Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Nusantara    
 
Buku
Launching Buku 'Zaman Perang' Hendi Jo Mendapatkan Apresiasi dari Berbagai Kalangan
Saturday 30 May 2015 09:27:40

Diskusi dan Launching buku 'Zaman Perang' di Gedung Joeang Proklamasi, Juma't (28/5).(Foto: BH/bar)
JAKARTA, Berita HUKUM - Bermodalkan 'passion' atau gairah terhadap sejarah dan keberpihakannya terhadap orang-orang kecil, Hendi Jo menelusuri serpihan kisah-kisah tragedi Takokak hingga Populisme sejarah menjadi sebuah buku kumpulan kisah perang yang menarik, mulai era kolonial hingga era perang kemerdekaan.

"Peristiwa yang tidak menjadi fokus utama dan nyaris tidak disinggung dalam sejarah, sejatinya justru adalah sesuatu yang penting, mengapa? Karena dari hal-hal kecil itulah kita bisa mengenali bagaimana kebesaran sejarah menampakan dirinya yang sejati, berikut baik dan buruknya, dijalankan oleh manusia biasa, bukan oleh manusia yang dianggap super atau titisan dewa," kata Hendi Jo saat diskusi bertajuk judul Peluncuran buku 'Zaman Perang' di Gedung Joang Menteng, Jakarta, Juma't (28/5).

Menariknya dalam buku Zaman Perang ini, lanjutnya, dikisahkan betapa arogannya kaum imperialis yang mengangap warga bumiputera sebagai ras bodoh yang tidak bermutu. Anggapan ini kemudian terbantahkan ketika orang-orang yang disebut Vuile Inlander (Pribumi tolol) ternyata sanggup membajak De Zeven Provincien, kepala perang paling modern di zamannya yang menjadi kebanggaan Koninklijke Marine (Angkatan laut kerajaan Belanda).

Selain kisah-kisah sejarah yang Membuat rasa nasionalisme kita membuncah itu, ada juga diceritakan hal-hal baru dari masa lalu yang belum diangkat. "Misalnya fakta baru tentang tragedi pembantaian orang Indonesia disebuah wilayah Cianjur yang bernama Takokak oleh militer Belanda pada 1948," jelasnya.

Namun, tragedi kemanusian itu kini hanya menyisahkan tiga saksi hidup yang suaranya masih terdengar sayup-sayup, karena tidak ada perhatian dari masyarakat dari pemerintah Indonesia

"Seharusnya di Takokak ini menjadi semacam pelajaran berharga bagi anak-anak muda hari ini bahwa, perjuangan untuk mencapai situasi seperti sekarang sungguh sangat tidak mudah. Ketidaktahuan kita hari ini terhadap segala hal yang terkait dengan sejarah kita merupakan bukti bahwa, kita belum menjadi bangsa yang besar seperti apa yang diharapkan oleh bung Karno. kita hanya bangsa yang memiliki jumlah yang besar dengan kepedulian yang kecil terhadap jasa-jasa para pendahulunya," ujarnya

Gaya bertutur Hendy Jo dalam buku ini juga menarik sejumlah kalangan, termasuk tokoh kondang sejarahwan Dr. Anhar Gongong yang menanggapinya. "Dalam buku ini, sejarah Indonesia tampil begitu renyah, tanpa harus terbebani dengan tahun dan nama tempat," ujar Anhar

Tidak hanya itu, pengamat pendidikan, Henny Supolo juga ikut mengapresiasikan buku ini. "Saya menyukai kisah-kisah dalam buku ini, karena begitu mudah dicerna dan cepat menempel dalam benak kita sebagai pembaca. Cocok untuk menjadi materi Workshop bagi para guru sejarah," papar Henny Supolo.

Sementara, salah satu tokoh anak muda, yang juga musisi Budi Doremi, sangat mengapresiasikan buku 'Zaman Perang ini'. "Membaca buku ini membuat saya sangat terharu, betapa keras kepalanya para pendahulu kita berjuang untuk kemerdekaan kita hari ini," ungkapi Budi.

Dari berbagai kalangan meng-apresiasikan buku ini, mengharapkan terbitnya buku ini bisa menjadi momentum bagi semua penulis sejarah Indonesia, untuk kembali memperkenalkan masa lalu negeri ini menjadi sesuatu yang menarik dan populis, terutama bagi kalangan anak mudanya.(bh/bar).


 
Berita Terkait Buku
 
Ahmad Basarah Nilai Buku 'Catatan Merah' Karya Guntur Soekarno Penting Dibaca Generasi Milenial
 
Fahri Hamzah Luncurkan Buku 'Arah Baru Kebijakan Kesejahteraan Indonesia'
 
Kata-Kata Harus jadi Instrumen Politisi
 
Fadli Zon Luncurkan Buku 'Strengthening The Indonesian Parliamentary Diplomacy'
 
Ma'rufnomics: Pemikiran KH Ma'ruf Amin tentang Ekonomi Baru Indonesia
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah
Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit
Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional
Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]