Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
PDIP
Politisi Gerindra Minta Megawati Soekarnoputri Pertanggungjawabkan Pidato Hina Islam
2017-01-12 23:03:12

Pidato politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada perayaan HUT ke-44 PDIP.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Pidato politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada perayaan HUT ke-44 PDIP dinilai telah menghina semua hal yang terkait dengan Islam. Bahkan dianggap sebagai penistaan yang sangat menusuk iman Islam.

Begitu penilaian Politisi Partai Gerindra, Raden Muhammad Syafi'i di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (12/1).


Dia pun meminta Megawati untuk mempertanggungjawabkan isi pidatonya tersebut karena telah menghina Allah SWT, Al-Quran, Nabi Muhammad SAW dan umat Islam.

"Pidato itu terutama yang dia katakan bahwa firman Allah itu adalah ramalan adalah penistaan yang sangat menusuk akidah umat Islam dan harus dipertanggungjawabkan," tegasnya.

Tidak itu saja, Anggota Komisi III DPR ini mengatakan kalau Megawati telah menghina iman Islam karena salah satu bunyi rukum iman percaya pada hari akhir, dan kalau tidak percaya hari akhir maka dia bukan Islam.

Firman Allah mengenai akhirat dan sebagainya menurut pria yang akrab disapa Romo ini adalah berita dari Allah dan bukanlah sebuah ramalan seperti yang dikatakan Megawati.

Kalau tidak percaya seharusnya putri Bung Karno itu, kata Romo Syafi'i, lebih baik diam saja dan tidak usah menghasut umat untuk ikut tidak percaya pada keyakinannya.

"Kalau dia tidak percaya tidak perlu juga diomongkan seperti itu, yah diam-diam saja. Indonesia bisa rukun dan damai karena mayoritas bangsa Indonesia percaya pada Allah, apa dia tidak sadar?" tegasnya.

Dia pun yakin bahwa pidato tersebut bukan ditulis langsung oleh Megawati, tapi menurutnya baik Megawati maupun penulis pidato itu jelas tidak memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang diucapkan dan yang dituliskannya.

"Megawati sebagai pembaca pidato yang dibuat orang lain itu diyakininya sama-sama tidak memahami dan memiliki pengetahuan agama yang cukup baik sehingga bisa berbicara dan menulis pidato yang demikian menyakitkan umat Islam," imbuhnya.

Mereka menurut Romo Syafi'i tidak memahami kultur memahami kultur dan semangat religiusitas di Indonesia. Kehidupan beragama di Indonesia selama ini sudah berjalan dengan baik.

Begitu juga kerukunan umat beragama juga sudah terawat dengan baik dan tentu ini menurutnya karena dipelihara oleh masing-masing pemeluk agama dan terutama yang paling menentukan adalah sikap dari mayoritas pemeluk Islam yang sangat toleran.

"Karena itu kalau berbicara hendaknya disesuaikan dengan kapasitas. Jika akhirat dikatakan ramalan-ramalan jelas mereka tidak memahami itu. Sikap seperti ini bisa mengobok-obok kerukunan," demikian Romo Syafi'i.(rus/rmol/bh/sya)


 
Berita Terkait PDIP
 
• Perbandingan oposisi era SBY vs Jokowi vs Prabowo, saat ini PDIP tegaskan sebagai partai penyeimbang
 
• Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
 
• PDIP: Pangkalan militer asing bertentangan dengan kehendak sejarah pembentukan RI
 
• Deddy Sitorus PDIP Mengajak Mengundurkan Diri secara Massal, Waduh
 
• Pengamat: Megawati Tak Gentar, Anggap Kasus Hasto Kristiyanto Cuma Angin Sepoi-sepoi, Bukan Badai
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]