Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Kasus Tanah
LAKI-P dan MJKS Desak KPK Usut Kasus Tukar Guling Lahan Kawiley
Saturday 17 May 2014 02:26:15

Ketua Laki-P Stanley SH (Kiri) dan Ketua MJKS Tommy (Kanan) Saat Menjambangin KPK (Foto: BH/bar)
JAKARTA , Berita HUKUM - Kasus tukar guling lahan Kawiley Minut yang berbandrol sekitar Rp 2,7 Miliar, saat ini sedang ditangani penyidikannya, sementara ditinjau dari pihak Polda Sulawesi Utara dinilai ada kejanggalan. Kendati demikian kasus ini sudah masuk ke ranah Pengadilan. Namun banyak pihak menilai bahwa sejumlah oknum pejabat Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) yang diduga terlibat dan terseret dalam pasal 55 KUHP, tidak terjamah hukum.

Padahal, didalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sudah sangat jelas melihat soal keterlibatan para pejabat Pemprov Sulut, seyogyanya Laskar Anti Korupsi Indonesia-Pejuang (LAKI-P) Sulut dan Masyarakat Jaring Koruptor Sulut (MJKS), mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera mengambil alih kelanjutan penyidikan (DIK) kasus tersebut.

"Harusnya, semua yang menandatangani dalam proses tukar guling lahan itu diperiksa Polda Sulut, termasuk Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang (SHS), dan bila terbukti terlibat harus dijadikan tersangka. Mungkin saja Polda enggan melakukan hal itu. Makanya, kami telah membawa laporan resmi di KPK, sekaligus meminta agar kasus itu diambil alih oleh KPK demi menunjang penegakkan supremasi hukum di Sulut," tegas Ketua LAKI-P, Tommy Sumelung SH, bersamaan dengan Ketua MJKS, Stenly Towoliu di gedung KPK Jakarta, Jumat (16/5) usai menyerahkan laporan tambahan.

Dari pendapat keduanya juga mengatakan, kasus lahan Kawiley ini mirip dengan kasus Hambalang. Mengapa begitu? Banyak pihak yang terlibat. Mulai dari oknum pembeli, penjual, tim penafsir harga, hingga pejabat Pemprov Sulut diduga terlibat.

"Kami yakin, jika KPK mengambil alih, pasti kasus ini akan terang benderang," tandas keduanya, seraya menyebut dan akan membawa data kasus pengadaan kapal ceolacanth berbandrol Rp 4 miliar ke KPK pekan depan.(BH/bar)


 
Berita Terkait Kasus Tanah
 
Putusan Kasasi MA Inkracht, Obyek dapat di Eksekusi, Walau Ada Permohonan PK
 
Kompleksitas Hukum Kepemilikan Tanah di Kecamatan Medan Satria
 
Kata Pakar Hukum Agraria, Non Eksekutabel Sebelum Ingkrah
 
PT Damai Putra Group Tolak Eksekusi PN Bekasi, Langkah Tegas Melawan Ketidakadilan
 
Kuasa Hukum: Iwan Chandra Pemilik Resmi Surat Tanah 771 Persil 109 di Roa Malaka Tambora !
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
PDIP persilakan Jokowi keliling Indonesia: Tunjukkan ijazah asli!
4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua
KPK Tangkap 1.880 Pelaku Korupsi Selama 22 Tahun Berdiri
Gedung 13 Lantai RS Roemani Resmi Berdiri, Muhammadiyah Dobrak Mitos Angka Horor!
Prabowo sentil 'Hijau-Cokelat' jadi beking pelanggar hukum
Akademikus kritik narasi optimisme pemerintah: Jauh dari realitas, minim empati
Untitled Document

  Berita Utama >
   
4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua
Prabowo sentil 'Hijau-Cokelat' jadi beking pelanggar hukum
Pidato Presiden Tunjukkan Komitmen Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi
Aliansi PHPI Sorot Kinerja Polda Metro, Proses Hukum Kasus Pelecehan Seksual 3 Wanita Tak Kunjung Tuntas
Polri Amankan 321 WNA Operator Judi Online Scam Jaringan Internasional di Kawasan Hayam Wuruk
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]