Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Jokowi
Bicara Kondisi Bangsa, Amien Rais dkk Minta Jokowi Mundur atau Rekonstruksi Ulang
2020-12-18 05:05:34

Tampak Amien Rais dan para tokoh 'Anak Bangsa' saat konferensi pers penyampaian sikap dan tuntutan atas perkembangan kehidupan berbangsa dan penyelenggaraan negara yang memperihatinkan di Pulau Dua Restaurant, Jakarta, Kamis (17/12).(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Politisi senior Amien Rais yang beberapa waktu lalu mendeklarasikan berdirinya Partai Ummat didampingi sejumlah tokoh mengkritik pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi dianggap telah melakukan politik yang menimbulkan disintegrasi bangsa. Apa saja kata Amien Rais dkk?

"Jadi saya cuma akan mengatakan, pertama pada Pak Jokowi, saya dan teman-teman mengharapkan supaya segera selesai. Tidak lagi melakukan politik yang akhirnya itu sesungguhnya memecah atau membelah bangsa kita," kata Amien Rais saat konferensi pers dengan beberapa tokoh dalam acara penyampaian sikap dan tuntutan atas perkembangan kehidupan berbangsa dan penyelenggaraan negara yang memperihatinkan di Pulau Dua Restaurant, Jakarta, Kamis (17/12).

Tokoh yang dikenal sebagai lokomotif utama reformasi 1998 di Indonesia itu pun mendesak kepada Jokowi agar segera merekonstruksi ulang negara jika tak mau mundur dari jabatan sebagai kepala negara.

"Masih banyak lagi, tetapi yang jelas saya menawarkan, kalau memang mau mundur lebih bagus. Tapi kalau tidak mundur, tolong lakukan rekonstruksi ulang ya, supaya semua kelemahan yang kita tunjukkan itu diakhiri. Kalau masih mau ini membuka lembaran baru," tandas Amien Rais.

Adapun tokoh lain yang hadir di acara itu adalah Abdullah Hehamahua, Refly Harun, Muhyiddin Junaidi, Neno Warisman hingga Marwan Batubara.

Kemudian Amien meminta kepada Jokowi dalam pemerintahannya tidak memberikan angin segar kepada komunisme.

"Yang ketiga, jangan berat sebelah, semua ini kita digiring ke Beijing, ke negara tirai bambu itu, ya," tuturnya.

Di tempat yang sama, Ketua Majelis Syuro Partai Masyumi, Abdullah Hehamahua, ingin agar kasus penembakan 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) diusut tuntas. Dia tidak ingin ada drama dalam penyelesaian kasus ini.

Abdullah pun mengatakan pemerintah harus membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk mengusut tuntas kasus penembakan laskar FPI di Tol Jakarta-Cikampek tersebut.

"Nantinya bersama-sama dengan Komnas HAM dan Amnesty International agar membuka seterang-terangnya sampai ke akar-akarnya, kalau memang presiden bertanggung jawab presiden harus datang sebagai negarawan untuk masa depan bangsa ini," kata Abdullah Hehamahua.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi menambahkan pemimpin yang baik adalah yang mendengarkan aspirasi rakyatnya. Muhyiddin menyebut agama Islam mengajarkan untuk selalu berbuat adil.

"Oleh karena itu, kami berkumpul di sini untuk menyampaikan aspirasi kami supaya bisa didengar oleh para penguasa, pimpinan DPR, MPR, dan lain sebagainya. Kepada bangsa Indonesia, kita utamakan dialog dan musyawarah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi," sebut Muhyiddin.(gbr/imk/detik/sura/bh/sya)


 
Berita Terkait Jokowi
 
PDIP persilakan Jokowi keliling Indonesia: Tunjukkan ijazah asli!
 
Usai Resmi Ditahan, Hasto Minta KPK Periksa Keluarga Jokowi
 
Jokowi Bereaksi Usai Connie Bakrie Sebut Nama Iriana,Terlibat Skandal Pejabat Negara?
 
PKS Minta Jokowi Lakukan Evaluasi, Tak Sekadar Minta Maaf
 
PKB Sebut Selain Minta Maaf, Jokowi Juga Harus Sampaikan Pertanggungjawaban
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]