ada dukungan lainnya untuk Jokowi yang tumbuh di seluruh Indonesia.

Pendapat itu kemudian ditanggapi Kordinator Komunitas Relawan Sadar (Korsa), Amirullah Hidayat.

Amirullah mengatakan, pernyataan Eva itu justru disebutnya sebagai ekspresi ketakutan kehilangan basis dukungan.

Demikian disampaikan Amirullah di sela acara Bandung Informal Meeting di Hotel Savoy Homann, Minggu (18/3).

"(Pernyataan itu) adalah suatu penyataan ketakutan rezim Jokowi terhadap kondisi saat ini," ucapnya.

Menurutnyanya, hengkangnya para relawan pro Jokowi itu dilakukan melalui mempertimbangkan dengan pikiran sehat melihat kondisi negera yang hancur karena ulah Jokowi.

"Apalagi kita selaku relawan mengambil sikap keluar dari barisan Jokowi karena masih menggunakan nurani yang paling dalam,"

Ia menyebut, pemerintahan Jokowi tidak dapat terus dilanjutkan pasca 2019.

"Jika tidak, maka negeri ini akan hancur dan tergadai pada pihak asing," sambungnya.

Amirullah menambahkan, pernyataan seperti yang disampaikan Eva adalah kamuflase PDIP untuk menutupi rasa takut.

"Saya tahu pasti, kini ada kondisi galau di tubuh rezim Jokowi setelah satu persatu relawan menarik diri,"

"Masih banyak kelompok relawan yang mengikuti langkah kami," demikian Amirullah Hidayat.

Sebelumnya, Eva tak mau ambil pusing dengan kabar ditariknya dukungan Prodem kepada Jokowi itu.

Menurutnya, relawan pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta yang benar-benar tulus itu akan terus bertambah.

"Hilang satu tumbuh seribu. Relawan ada yang berpolitik dan ada yang memang pendukung murni," ujarnya, Minggu (18/3).

Eva menengarai, ada sesuatu di balik penarikan dukungan dimaksud yang lebih bersifat politis.

"Jadi biarin saja pasti ada kepentingan subyektif," sambungnya.

Diberitakan, silang Monas di depan Istana Negara menjadi lokasi tobat nasuha sejumlah aktivis yang sebelumnya mendukung Joko Widodo.

Jumat siang (16/3) lalu mereka berkumpul dan menyampaikan penyesalan mereka karena pernah mendukung Jokowi sebagai Presiden RI.

Sejumlah polisi mengawal jalannya demonstrasi yang digelar kelompok Pro Demokrasi atau Prodem itu.

Mereka membawa sejumlah spanduk yang berisi kecaman pada pemerintahan Jokowi. Antara lain berbunyi, "Bersihkan NKRI dari Antek-antek Neolib", "Lindungi Buruh Indonesia, Stop Buruh Asing", juga "Hapus UU ITE, UU MD3, UU Ormas".

Spanduk lain bertuliskan "Tolak UU Produk Haram Demokrasi" dan "Trisakti dan Nawacita Omong Kosong".

Agus "Lenon" Edy Santoso yang menjadi salah satu orator mengucapkan terima kasih kepada polisi yang telah mengawal aksi mereka.

"Tinggal satu tahun lagi. 2019 kita akan menyongsong presiden baru," ujar Agus Lenon.

"Dari semua janji-janji Jokowi adalah janji-janji palsu," katanya lagi.

Agus Lenon lantas mengajak teman-temannya untuk mengawal kehadiran presiden baru Indonesia.

Lalu kepada aktivis Syafti "Ucok" Hidayat yang berdiri di sampingnya, Agus Lenon mengatakan, dukungan mereka kepada Jokowi di masa lalu terbukti salah.

"Kita memang salah dulu Cok. Hari ini Cok, kita tobat nasuha," demikian Agus Lenon. [dem/ruh/pojoksatu/rmol/bh/sya)


 
Berita Terkait Jokowi
 
PDIP persilakan Jokowi keliling Indonesia: Tunjukkan ijazah asli!
 
Usai Resmi Ditahan, Hasto Minta KPK Periksa Keluarga Jokowi
 
Jokowi Bereaksi Usai Connie Bakrie Sebut Nama Iriana,Terlibat Skandal Pejabat Negara?
 
PKS Minta Jokowi Lakukan Evaluasi, Tak Sekadar Minta Maaf
 
PKB Sebut Selain Minta Maaf, Jokowi Juga Harus Sampaikan Pertanggungjawaban
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]