Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Proxy War
Panglima TNI: Proxy War Bisa Hancurkan Negara Tanpa Peluru
2017-11-25 06:15:20

MALALANG, Berita HUKUM - Proxy War merupakan salah satu perang yang menggunakan pihak ketiga atau kelompok lain untuk menghancurkan suatu negara tanpa menggunakan peluru (kekuatan militer), melalui berbagai aspek, baik ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya. Cukup dengan mengadu domba antar kelompok warga negara dapat membuat negara tersebut terpecah belah.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pada acara Dialog Proxy War Ketahanan Informasi Nasional dihadapan 3.545 Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, dengan tema 'Mewujudkan Indonesia sebagai Bangsa Pemenang Dalam Kompetisi Global' bertempat di Gedung Sport Center UIN, Jl. Gajayana No. 5, Malang, Jawa Timur, Jumat (24/11).

Melihat perkembangan penggunaan telepon seluler, internet dan media sosial yang sangat luar biasa, kalau tidak waspada Indonesia sangat rawan menjadi kancah Proxy
War. Proxy War dapat dilakukan dengan menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial. "Sebenarnya apabila semua anak bangsa ini sadar dan bersatu melawan hoax maka moral karakter mental Indonesia akan lebih hebat," ucapnya.

Sebenarnya tidak terlalu sulit dan cukup simpel untuk membendung Proxy War di tanah air yaitu jangan menyebarkan informasi yang menimbulkan kemarahan. "Kalau ada berita negatif yang berpotensi menyebabkan ketersinggungan dan mengadu domba dan tidak jelas sumbernya di-delete saja," ujarnya.

Dihadapan ribuan mahasiswa UIN Malang, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo juga menyampaikan bahwa membangun media sosial yang positif sangat diperlukan dalam menghadapi bonus demografi dan lapangan kerja termasuk pertumbuhan ekonomi.

Pada kesempatan itu Panglima TNI memberikan motivasi dan bangga menjadi mahasiswa UIN karena UIN merupakan tempat untuk mendidik calon-calon penerus bangsa yang paham dengan rasa aman, karena mahasiswanya dapat berpikiran secara logis dan dalam bertindak selalu dengan mengedepankan akhlak.

"Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim berperan strategis untuk melahirkan kader-kader bangsa yang memiliki kedalaman spritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan profesional, mengamalkan hidup berdasarkan ajaran Islam dan nilai-nilai luhur bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dan maju serta terkemuka," jelasnya.

Pada kesempatan itu Panglima mengingatkan mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim agar jangan mudah puas, teruslah belajar, pelajari ilmu sebanyak-banyaknya. "Yang paling penting adalah lakukan semua dengan hati, do by hard serta selalulah berdoa kepada Tuhan untuk keberhasilan semua usaha," ingatnya.

Dalam kesempatan tersebut Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo juga menuturkan bahwa negara yang kalah dalam kompetisi global akan menjadi negara multi krisis dan berimbas pada krisis sosial, migrasi perpindahan manusia antar negara untuk mencari penghidupan yang lebih baik. "Konflik antar negara di seluruh dunia saat ini sejatinya dilatarbelakangi oleh perebutan energi dan pangan. Kedepan, konflik di dunia akan bergeser ke daerah ekuator salah satunya Indonesia," ujarnya.

Mengakhiri acara dialognya, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengingatkan kembali bahwa Pancasila adalah pemersatu bagi bangsa Indonesia yang Berbhineka Tunggal Ika, karena Pancasila diambil dari intisari nilai-nilai luhur bangsa, budaya daerah, kearifan lokal, budi pekerti dan juga nilai-nilai agama. "Ideologi Negara Pancasila sudah final dan tidak boleh siapapun juga merubahnya, jika ada yang ingin merubahnya jangan percaya dan diikuti, itu penghianat bangsa," tegasnya.(TNI/bh/sya)


 
Berita Terkait Proxy War
 
• Cengkraman Proxy War Selimuti Konfigurasi Pilres 2019
 
• Ancaman Nyata Ke Depan Bersifat Asimetris, Proxy dan Hibrida
 
• Panglima TNI: Proxy War Bisa Hancurkan Negara Tanpa Peluru
 
• Panglima TNI Ajak Seluruh Anak Bangsa Berjuang Demi NKRI
 
• Panglima TNI Ajak Komponen Bangsa Doa Bersama untuk Nusantara Bersatu
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pergantian Kapolri, Suyudi Ario Seto Resmi Pimpin Korps Bhayangkara Gantikan Listyo Sigit Prabowo
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
• Temuan Ombudsman, Lapas Cibinong Diduga Kelola Hunian Napi ala Villa Mewah
• Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]