Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Lingkungan    
 
Limbah
Limbah Beracun Ancam Ratusan Juta Orang
Tuesday 05 Nov 2013 18:13:06

Penggunaan merkuri di tambang emas di Kalimantan berbahaya bagi kesehatan.
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Polusi limbah beracun mengancam ratusan juta orang di seluruh dunia, termasuk di Afrika dan juga di Indonesia. "Kami memperkirakan kesehatan 200 juta orang berisiko terkena polisi di negara berkembang," kata Richard Fuller, pengamat lingkungan dari Blacksmith Institute yang berkantor pusat di AS .

Institut tersebut dan Green Cross Switzerland mempublikasikan 10 daftar "tempat yang paling buruk polusinya di dunia"- sejak 2007 - dengan menghitung lebih dari 2.000 perkiraan risiko di lokasi yang terkontaminasi di 49 negara.

Wilayah lain yang juga masuk dalam daftar 2013 termasuk Cekungan Sungai Citarum di Jawa Barat, sebuah wilayah yang dihuni oleh sembilan juta orang, dan juga 2.000 pabrik.

Sungai, yang digunakan untuk kebutuhan manusia dan irigasi lahan pertanian, mengandung racun yang sangat besar, termasuk alumunium dan magnesium.

Tes yang dilakukan terhadap air minum menunjukan kadar timah mencapai tingkat 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan standar yang ditetapkan di AS, seperti disebutkan dalam laporan.

Selain Citarum, wilayah lain di Indonesia yaitu Kalimantan juga masuk dalam daftar tersebut karena penyebaran limbah merkuri di pertambangan emas skala kecil.

Tahun ini, negara lain yang masuk dalam daftar adalah Bangladesh, yang disebutkan sungai terbesar di ibukota Dhaka tercemar sampah beracun.

Sampah Elektronik

Afrika Barat merupakan wilayah kedua terbesar pengembangan sampah elektronik, di Agbogbloshie ibukota Ghana, Accra.

Setiap tahun, Ghana mengimpor sekitar 215.000 ton barang-barang elektronik bekas, terutama dari Eropa Barat, dan diperkirakan akan bertambah dua kali lipat pada 2020, menurut laporan tersebut.

Laporan organisasi lingkungan juga menyebutkan masalah kesehatan yang menjadi perhatian adalah kaitan pemrosesan sampah elektronik di Ghana adalah membakar penutup kabel untuk memulihkan bagian tembaga di dalamnya. Kabel-kabel tersebut bisa jadi mengandung logam berat, termasuk timah.

Contoh tanah dari sekitar Agbogbloshie menunjukan tingkat konsentrasi logam beracun mencapai 45 kali dari level yang dapat diterima, seperti dikatakan dalam laporan.

"Sampah elektronik akan menjadi tantangan. Pertumbuhanya meningkat. Setiap orang ingin komputer, laptop, dan peralatan elektronik modern, jadi saya pikir kita seperti melihat gunung es," kata direktur penelitian Blacksmith, Jack Caravanos kepada reporter seperti diberitakan AFP.(afp/bbc/bhc/sya)


 
Berita Terkait Limbah
 
Warga Keluhkan Dampak Lingkungan dari Produksi Kikil di Cisalak Pasar Kota Depok
 
Tindak Tegas Pelaku Pembuang Limbah di Perairan Lampung
 
PDAM Buang Limbah di Sungai Manggis, DLH Siap Turunkan Tim ke Lapangan
 
PDAM Samarinda Mengakui Membuang Limbah di Sungai Manggis
 
PT EMP Malacca Strait Diminta Tepat Janji Soal Bayar Jasa Pengangkutan Limbah
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Untitled Document

  Berita Utama >
   
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]