Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Partai Demokrat
Konvensi Demokrat, Rizal Ramli: Selain Pramono Tokoh Lain Hanya Penghias Semata
Friday 26 Jul 2013 20:18:50

Diskusi Pemimpin Alternatif yang digelar LPI (Lembaga Pemilih Indonesia) di Cafe Galeri, Jakarta, Jumat (26/7).(Foto: BeritaHUKUM.com/riz)
JAKARTA, Berita HUKUM - Bagi Rizal Ramli para tokoh nasional yang digadangkan ikut konvensi calon Presiden (capres) Partai Demokrat, hanyalah sebagai pengembira saja. Pasalnya, selain sudah ada nama pemenang konvensi.

Mantan Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian ini menilai, konvensi tersebut adalah manuver politik SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) untuk meningkatkan eletabilitas Partai Demokrat.

Untuk itulah, dirinya menyatakan, keengganannya untuk turut serta dalam penjaringan Capres tersebut.

"Saya malas ikut-ikutan konvensi Partai Demokrat. Buat apa ikut konvensi yang cuma akal-akalan begitu," ujar Rizal saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk 'Capres Alternatif, Siapa dan Apa Kriterianya?', yang digelar oleh Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), di Galeri Cafe, Jakarta, Jumat (26/7).

Apalagi, Rizal melihat bahwa partai berlambang bintang mercy ini diambang kehancuran. "Jadi kalau mau ikut konvensi, ikut partai yang lebih besar lah, jangan seperti mereka. Bisa hancur juga nama kita nanti," kata Rizal.

Sebab kalo pun, partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini benar-benar menggelar konvensi, itu hanya bisa meningkat sedikit elektabilitas. Sementara disisi lain Partai Demokrat masih harus menghadapi ganjalan kasus dugaan korupsi yang menimpa sejumlah kader mereka.

Seperti mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum serta mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng yang sama-sama terjerat dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Sport Center di Hambalang, Bogor, Jawa Barat (Jabar).

"Sekarang ini kan Partai Demokrat elektabilitas-nya cuma tujuh persen. Nanti Anas Urbaningrum dan Andi Malarangeng disidang, anjlok lagi jadi lima persen. Konvensi itu minimal cuma meningkatkan sebesar tujuh persen. Jadi buat apa ikut mereka?" kata Rizal.

Terkait dengan sang pemenang konvensi, Rizal yakin betul yang akan keluar pastinya ipar SBY yakni, mantan Kasad Pramono Edhie Wibowo. "Tokoh lain itu cuma pemanis belaka," kata dia.

Sementara itu, Pakar politik M. Raudy Gathmyr malah berpendapat sebaliknya. Dimana, dirinya menilai bahwa Pramono Edhie Wibowo merupakan kandidat paling tepat.

"Pramono masih lebih layak, dibanding calon lainnya. Dia punya jaringan yang lebih luas dan berakar, bagaimanapun juga selain dapat keuntungan politis sebagai adik ipar presiden, Pramono adalah seorang pensiunan jenderal TNI AD," kata staf pengajar di President University ini.

Menurut Raudy masyarakat Indonesia lebih menyukai calon pemimpin dengan latar belakang militer, mengingat Pramono pernah menjadi ajudan mantan presiden, Megawati Soekarnoputri.

Selain nama Promono, ada tiga nama lain yang dipilih presiden. Yakni, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Ketua DPD Irman Gusman, dan Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal.

Selain itu, Demokrat juga memperkirakan dua kandidat lainnya, antara lain mantan menhukam Yusril Ihza Mahendra dan mantan panglima TNI Jenderal Purnawirawan Endriartono Sutarto.

Kendati demikian, keikutsertaan dua nama lain tersebut belum bisa dipastikan.

Konvensi calon presiden Partai Demokrat akan digelar pada 11 September 2013. Tahap lanjutan akan dilaksanakan pada bulan Januari sampai April 2014. Seleksi tahap pertama dilakukan oleh Komite Tujuh yang dibentuk oleh Majelis Tinggi Partai Demokrat.(ant/bhc/riz)


 
Berita Terkait Partai Demokrat
 
Mahkamah Agung RI Kabulkan PK Moeldoko Soal DPP Partai Demokrat, Sudah Tergister
 
Pernyataan SBY dan AHY Dipolisikan, Herman Khaeron: Si Pelapor Hanya Cari Panggung
 
Wakil Ketua MPR, Syarief Hasan: Fakta Big Data, Pembangunan Era Pres SBY Lebih Baik Dibanding Era Pres Jokowi
 
Alasan Partai Demokrat Kabupaten Klaten Desak Anggota DPRD HS Mundur
 
Sambut Rakernas PKS, AHY: Temanya Sejalan dengan Semangat Partai Demokrat
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah
Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit
Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional
Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]