Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Nusantara    
 
Duka Cita
Salim Segaf Berduka atas Wafatnya Habib Saggaf Ketua Utama Perguruan Al-Khairaat
2021-08-04 11:57:56

Ketua Majelis Syura PKS, Salim Segaf al-Jufri (kiri) dan Ketua Utama Perguruan Al-Khairaat, Habib Saggaf bin Muhammad al-Jufri.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Ketua Majelis Syura PKS, Salim Segaf al-Jufri menyatakan duka cita yang mendalam atas wafatnya Ketua Utama Perguruan Al-Khairaat, Habib Saggaf bin Muhammad al-Jufri. Tokoh berpengaruh di wilayah Sulawesi dan sekitarnya itu berpulang di RS Al-Khairaat, Palu, pada Selasa petang (3/8).

"Beliau adalah kakak ipar saya yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan dakwah, terutama untuk membina generasi muda," ungkap Salim mengenang almarhum. "Kami 14 bersaudara, dibesarkan dengan kondisi prihatin oleh orangtua. Kami ingin menjaga warisan perjuangan dari kakek yang dipanggil sebagai Gurutua Sayid Idrus bin Salim (SIS) al-Jufri."

Gurutua SIS al-Jufri merupakan pendiri organisasi massa Al-Khairaat, pada 30 Juni 1930 atau 14 Muharram 1349 H, yang berkembang pesat di Indonesia kawasan timur. Kini Al-Khairaat mengelola lebih dari 1.500 madrasah/sekolah dan 34 pondok pesantren tersebar di 13 Provinsi di Indonesia. Atas jasa dan perjuangan Gurutua tersebut, Pemerintah Indonesia memberikan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana (2010).

Pada saat organisasi Nahdlatul Ulama (NU) berdiri tahun 1926, Gurutua sempat berziarah ke Jombang, Jawa Timur dan bertemu dengan Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. "Mereka bersahabat dan belajar pada guru yang sama di Kota Mekah. Setelah berdialog, Gurutua memohon restu untuk berdakwah ke wilayah timur Indonesia dan akhirnya mendirikan Al-Khairaat," Salim bercerita.

Perguruan Al-Khairaat dan NU memiliki kesamaan pandangan dan gerak langkah dalam bingkai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sikap itu yang dipegang teguh oleh almarhum Habib Saggaf, sehingga merangkul semua pihak dan berdiri di atas kepentingan umat dan bangsa. Nasionalisme Al-Khairaat tak perlu diragukan lagi, karena Gurutua dahulu sempat berdialog dengan Bung Karno (Proklamator Kemerdekaaan RI) lewat syairnya.

Cerita Salim, setelah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno menulis surat kepada para alim-ulama untuk meminta nasehat: bagaimana sikap umat Islam dalam menghadapi penjajah Belanda yang masuk lagi dan menyerang Indonesia? KH Hasyim Asy'ari saat itu merespon dengan mengumpulkan para ulama di Surabaya, dan akhirnya bersepakat mengeluarkan Resolusi Jihad (22 Oktober 1945). Resolusi itu kemudian diperkuat dalam Kongres Umat Islam Indonesia di Yogyakarta, 7-8 November 1945. Resolusi itu yang mengobarkan semangat pertempuran di Surabaya (10 November).

Tatkala menggubah syair berbahasa Arab, Gurutua menyatakan: "Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa/ Di bumi yang menghijau daratan dan gunung-gunungnya/ Sungguh hari kemunculannya menjelma waktu berbangga/ Para tetua dan anak-anak memuliakannya/ Pada tiap tahun hari itu jadi peringatan/ Nyatakan rasa syukur padanya dan pujian-pujian/ Tiap bangsa memiliki lambang kemuliaannya. Dan merah-putih adalah lambang keluhuran kita," Salim menerjemahkan.

Khusus kepada Bung Karno, Gurutua menyerukan: "Wahai Bung Karno, kaujadikan hidup kami bahagia/ Dengan obatmu, hilanglah penyakit kita/ Wahai pemimpin penuh kebaikan di tengah kita/ Bagi rakyat, kau hari ini laksana obat kimia...". Itulah bukti kedekatan antara tokoh bangsa di masa awal perjuangan kemerdekan.(PKS/bh/sya)


 
Berita Terkait Duka Cita
 
Muhammadiyah Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya Kiai Muhammad Jazir
 
Haedar: Terima Kasih Kepada Semua Pihak yang Mencintai Buya Syafii Maarif dengan Segala Dukungan
 
Polres Pelabuhan Tanjung Priok Berduka, AKP Rumani Purba Meninggal Dunia
 
Salim Segaf Berduka atas Wafatnya Habib Saggaf Ketua Utama Perguruan Al-Khairaat
 
Jaksa Penuntut pada Kasus HRS Dipanggil Allah SWT Hari Ini
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]