Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Kriminal    
 
Hukuman Mati
Pengedar dan Pecandu Narkoba Harus Dihukum Mati
Wednesday 25 Jan 2012 01:25:42

Ilustrasi (Foto: Ist)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Pengedar dan pecandu narkoba layak untuk mendapat hukuman mati. Pasalnya, perbuatan mereka membahayakan kelangsungan generasi muda serta nyawa orang lain. Hal itu bias dilihat dari aksi sopir Xenia maut yang menyebabkan sembilan orang tewas dan empat luka berat.

Pernyataan kerasa ini disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj dalam rilisnya yang diterima wartawan di Jakarta, Selasa (24/1). Sudah sangat jelas bahwa narkoba adalah sesuatu yang bisa merusak tatanan hidup bangsa dan negara. Kasus kecelakaan di Tugu Tani, Minggu (22/1) llau, merupakan bukti nyata akibat pengaruh dari perdaran dan penggunaan barang haram tersebut.

Menurut dia, dalam kitab suci agama, sudah sangat jelas menyebutkan bahwa pengguna narkoba sudah pada tahap kecanduan layak mendapatkan hukuman mati. Hukuman lain yang juga layak diberikan kepada pecandu narkoba adalah dipotong kedua tangan dan kakinya, serta dimusnahkan dari muka bumi. "Namun, Indonesia adalah negara hokum. Pemberian hukuman harus melalui proses hukum terlebih dahulu," jelasnya.

Dia mengungkapkan, kinerja jajaran penegak hokum dalam upaya memberantas peredaran narkoba harus lebih ditingkatkan lagi, karena kualitas yang kurang maksimal. Tapi yang lebih pentng adalah tindakan tegas bagi pengedar dan penggunan yang harus dihukum lebih keras. “Indonesia bis amencontoh dari Malaysia. Hukuman yang begitu berat membuat pengedar dan pengguna narkoba berpikir berjuta kali di sana, karena takut dihukum mati,” imbuhnya.

Dalam kesmepatan terpisah, Dirserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Nugroho Aji menyatakan bahwa sopir maut Apriyani Susanti dan ketiga rekannya telah mengakui menggunakan narkoba. Mereka mengaku menyesal menggunakan narkoba, karena akibat mengonsumsinya telah menewaskan sembilan orang dan melukai empat orang.

"Mereka menyesal kenapa mereka mengonsumsi. Kecewa terhadap diri sendiri ada, menyesal ada. Keterangan mereka baik. Sedangkan kondisi tersangka Apriyani dalam kondisi baik dan tidak mengalami masalah yang berarti. Kami sedang mengembangkan asal narkoba yang dikonsumsi mereka, tapi memang sebelumnya mereka berbelit-belit dan tak mau mengakui menggunakan narkoba,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, mobil Daihatsu Xenia warna hitam bernopol B 2479 XI yang dikemudikan Apriyani Susanti (29),menabrak 12 orang pejalan di kawasan Tugu Tani, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (22/1) pukul 11.10 WIB. Sembilan orang tewas, dan empat lainnya luka berat. Apriyani jerat dengan pasal berlapis, yakni pasal 127 UU Nomor 35/2009 tentang Narkoba jo pasal 310 ayat (4) jo pasal 283 jo pasal 288 UU Nomor 22/2009 tentang Lalu-Lintas.

Sedangkan tiga rekan Apriyani, yakni Arisendi (34), Denny Mulyana (30), dan Adistina Putri Grani (25) berstatus sebagai saksi dalam kasus kecelakaan itu. Namun, mereka ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus penggunaan narkoba. Mereka telah mengakui menggunakan narkoba dan minum minuman keras, sebelum peristiwa itu.(dbs/wmr/irw)


 
Berita Terkait Hukuman Mati
 
• Predator 13 Santriwati Lolos Hukuman Mati. Kajati Jabar: Kami Pikir-pikir
 
• Sindikat Narkotika di Rawa Kalong, Gunung Sindur Bogor Dituntut Hukuman Mati
 
• AMPAD Mendukung Penuh Jaksa Agung Hukum Mati Koruptor
 
• DPR Pertanyakan Dasar Pemohon Soal Korupsi Saat Bencana Alam
 
• Amnesty International Indonesia Yakin Moratorium Hukuman Mati Dapat Terwujud
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pergantian Kapolri, Suyudi Ario Seto Resmi Pimpin Korps Bhayangkara Gantikan Listyo Sigit Prabowo
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
• Temuan Ombudsman, Lapas Cibinong Diduga Kelola Hunian Napi ala Villa Mewah
• Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]