Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Opini Hukum    
 
Pemimpin
Pemimpin Sejati Itu Memaafkan
2020-08-04 21:30:25

H. Tony Rosyid.(Foto: Istimewa)
Oleh: H. Tony Rosyid

DALAM KELUARGA, ayah adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Sekaligus menjadi suami yang baik bagi istri, atau istri-istrinya.

Jangan tanya soal kasih sayang. Seluruh usaha sang ayah didedikasikan untuk masa depan anak-anaknya. Semua kerja kerasnya dimotivasi oleh semangat agar anak-anak itu kelak jadi orang-orang yang sukses.

Dalam keluarga, anak punya dunia dan karakternya masing-masing. Ada yang nurut, bengal, bahkan tak sedikit yang menyusahkan. Apakah sang ayah marah? Tidak. Kasih sayang sang ayah tak pernah berkurang, apalagi luntur oleh kebengalan sang anak.

Sedang sujud dalam shalat, anak naik ke punggung. Ayah bersabar, dan tak pernah punya niat untuk membanting tubuh sang anak. Sedang baca buku atau menulis, sang anak masuk kamar dan bawa mobil-mobilan. Tarik-tarik baju dan ajak sang ayah untuk bermain. Sang ayah marah? Tidak. Sedang kecapean, anak-anak minta ditemani ke mall. Abaikan rasa capek, ambil kunci mobil, lalu antar anak-anaknya ke mall. Sekedar menemani makan atau beli baju.

Setidaknya, ini pengalaman saya pribadi. Saya yakin semua ayah mengalami hal yang sama. Dan mereka semua bersabar. Kenapa? Karena mereka punya cinta.

Inilah gambaran seorang pemimpin sejati. Sabar, memahami dan memaafkan. Jika anda gak sanggup mengerti dan memaafkan anak-anak anda, janganlah jadi ayah. Kasihan mereka. Akan menjadi korban atas egoisme anda.

Keluarga adalah kelompok sosial paling sederhana. Dan ayah merepresentasikan seorang pemimpin dalam kelompok sosial tersebut. Jujur, tampil bersahaja, sabar dan tetap merangkul anak-anak dengan rengkuhan penuh cinta dan kasih sayang.

Leadership seorang ayah mesti menjadi contoh bagi semua pemimpin. Terutama mereka yang diberi amanah memimpin rakyat. Cinta dan kasih sayang mesti menjadi semangat dalam memimpin. Tanpa cinta dan kasih sayang, seorang pemimpin sulit untuk bersabar, bisa memahami dan mampu memaafkan rakyatnya. Bagaimana seorang pemimpin bisa memahami dan memaafkan rakyatnya jika tak ada cinta dan kasih sayang di hatinya.

Jika ada pemimpin yang suka mengancam, melakukan intimidasi, apalagi menipu rakyatnya, dia pasti bukan seorang pemimpin yang baik. Ibarat keluarga, dia bukan ayah yang baik. Dia tidak memenuhi syarat leadership yang dibutuhkan. Pemimpin seperti ini hanya akan menciptakan kegaduhan dan ketidaknyamanan dalam keluarga. Apakah keluarga itu bernama ormas atau bangsa.

Apa yang dilakukan Anies Baswedan, Gubernur DKI, terhadap Ike Muti baru-baru ini, yang menebar fitnah bahwa ia tak dapat project dari DKI hanya karena mendukung Jokowi, patut dijadikan contoh. Anies tak marah meski difitnah. Ia memaafkan sebelum Ike Muti meminta maaf.

Ada banyak Ike Muti-Ike Muti lainnya. Mereka adalah anak-anak Anies dalam keluarga yang bernama DKI. Dengan segala keunikan masing-masing, anak-anak dalam keluarga DKI itu harus tetap dirangkul dalam dekapan kasih sayang seorang ayah.

Demo belasan orang berjilid-jilid di depan kantor balaikota DKI, tak juga membuat Anies gusar dan marah. Karena mereka adalah anak-anak seperti Ike Muti. Bagian dari keluarga besar DKI. Meski Anies tahu siapa di belakang para pendemo itu. Ada kepentingan korporasi yang seringkali ikut bermain-main. Anies anggap anak-anak itu sedang salah pergaulan. Tak perlu dibentak, apalagi dimaki. Sebab, anak-anak itu hanya butuh senyum, perhatian dan kelembutan dari sang ayah.

Di luar arena demo, Anies pun tetap menyapa, ngobrol dan bercanda dengan sejumlah tokoh yang rajin demo itu. Sambil berbisik: "Jangan salah gaul nak ya..."

Kenapa semua ini bisa dilakukan? Karena ada cinta dan kasih sayang di hati seorang ayah kepada anak-anaknya. Seorang pemimpin sejati modal utamanya harus punya kasih sayang kepada rakyatnya. Dengan kasih sayang, seorang pemimpin bisa memaafkan, bukan mengancam. Tidak sibuk dan habiskan waktu untuk melaporkan rakyat yang mengkritik dan berseberangan politik dengannya.

Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.(tr/bh/sya)



 
Berita Terkait Pemimpin
 
Belajar Sistem Perwakilan dan Musyawarah dari Muhammadiyah dalam Memilih Pemimpin
 
Efektif, Resonan, Berpengaruh
 
Pemimpin Sejati Itu Memaafkan
 
Din Syamsuddin Ungkap 3 Syarat Pemakzulan Pemimpin
 
Bamsoet: Perlu Edukasi Politik agar Rakyat Tidak Salah Pilih Pemimpin
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah
Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit
Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional
Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]