Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Perdata    
 
Kasus PT Blue Bird Taxi
Pemilik Saham Digugat, Mintarsih: Terlalu Banyak Rekayasa
Wednesday 29 Jan 2014 20:52:30

Mintarsih A. Latief.(Foto: BH/mdb)
JAKARTA, Berita HUKUM - Sidang gugatan PT Blue Bird terhadap Mintarsih A. Latief selaku mantan Direktur PT Blue Bird Taxi berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Suprapto tersebut menghadirkan 4 saksi dari penggugat, yaitu Iriana Nova Dewi, karyawan PT Blue Bird, M Choirudin, Hartono dan Sarinah.

Sebelumnya kehadiran saksi Iriana Nova Dewi, sebagai saksi diprotes tim kuasa hukum Tergugat bernama Ratna Dewi, karena menurut Ratna Dewi, Iriana adalah sekretaris Purnomo yang merupakan pihak berperkara ini. Tapi tim kuasa hukum Penggugat Hotman Paris berkukuh saksi harus dihadirkan selaku karyawan, dan majelis hakim melanjutkan jalannya sidang.

Saksi Iriana membenarkan bahwa dia adalah sekretaris di PT Blue Bird Taxi sebelum pindah ke PT Blue Bird. Iriana mengaku sebagai sekretaris PT Blue Bird Taxi dari tahun 1992 hingga 2008.

"Mintarsih adalah direktur di PT Blue Bird Taxi dan dapat gaji tiap bulan, jarang datang ke kantor. Mintarsih pernah meminta agar diperlihatkan deposito perusahaan yang tersimpan didalam meja brangkas," kata Iriana dalam persidangan, Rabu (29/1) di ruang sidang PN Jaksel, jalan Ampera Raya, nomor 133 Jaksel.

Namun saksi Iriana mengungkapkan tidak memberikan, karena perintah dari Purnomo. "Karena pesan pak Purnomo begitu, dan Chandra selaku komisaris, Purnomo sebagai Direktur," imbuhnya.

Iriana menjelaskan bahwa Mintarsih minta pengembalian saham. Permintaan itu dari penjelasan Purnomo dalam artian saksi Iriana tidak mendengar langsung. Dan awal tahun 2013 Mintarsih diganti selaku Direktur.

"PT Blue Bird sendiri didirikan oleh Purnomo dan Chandra, setelah ibu Joko yaitu orang tua dari Purnomo, Chandra dan Mintarsih, tanpa mengikutkan Mintarsih," ucap Iriana.

Pada tahun 2008 - 2014 Iriana beralih sebagai karyawan di PT Blue Bird tanpa lamaran kerja/perpindahan. Iriana juga membenarkan PT Blue Bird yang didirikan oleh Purnomo dan Chandra, sekantor atau masih satu atap dengan PT Blue Bird Taxi, namun tidak semua pull PT Blue Bird Taxi tidak digunakan PT Blue Bird.

Sementara itu usai persidangan, Mintarsih menjelaskan ada beberapa yang tidak konsisten dalam persidangan tersebut.

"Ada beberapa yang tidak konsisten, seperti dari tindak pidana yang dilaporkan, kan sudah dilaporkan ke polisi tapi tidak dilanjutkan. Saya pun pernah dituduh mau membunuh 300 orang dan sudah dilaporkan, terlalu sering banyak rekayasa," ujar Mintarsih.

Mintarsih mengungkapkan keanehan yang disengaja untuk memojokkan dirinya. "Ini aneh, saya sebagai pemegang saham tapi tak bisa masuk gedung. Juga ada keputusan tapi tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Saya ingin melihat berapa jumlah deposito saja tidak boleh," terang Mintarsih.

"Sekarang yg menjadi saksi itu adalah anak buahnya Purnomo semua," imbuhnya.(bhc/mdb)


 
Berita Terkait Kasus PT Blue Bird Taxi
 
Diungkap Mintarsih Abdul Latief: Banyak Perusahaan Didirikan Purnomo Prawiro Sudah Bangkrut!
 
Psikiater Mintarsih Terus Perjuangkan Hak Sahamnya di Blue Bird Hingga ke DPR
 
Rustam: Aneh, Mintarsih Latief Diminta Kembalikan Gaji Dll... Capai Rp 140 Miliar
 
Kasus Purnomo Prawiro Dkk Bawa Nama Besar Blue Bird, Bagaimana Nasib Investor Lain?
 
Kasus Dugaan Penggelapan Saham di PT Blue Bird Taxi, Prof Hibnu Guru Besar Hukum Pidana Angkat Bicara
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Korupsi BGN, Kejagung tolak permohonan justice collaborator Sony Sanjaya
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]