
Basis militer Amerika Serikat di sekitar Semenanjung Korea
Pyongyang selama ini bersikeras mengembangkan senjata nuklir untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai "permusuhan" oleh Korsel dan AS.
Diperkirakan, ujicoba kali ini diniatkan untuk menekan pemerintahan Joe Biden agar membuka kembali kanal diplomasi yang beku sejak suksesi di Washington. Kepada bekas Presiden Donald Trump, Kim gencar menawarkan damai,
Jepang dalam radius rudal Korut
Kepala staf gabungan militer Korea Selatan mengaku saat ini sedang menganalisa teknologi yang digunakan Korut, berdasarkan informasi rahasia yang dikumpulkan bersama dinas intelijen AS, lapor Associated Press.
Adapun Komando Indo-Pasifik AS mengatakan akan terus memonitor upaya Pyongyang "mengembangkan program militernya dan ancaman terhadap negara-negara tetangga dan dunia internasional."
Pemerintah Jepang mengungkapkan "kekhawatiran mendalam" terhadap perkembangan di Semenanjung Korea. Sekretaris Kabinet Jepang, Katsunobu Kato, mengatakan peluru kendali Korut menciptakan "ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan Jepang, serta wilayah di sekitar."
Salah satu calon perdana menteri Jepang, Fumio Kishida, mengimbau militer meningkatkan kapasitas, menyusut "iklim keamanan di sekitar Jepang yang semakin sulit," kata dia dalam sebuah jumpa pers di Tokyo, Senin (13/9).
"Kita harus berupaya memastikan keamanan maritim melalui langkah-langkah seperti memperkuat kapabilitas pasukan penjaga pantai dan memberikan kewenangan bagi mereka untuk bekerjasama dengan militer," kata dia.
Kishida adalah salah satu kandidat paling kuat untuk mengisi jabatan ketua umum Partai Liberal Demokrat (LDP) usai pengunduran diri Perdana Menteri Yoshihide Suga. Dia mengindikasikan ingin memperkuat kerjasama dengan negara-negara sekutu untuk menangkal ancaman dari seberang laut.
"Melalui kooperasi dengan negara-negara yang berbagi nilai-nilai universial serupa dengan Jepang, saya ingin menjunjung tinggi obor kebebasan dan demokrasi," kata bekas menteri luar negeri itu.(rzn/hp /ap/rtr/dw.com/bh/sya)