Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Pidana    
 
Buruh
ASPEK Indonesia: STOP Kriminalisasi Buruh dan Rakyat !
2016-03-16 01:23:30

Ilustrasi. Tampak para buruh saat melakukan aksi demo pada Kamis (25/2).(Foto: BH/mnd)
JAKARTA, Berita HUKUM - Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK INDONESIA) Mirah Sumirat, SE mengingatkan kembali kepada pihak Pemerintah agar tidak anti kritik dan menghentikan setiap upaya kriminalisasi terhadap aktivis buruh dan rakyat Indonesia.

Mirah Sumirat juga turut menyampaikan tuntutan terkait penyikapan terhadap tindakan Kepolisian Daerah Metro Jaya dan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, yang hingga kini tetap melanjutkan proses pemeriksaan dan persidangan terhadap 26 orang aktivis (23 orang buruh, 2 orang pengabdi pada bantuan hukum LBH Jakarta dan 1 orang mahasiswa), yang ditangkap beberapa waktu lalu, saat menggelar aksi unjuk rasa dengan ribuan buruh yang berdemo menolak pengesahan Peraturan Pemerintah Nomor 78/2015 tentang Pengupahan, pada tanggal 30 Oktober 2015 lalu.

"Sejauh ini ke-26 orang aktivis yang ditangkap dan akan memasuki proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sesungguhnya adalah korban, karena faktanya pada saat aksi unjuk rasa dimaksud, banyak korban fisik akibat pemukulan dan perusakan mobil yang justru dilakukan oleh petugas kepolisian yang menggunakan seragam bertuliskan "Turn Back Crime"," ungkap Dewan Pengurus Pusat
ASPEK Indonesia, Mirah Sumirat, SE selaku Presiden Aspek Indonesia, sebagaimana rilis pers yang diterima pewarta BeritaHUKUM.com di Jakarta, Selasa (15/3).

"Posisi massa yang saat itu melakukan aksi unjuk rasa, sesungguhnya telah bersedia membubarkan diri secara sukarela dan bertahap. Pembubaran massa memang harus dilakukan secara bertahap, karena pengunjuk rasa berjumlah ribuan dan untuk menghindari terjadinya kecelakaan saat pembubaran," sambungnya lagi.

Lebih lanjut Mirah Sumirat merasa, dimana jika dibayangkan kondisinya ketika itu, saat proses membubarkan diri, justru petugas Kepolisian melakukan pengejaran, pemukulan, perusakan mobil hingga penangkapan 26 orang peserta unjuk rasa. Soalnya menurutnya, seharusnya Kepolisian melindungi peserta aksi, bukan justru melakukan kriminalisasi.

"Jangan rakyat yang telah menjadi korban kesewenang-wenangan aparat kepolisian, justru dijadikan tersangka dengan dalih yang direkayasa! Bebaskan 26 orang aktivis buruh dan rakyat!," tegas Mirah Sumirat lagi.

Untuk kedepannya pihak dari elemen buruh ASPEK Indonesia akan bersama-sama dengan seluruh elemen buruh lainnya dan rakyat, akan kerap menolak setiap upaya kriminalisasi terhadap aktivis yang memperjuangkan kepentingan rakyat. "Bebaskan 26 aktivis dan Stop pembungkaman gerakan buruh dan rakyat!," tegas Mirah Sumirat, seraya menyatakan, agar seluruh rakyat mewaspadai matinya demokrasi di Indonesia, serta mewaspadai kembalinya rezim Orde Baru jilid II, tulisnya.

ASPEK Indonesia juga kembali meminta Pemerintah untuk mencabut PP 78/2015, karena jelas-jelas bertentangan dengan UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. PP 78/2015 memperhitungkan kenaikan upah minimum dengan menggunakan formula tetap, yang hanya berbasis inflasi + pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan UU 13/2003 penetapan upah minimum dilakukan oleh Gubernur berdasarkan rekomendasi dewan pengupahan (hasil perundingan tripartit antara pengusaha, serikat pekerja dan Pemerintah) serta berdasarkan survei harga Kebutuhan Hidup Layak di pasar tradisonal, kemudian ditambah faktor lainnya seperti; pertumbuhan ekonomi, inflasi dan menggunakan perhitungan regresi.

"Jadi bukan ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui PP 78/2015 dan formula baru tersebut secara flat per tahun tanpa dirundingkan dengan serikat pekerja. Ini yang ASPEK Indonesia tolak!," jelas Mirah Sumirat.

"PP 78/2015 tentang Pengupahan adalah konspirasi Pemerintah dan Pengusaha untuk mematok kenaikan upah di Indonesia tidak lebih dari 10%. Dengan angka inflasi sekitar 5% ditambah pertumbuhan ekonomi 4.5% maka kenaikan hanya sekitar 9.5 %, " pungkasnya.(bh/mnd)


 
Berita Terkait Buruh
 
• Menaker Batalkan Aturan Pencairan JHT di Usia 56 Tahun
 
• Puluhan Ribu Orang Siap Demo Kibarkan Bendera Putih pada 5 Agustus 2021
 
• ASPEK Indonesia: Menaker Mau Hapus UMK Kabupaten/ Kota, Dipastikan Rakyat Makin Miskin
 
• Gerindra dan Buruh Sama-Sama Perjuangkan Kesejahteraan Rakyat
 
• Pengusaha Asing Kabur dan Ribuan Pekerja Tidak Dibayar Upahnya, Dimana Tanggung Jawab Pemerintah?
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pergantian Kapolri, Suyudi Ario Seto Resmi Pimpin Korps Bhayangkara Gantikan Listyo Sigit Prabowo
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
• Temuan Ombudsman, Lapas Cibinong Diduga Kelola Hunian Napi ala Villa Mewah
• Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]