Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Komite Etik KPK
Komite Etik KPK Jangan Bela Chandra
Saturday 10 Sep 2011 22:27:40

Wakil Ketua KPK Chandra Marta Hamzah (Foto: BeritaHUKUM.com/RIZ)
*Pihak Nazaruddin desak penonaktifan terhadap komisioner yang melanggar kode etik

JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Sikap Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengundang kecurigaan sebagian kalangan. Pasalnya, komite yang diketuai Abdullah Hehamahua lebih cenderung berperan sebagai pembela pimpinan lembaga itu, ketimbang memeriksa secara objektif dugaan pelanggaran kode etik.

“Komite tersebut lebih berperan sebagai pengacara dan juru bicara Chandra. Itu catatan penting bagi Abdullah (Hehamahua), agar komite etik jangan jadi juru bicara. Komite ini harus bisa bersikap tegas," kata anggota Komisi III DPR Trimedia Panjaitan di Jakarta, Sabtu (10/9).

Komite Etik pun, lanjut dia, tidak punya peran melarang Chandra untuk berbicara. Komite bertugas hanya untuk mencari tahu keterlibatan Chandra. Selain itu, komite etik jangan tergesa-gesa menyimpulkan hasil penyelidikan mereka sebelum masa tugas selesai atau proses penyelidikan rampung.

Selain itu, tambah Trimedia, kinerja komite etik sejauh ini tidak transparan. Harusnya komite membeberkan mulai pemeriksaan dan sejauh mana hasil yang akan direkomendasikan. Tapi belum saatnya membuat penilaian dan kesimpulan. Badan ini pun hanya tetap fokus pada pemeriksaan. "Fokus pada pemeriksaan. Jangan beri penilaian apalagi suruh Chandra tidak bicara," tandasnya.

Sementara itu, kuasa hukum M Nazaruddin, Afrian Bondjol merasa aneh dengan kebijakan pimpinan KPK yang melarang Chandra bicara kepada media, hingga komite etik merampungkan pemeriksaan. Pembungkaman Chandra adalah keputusan banci.

“Kami mendesak pimpinan KPK untuk menonaktifkan Chandra sebagai pimpinan KPK. Faktanya, Chandra telah melanggar kode etik KPK. Bahkan, dari lima kali pertemuan Nazaruddin, Chandra pernah menerima sejumlah uang pelicin atas proyek e-KTP dan pengadaan seragam hansip dari pengusaha bernama Andi. Pertemuan tersebut dilakukan di kediaman Nazaruddin,” kata Alfian.

Pihaknya pun meminta komite etik serius mengungkap berbagai pelanggaran yang dilakukan Chandra. Jika tidak dilakukan, Nazaruddin berjanji akan melakukan aksi bungkam kembali, karena diperlakukan diskriminatif. “Pernyataan Nazaruddin harus ditanggapi KPK. Komite Etik jangan hanya untuk membela Chandra saja," tandas dia.(mic/spr)


 
Berita Terkait Komite Etik KPK
 
AJI Jakarta Mengimbau Komite Etika KPK Menghormati Hak Tolak Jurnalis
 
Komite Etik KPK Jangan Bela Chandra
 
Komite Etik Bakal Periksa Orang Dekat Nazaruddin
 
Komite Etik KPK Tiru Gaya Media Dalam Pemeriksaan
 
Pekan Depan, Komite Etik KPK Mulai Lakukan Pemeriksaan
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel
Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai
PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus
Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot
Presiden hingga DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
RUU PPRT Jadi Usulan Inisiatif DPR, PRT Ungkap Ini
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel
Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai
PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus
Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot
Presiden hingga DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
RUU PPRT Jadi Usulan Inisiatif DPR, PRT Ungkap Ini
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]