
Secara etimologis 'besurek' berasal dari kata 'ber' dan 'surek' yang berarti 'surat' atau 'tulisan'. Sehingga ini berarti kain yang telah dipenuhi surat atau tulisan berciri kaligrafi. Foto pengrajin batik besurek di Kampung Betungan, Bengkulu.
"Tadinya sendiri-sendiri. Produksi di rumah masing-masing. Lama-lama kami sadar supaya lebih maju kami harus berkelompok. Kami sepakat membentuk home industri bersama dengan nama Kampung Batik Betungan. Selain kaligrafi, kami menggunakan motif bambu betung, sesuai dengan nama daerah, Betungan," ungkap Mega yang menjadi ketua kelompok pengrajin di Kampung Batik Betungan.
Ia menjelaskan harga per lembar untuk ukuran satu buah baju berbahan katun yaitu sebesar Rp150 ribu. Jika terbuat dari sutra, harga baju itu bisa mencapai Rp1,4 juta. "Keuntungan yang dihasilkan ada, lumayan untuk membantu belanja dapur ibu-ibu," imbuhnya.
Digempur batik printing dan keterbatasan pembatik terampil
Namun menurut Mega, kesulitan bersaing dengan tekstil motif batik printing atau cetak menjadi masalah yang kini dihadapi kelompok Kampung Batik Betungan. Kain motif batik hasil cetak yang datang dari Jawa harganya lebih murah yakni sekitar Rp35 ribu per meter.
"Kami tidak bisa bersaing. Dari dulu kami sudah membuat batik tulis. Produksinya tidak bisa cepat, bisa memakan waktu hingga satu minggu untuk menyelesaikan satu lembar kain batik besurek. Skill kami juga terbatas, belum pada pembatik tingkat mahir," keluhnya.
Hal serupa disampaikan Dony Roesmandani. Pengrajin batik kain besurek dengan merek Dony Collection ini mengakui popularitas batik besurek tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan pengrajin batik tulis. Saat ini, pasar Bengkulu lebih didominasi penjual kain tekstil bermotif besurek. Gempuran batik printing, sablon, dan batik cap yang diproduksi di Pulau Jawa sejak tahun 2000-an, membuatnya terpaksa merumahkan karyawan. Pembeli batik besurek tulis pun sepi.
"Dulu sempat punya karyawan hingga 23 orang. Sekarang hanya 2 orang saja. Itu pun tidak membatik setiap hari di sini. Dikerjakan di rumah, jadi bisa menghemat ongkos pekerja. Ya, gempuran sedikit-dikit, akhirnya batik meteran berjaya, pengrajin menderita," ungkapnya.
Harga batik kain besurek yang dijual Dony juga lebih mahal daripada tekstil cetak bermotif batik besurek. Satu lembar kain batik tulis bahan katun biasa dijual Rp750 ribu hingga Rp1 juta, sedangkan sutra dijual Rp2,5 juta.
"Tergantung dengan tingkat kerumitan motif dan lama pengerjaan. Semakin rumit motif, semakin banyak warna yang digunakan otomatis membutuhkan waktu produksi yang lebih lama. Tentunya harganya menjadi lebih mahal, karena ini menyangkut karya seni,” ungkap Dony.
Karena terbatasnya pasar batik kain besurek tulis, Dony hanya memproduksi maksimal 5 lembar setiap bulan. "Itu pun dengan motif yang tidak begitu rumit dan belum tentu langsung habis. Tapi tetap
limited edition karena motifnya saya sendiri yang menggambar," katanya singkat.
Keterbatasan sumber daya juga menjadi permasalahan lain bagi pengrajin batik tulis di Bengkulu. Untuk beberapa batik tulis yang sudah highclass, Dony juga terpaksa meminta bantuan dari pengrajin batik tulis di Jawa. "Untuk beberapa batik yang rumit prosesnya, harus pewarnaan berulang-ulang dan tingkat tinggi, saya minta tolong ke Jawa. Di Bengkulu belum ada yang bisa," lanjutnya.
Produksi di Bengkulu lebih mahal dibandingkan Jawa
Sedikit berbeda dengan Atika Sumarwani yang lebih dikenal dengan Atik Opet. Ia mulai melanjutkan usaha batik keluarganya yang sudah dibangun sejak tahun 1999. Mulanya Atik Opet memproduksi batik tulis di Bengkulu. Namun untuk menghemat biaya produksi, ia memutuskan untuk membuka pabrik batik kain besurek di Solo, Jawa Tengah.
Atika Sumarwani, salah seorang pengrajin dan penjual batik besurek di Bengkulu
“Selisih marginnya 2 kali lipat jika dibuat disini. Ongkos tenaga kerjanya lebih mahal di Bengkulu, serta bahan baku yang memang masih harus didatangkan dari Jawa. Disini juga masih sulit menemukan pengrajin batik yang pekerjaannya benar-benar halus,” kata Atik.
Meski punya pabrik di Solo, Atik memastikan batik kain besurek tidak boleh dijual di kota itu. "Di sana batik besurek tidak boleh dijual, harus di Bengkulu," katanya.
Setiap bulan Atik menghabiskan 5.000 meter kain untuk di batik dengan motif khusus yang langsung dibuat Atik. Harga jualnya bervariasi per lembar Rp850 ribu hingga Rp2,5 juta untuk batik tulis. Sedangkan batik cap per meternya dihargai Rp60 ribu hingga Rp150 ribu.
"Untuk penjualan kami sudah menjual hingga ke Bali. Di sana warna-warna terang sangat diminati. Namun semenjak pandemi pembelian sepi, akibat turis yang datang juga sepi," kata Atik.
Dilema warisan tradisi dan kebutuhan kain murah
Tidak diketahui pasti sejak kapan batik besurek ada di Bengkulu. Ada yang memperkirakan batik besurek sudah ada sejak abad ke-16, ketika Islam masuk ke Indonesia. Namun ada pula yang mengkaitkannya dengan Pangeran Sentot Alibasyah saat ia diasingkan ke Bengkulu, kata Agus Setiyanto, sejarawan sekaligus budayawan Bengkulu kepada DW Indonesia.
Agus menyayangkan kondisi pasar batik kain besurek tulis saat ini yang semakin tergerus. Pasar didominasi batik printing, sablon, dan cetak hadir dalam jumlah yang banyak dan cepat. Ini dinilai lebih efisien menjawab kebutuhan pasar akan kain berharga murah. Menurutnya, pemerintah harus mengantisipasi agar batik kain besurek tulis warisan budaya yang khas tidak hilang dan terjaga keasliannya.
"Batik besurek dapat dipatenkan sebagai produk Bengkulu, namun untuk motif tidak dapat, karena tergantung masing-masing orang. Siapa yang menemukan motif itu bisa patenkan. Motifnya bisa berkembang. Produk budaya itu sifatnya bebas,” kata Agus Setiyanto.
Ketika sudah berkaitan dengan bisnis, siapa pun yang tidak dapat mengembangkan diri akan tergilas zaman, kata Agus. Sehingga tidak heran bila batik besurek banyak dibuat di luar Bengkulu sebagai imbas pasokan bahan baku yang lengkap dan biaya produksi yang lebih hemat. Ia pun berharap pemerintah dapat membuat kebijakan seperti menciptakan lapangan kerja bagi pembatik di Bengkulu.
"Bengkulu sayangnya tidak ada pabrik, inilah ketertinggalan Bengkulu, tidak ada kualitas-kualitas untuk bisnis yang bisa mengembangkan home industri ungkapnya.(ae/dw.com/bh/sya)