Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Eksekutif    
 
Djoko Suyanto
Pilih Patuh, Pemerintah Serahkan Masyarakat Menilai Putusan MK
Saturday 15 Feb 2014 11:28:28

Menko Polhukam Djoko Suyanto dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (14/2), didampingi Menteri Hukum Dan HAM Amir Syamsudin (kanan) dan Basrief Arief Jaksa Agung RI (kiri).(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Pemerintah tidak memiliki pendapat apapun terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan uji materi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.

Menko Polhukam Djoko Suyanto dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (14/2) menegaskan, keinginan masyarakat luas, para ahli, dan praktisi hukum, para kepala lembaga negara, DPR dan pemerintah untuk mengembalikan kewibaan MK menjadi tidak dapat terpenuhi, karena Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2014 yang menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2013 telah dibatalkan MK.

“Upaya-upaya kita memperbaiki lembaga MK telah dibatalkan oleh MK sendiri yang sifatnya final dan mengikat," kata Djoko Suyanto.

Ia menegaskan, pemerintah selalu taat dan mematuhi apapun keputusan Mahkamah Konstitusi. “Kita serahkan kepada masyarakat, pada cerdik pandai, para pengamat dan para ahli, serta anggota parlemen untuk menilainya sesuai dengan kapasitas masing-masing," kata Djoko, yang didampingi Menteri Hukum Dan HAM Amir Syamsudin.
Menko Polhukam berharap, dalam menjalankan tugasnya pada masa mendatang, MK dengan kewenangan dan kekuasaan yang sangat luar biasa, dapat mengemban tugas beratnya ditengah kesan publik yang belum tentu benar terhadap MK. Apalagi, lanjut Menko Polhukam, menjelang Pemilu 2014 yang sarat dinamika dan permasalahan.

Djoko menilai, putusan MK yang membatalkan upaya pemerintah mengembalikan wibawa merupakan tantangan yang harus dihadapi sendiri oleh MK.

Ia kemudian mengutip Pasar 24 c Ayat 1 UUD 1945, Mahkamah Konstitusi memiliki kemewangan yang sangat luar biasa, dan tidak boleh keliru dalam memutuskan sesuatu. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir, yang putusannya bersifat final dan mengikat untuk:

1. Menguji Undang-undang terhadap UUD;
2. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara, yang kewenangannya diberikan oleh UUD;
3. Memutus pembubaran partai politik;
4. Memutus dalam sengketa hasil pemilu;
5. Memberi putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh presiden dan wakil presiden sesuai dengan amanat UUD.

Sebagaimana diketahui, Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Kamis (13/2), mengabulkan uji materi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2014 tentang MK yang mengatur mekanisme pengawasan dan perekrutan hakim konstitusi.

Menurut Ketua MK Hamdan Zoelva, majelis menilai undang-undang itu berlawanan dengan Undang-Undang Dasar 1945, dan tidak berkekuatan hukum tetap.

Majelis hakim MK yang memutuskan pembatalasan UU No. 4/2014 itu terdiri atas Ketua: Hamdan Zoelva, anggota-anggota: Arief Hidayat, Harjono, Maria Farida Indrati, Muhammad Alim, Patrialis Akbar, Anwar Usman, dan Ahmad Fadlil Sumadi.(WID/Setkab/ES/skb/bhc/sya)


 
Berita Terkait Djoko Suyanto
 
• Pilih Patuh, Pemerintah Serahkan Masyarakat Menilai Putusan MK
 
• Menko Polhukam Sesalkan Sikap Anas
 
• Terkait Pembukaan Kantor Pusat Free West Papua, Kemenlu Akan Panggil Dubes Inggris
 
• Tindak Tegas Pelaku, Tapi Tidak Ada Peningkatan Status di Papua
 
• Menko Polhukam: Azas Kebhinekaan Alat Pemersatu Pembangunan Bangsa
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan sebagai Tersangka Dugaan Penyadapan Ilegal terhadap Presiden
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan sebagai Tersangka Dugaan Penyadapan Ilegal terhadap Presiden
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]