Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Legislatif    
 
DPR RI
Perlu Perbaikan Sistem Seleksi Anggota BPK
Wednesday 15 May 2013 22:19:36

Ketua BAKN DPR RI, Sumarjati Arjoso.(Foto: Ist)
JAKARTA, Berita HUKUM - Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI Sumarjati Arjoso menilai perlu adanya perbaikan pada sistem seleksi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Perbaikan ini dapat dilakukan melalui perubahan pada Undang-Undang (UU) BPK, sehingga proses pemilihan anggota lebih memperhatikan kompetensi calon dan tidak ada unsur politik di dalamnya.

“UU BPK terlalu longgar mengatur persyaratan calon anggota BPK. Tidak ada persyaratan kompetensi, pengalaman, dan tidak adanya panitia seleksi untuk memilih calon yang kompeten sebelum dipilih oleh DPR, menjadikan proses seleksi ini sarat akan pertimbangan politik. Tidak ada filter dari panitia seleksi, sehingga pemilihan dilakukan secara langsung oleh DPR,” jelas Sumarjati dalam keterangan persnya kepada wartawan, Rabu (15/5).

BPK, tambah Sumarjati, merupakan salah satu lembaga tertinggi dalam sistem Ketatanegaraan Indonesia, dan memiliki wewenang untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Namun, katanya, diamenilai sistem seleksinya masih terlalu normatif, sehingga perlu adanya perbaikan.

“Saat ini, syarat untuk menjadi anggota BPK diantaranya WNI, pendidikan minimal sarjana, usia lebih dari 35 tahun, dan tidak pernah dijatuhi pidana penjara dengan ancaman hukuman lebih dari 5 tahun. Dengan persyaratan ini, semua orang bisa melamar sebagai anggota BPK. Tapi menurut saya ini terlalu normatif,” ujar politisi Gerindra ini.

Ia memberikan solusi agar UU BPK diubah, sehingga lembaga yang diberi mandat konstitusi untuk memeriksa keuangan negara ini diisi oleh orang-orang yang sudah matang dan berpengalaman. Selain itu, calon anggota juga memiliki kredibel, kompeten, integritas tinggi, bebas dari keterikatan politik, serta profesional di bidang audit keuangan.

“Calon anggota BPK harus yang sudah profesional. Apakah bisa dibayangkan, lembaga profesional seperti BPK yang mempunyai standar pemeriksaan profesional, dipimpin oleh orang-orang yang kurang pengalaman di bidang audit? Betapa kacaunya itu nanti,” cetus Sumarjati.

Sumarjati mencontohkan bahwa di beberapa negara maju, untuk menentukan anggota BPK (National Audit) terdapat peran BAKN (Public Account Commite). BAKN turut menentukan penilaian dalam hal kompetensi dan integritas. Namun, saat ini untuk sistem seleksi anggota BPK di Indonesia masih dipilih oleh DPR, dengan sebelumnya memperhatikan pertimbangan dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan nantinya ditetapkan oleh Presiden.

“Saat ini sedang dilaksanakan proses pemilihan anggota BPK untuk menggantikan Taufikkurrahman Ruki. Diharapkan kedepannya, hal ini menjadi perhatian kita bersama, khususnya dalam memperbaiki sistem seleksi anggota BPK agar semakin lebih baik,” harap Sumarjati.(sf/dpr/bhc/rby)


 
Berita Terkait DPR RI
 
DPR Dukung Semua Program Pemerintah Selama untuk Kesejahteraan Rakyat
 
Polisi Tetapkan Pengguna dan Pembuat Plat DPR RI Palsu Jadi Tersangka
 
Putusan MKMK Bisa Jadi Amunisi Politik Bagi DPR RI Memakzulkan Presiden Jokowi
 
Seluruh Fraksi DPR, DPD dan Pemerintah Setuju RUU 5 Provinsi Dibawa ke Rapat Paripurna
 
Ini Kisah 'Falun Gong' yang Hadir dalam Rapat Paripurna DPR-RI
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]