Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Legislatif    
 
Rohingya
Anggota Komisi III DPR Pertanyakan Mengapa Presiden Jokowi Belum Usir Dubes Myanmar
2017-09-04 23:53:32

Ilustrasi. Tampak kondisi kekacauan tragedi kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Desakan agar Duta Besar (Dubes) Myanmar di Indonesia yang ada masih bercokol di Menteng, Jakarta Pusat agar segera diusir semakin kencang. Pasalnya untuk kesekian kali militer dan para biksu radikal di negara yang bersebelahan dengan Bangladesh itu, melakukan pembantaian secara sadis serta sporadis terhadap warga muslim Rohingya.

Akibatnya ratusan mayat kaum muslimin dewasa hingga anak-anak dengan kondisi mengenaskan tewas bergelimpangan, serta puluhan ribu orang terpaksa mengungsi.

Anggota Komisi III DPR RI, Muslim Ayub menegaskan bahwa, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengambil sikap tegas mengusir Duta Besar negara pembantai tersebut. Bukan malah ambivalen atau mendua dalam masalah serius ini.

"Presiden Jokowi seharusnya mengusir duta besar Myanmar agar segera keluar dari negara ini, jangan mempertontonkan sikap ambivalen," ujar Muslim, kepada wartawan di Jakarta, Senin (4/9).

Menurut politisi PAN asal Aceh ini, apa yang dilakukan Myanmar sangat melecehkan hukum dan merusak tatanan dunia internasional. Sehingga butuh upaya nyata serius yang tidak hanya sekadar retorika.

"Kalau hanya bantuan kemanusiaan, sudah sejak tahun lalu Indonesia baik itu pemerintah dan organisasi masyarakat sudah sering memberi bantuan. Hal yang dibutuhkan sekarang adalah sikap tegas presiden mengusir duta besar," ungkap Muslim.

Anggota DPR asal Partai Amanat Nasional (PAN) ini menambahkan, hal ini bukan saja persoalan Presiden harus peka terhadap aspirasi mayoritas rakyat Indonesia.

"Tapi ini juga adalah persoalan hati nurani, apakah presiden masih punya hati nurani? Di mana hati nurani pak presiden melihat kenyataan pembantaian yang telah berulang kali ini," kritik Muslim.

Selain itu menurut Muslim, menarik Dubes Indonesia dari Myanmar perlu juga segera dilakukan.

"Contohlah kebijakan yang sudah dilakukan oleh Turki dan Malaysia. Tidak cukup memgirimkan Menlu ke Myanmar, atau Jokowi takut dengan keberadaan Cina dibalik kekuatan Myanmar," ujar Muslim disampaikan melalui komunikasi langsung dari Mekkah Almukaromah.

Sebelum menutup komunikasi, Muslim meminta Presiden Jokowi agar dapat mencontoh Pak Anies Baswedan.

"Jokowi seharusnya mengambil contoh pak Anis Baswedan yang tegas, berani membuat pernyataan walaupun beliau bukan presiden atau gubernur yang belum dilantik," pungkasnya.

Seperti diketahui, puluhan ribu pengungsi Rohingya lari menyelamatkan diri dari pembantaian. Bangladesh, Malaysia, Indonesia terutama di Aceh pelarian asal Myanmar tersebut kini ditampung.

Pada tahun 2016 lalu, pembantaian yang telah terjadi, militer dan biksu Myanmar membakar 1.200 rumah hingga rata dengan tanah di beberapa kampung tempat tinggal umat Islam Rohingya di Myanmar.

Hal tersebut diungkapkan lembaga internasional, Human Rights Watch, yang juga mengeluarkan sejumlah foto satelit yang memperlihatkan sekitar 820 struktur dihancurkan antara 10 hingga 18 November lalu.

Agustus tahun ini, dari informasi awal sebanyak ratusan kaum muslim Rohingya tewas dibantai militer Myanmar.(bh/db)

Share : Facebook |

 
Berita Terkait Rohingya
Prabowo dan Amien Rais Ikut Aksi Bela Rohingya 169
DPR Minta Pemerintah Tampung Pengungsi Rohingya
Pembersihan Etnis Rohingya, Seret Suu Kyi ke Mahkamah Internasional
Malala Serukan Perlindungan internasional bagi Rohingya
Warga Kaltim Berdemo Mengecam Tindakan Biadab pada Krisis Rohingya
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Ini Hoax, Kepala BNPB: Gunung Agung Belum Meletus, Bali Masih Aman
Muhajir Mengapresiasi Putusan MK terkait Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
Sufmi Dasco Ahmad: Komunisme Harus Diwaspadai
Panglima TNI: Jaga Terus Amanah Dan Kepercayaan Rakyat
Terkait Pemutaran Film G30S PKI Berikut Tanggapan Ketum Muhammadiyah
Formappi Usul Buat Kajian Urgensi Pembangunan Gedung DPR RI
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Muhajir Mengapresiasi Putusan MK terkait Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
Terkait Pemutaran Film G30S PKI Berikut Tanggapan Ketum Muhammadiyah
Polisi Berhasil Menangkap Pelaku Pembunuh Dini di Apartemen Laguna Pluit
Aktivis 98 Dukung Usul Panglima TNI Nobar Film G30S/PKI
Polri dan Ditjen Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 5 Konteiner Miras Senilai 26,3 Miliar
Peredaran PCC, Pemerintah Kecolongan Lagi, Aktor Intelektual Pengedar PCC Harus Diungkap
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]