Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Opini Hukum    
 
Rizal Ramli
Rizal Ramli Siaga Nyapres
2021-12-31 14:30:27

Dr. Ir. Rizal Ramli, M.A.(Foto: Istimewa)
Oleh: Dr. H. Tony Rosyid

GAK BISA diam! Itulah Rizal Ramli. RR, biasa Rizal Ramli dipanggil, selalu bicara paling depan jika ada ketidakberesan.

Mirip Refly Harun, sudah dikasih posisi komisaris, masih teriak lantang dan mengkritisi pemerintah. Bedanya, Refly suaranya lebih soft, meski akhir-akhir ini agak sedikit tinggi volumenya. Kalau RR, dari orok memang lantang.

Bicara RR, memang gak ada takutnya. Siapapun yang gak beres, dia kepret. Jurus "kepret" jadi ciri khasnya. Publik mengenal RR sebagai tukang kepret.

Cerdas, berani, lantang dan punya pengalaman. Itulah Rizal Ramli, mantan menteri Gus Dur dan Jokowi.

Rizal juga dibully, tapi gak terlalu masif. Kenapa? Pertama, suaranya lebih lantang dari yang ngebully. Gak peduli dia, main hajar aja. RR bisa lebih galak. Kedua, kurang begitu diperhitungkan dari sisi politik, mungkin karena bukan militer, bukan orang partai dan belum jadi ancaman politik. Artinya, potensi nyalon presiden RR oleh banyak pihak belum dianggap serius.

Nah, potensi ini yang sekarang sedang dipupuk oleh RR dengan mendeklarasikan diri jadi capres 2024. Sembari memperjuangkan Presidential Threshold (PT) 0 persen, deklarasi ini juga akan menjadi upaya untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas. RR ingin kasih tahu rakyat, bahwa dia akan nyapres. Ini bentuk keseriusan yang vulgar dari RR yang diajukan sebagai proposal kepada rakyat.

Hai rakyat, aku nyapres. Ini serius! Begitu kira-kira kumandang adzan Rizal Ramli.

Soal integritas, RR gak diragukan. Soal kemampuan, prestasinya terbukti ketika menjadi kabulog dan menteri. Soal pengalaman, sebagai aktifis dan pejabat, sudah dilakoninya. Jaringan? RR alumni dan aktifis ITB, juga jebolan universitas luar negeri. Bahasa inggrisnya, gak perlu diragukan.

Satu hal jadi PR bagi Rizal Ramli, yaitu elektabilitas. Perlu Rizal Ramli ketahui bahwa pemilih di Indonesia itu berbasis emosi. Like and dsilike. Lebih dominan menggunakan perasaan. Siapa yang bisa menyentuh perasaan publik, dia berpeluang untuk dipilih.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalnya, masyarakat gak banyak yang paham integritas dan prestasinya. Tapi ganteng, murah senyum, bersahaja dalam komunikasi, dan diam ketika dibilang "jenderal kayak anak TK", rakyat pun bersimpati dan memilihnya. Jadilah SBY presiden dua periode.

Pak Jokowi, mantan walikota Solo yang gak genap satu periode menjadi Gubernur DKI, terpilih jadi presiden karena simpati rakyat terhadapnya. Mengalah dan tetao rendah hati ketika berseteru dengan Bibit Waluyo, gubernur Jateng saat itu, cium tangan sebagai unggah ungguh anak muda kepada yang lebih tua, blusukan ke warga dan sejenisnya, itu yang membuat rakyat simpati. Soal prestasi, hanya kalangan menengah atas yang paham. Pemilih mayoritas berasal dari kalangan menengah bawah.

Menjadi capres seringkali bukan soal integritas dan prestasi, tapi lebih pada kemampuan menyentuh hati rakyat. Performence, bahkan cara bicara dan gesture tubuh seringkali lebih berpotensi mendulang suara dari pada integritas, prestasi, ketegasan dan keberanian.

Senyum anda, meskipun dibuat-buat dan penuh rekayasa bisa mengelabui hati rakyat untuk melupakan prestasi lawan. Begitulah faktanya ketika masuk masa pemilu.

Ini tantangan buat RR. Baik ketika PT 0 persen, maupun upaya untuk mendapat dukungan partai politik jika PT gagal untuk di-nol-kan. Bagaimana RR bisa meyakinkan rakyat bahwa ia adalah calon presiden yang sesuai dengan aspirasi rakyat. Satu syarat yang harus dipenuhi: PT 0 persen, atau ada parpol yang mau mengusungnya.

Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.(tr/bh/sya)




 
Berita Terkait Rizal Ramli
 
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]