JAKARTA, Berita HUKUM – Pertemuan Ilmiah Tahunan Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (PIT HATTI) dengan tema Geotechnical Challenges in Present and Coming Nationwide Construction Activities” berlangsung di ruang Sumba A-B Hotel Borobudur Jakarta. Dr Ir Djoko Muljanto dari Dirjen Bina Marga DPU RI hadir membawakan materi tentang; Tantangan Geoteknik dalam Pengembangan Infrastruktur Jalan di Indonesia, Selasa (4/12).
Terlihat beberapa stand yang menghadirkan karya anak bangsa, turut memeriahkan kegiatan “One-Day Workshop on Ground Improvement for Infrastructure”. Anna Brigita selaku pemandu acara mengatakan bahwa kegiatan ini adalah acara tahunan, dan telah dibuka jam 9 pagi tadi oleh Deputi Kementerian Riset dan Teknologi, dan besok Rabu (5/12), masih ada 1 sesi lagi acara.”Untuk hari ini selesainya jam 6 sore,” ujarnya.
Salah satu stand yang menampilkan karya anak bangsa adalah stand Konstruksi Sarang Laba-Laba. “Konstruksi ini ditemukan pada tahun 1976 oleh Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto,” kata Budi Suryanto. Dijelaskannya pada tanggal 26 Desember 2004 pukul 00:58:53 GMT atau waktu 06:58:53 WIB terjadi gempa berkekuatan dahsyat di Samudra Hindia, dimana lokasi episentrum gempa adalah sekitar 160 kilometer barat Sumatera, di sebelah utara pulau Simeulue Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, hingga begitu banyak rumah dan gedung runtuh, terdapat 32 gedung masih berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik karena menggunakan teknologi konstruksi ramah gempa atau yang biasa disebut Konstruksi Sarang Laba-Laba.
“Saat gempa di Padang hingga terdapat bangunan-bangunan yang runtuh, ada gedung-gedung yang masih kokoh berdiri, seperti gedung DPRD Padang, karena menggunakan Konstruksi Sarang Laba-Laba. Bangunan mengikuti arah gempa,” ujar Budi. Karya anak bangsa ini terbukti kokoh dan menyelamatkan jiwa manusia, serta teruji kembali pada beberapa gempa di Bengkulu, Padang, Palu, Manado dan Manokwari.(bhc/mdb)
|