
Kebakaran hutan di Turki (gambar), Yunani dan Italia belum termasuk dalam catatan nilai kerugian akibat bencana alam selama 2021.
Tagihan di paruh kedua 2021
Meski begitu, nilai kerugian yang ditanggung perusahaan asuransi tercatat lebih tinggi. Swiss Re memperkirakan angkanya mencapai USD 40 miliar atau Rp 575 triliun, tertinggi kedua dalam sejarah.
Kerugian paling besar dialami perusahaan asuransi pada tahun 2011, ketika gempa bumi di Jepang dan Selandia Baru mencuatkan klaim yang harus dibayar menjadi USD 104 miliar.
Badai Uri yang menyelimuti negara bagian Texas dengan salju tebal dan udara yang membeku, menyebabkan kerugian senilai USD 15 miliar bagi perusahaan asuransi. Adapun klaim ganti rugi dari banjir di Eropa bulan Juni silam mencapai USD 4,5 miliar.
Adapun bencana yang dipicu manusia, menciptakan kerugian senilai USD 2 miliar atau Rp 28 triliun pada paruh pertama 2021. Angka ini juga tergolong lebih rendah, antara lain akibat pandemi corona dan pembatasan sosial yang berlaku, tulis Swiss Re.
Nilai tersebut belum mencakup total kerugian yang terjadi selama bulan Juli, di mana banjir hebat menyisakan kerusakan hebat di Eropa dan Cina. Belum lagi kebakaran hutan di Turki, Yunani dan Italia akibat gelombang panas yang diprediksi akan menimbulkan kerugian yang lebih besar.
"Pengalaman sejauh ini di 2021 menggarisbawahi ancaman yang meningkat dan menempatkan semakin banyak penduduk Bumi dalam risiko terdampak cuaca ekstrem," kata Bertogg. Menurutnya Badai Uri menyebabkan nilai kerugian serupa dengan bencana lain seperti topan atau siklon.
"Industri asuransi harus meningkatkan kemampuan untuk menghitung risiko dari ancaman-ancaman yang kurang diperhatikan ini untuk memperkuat daya tahan keuangan masing-masing," imbuhnya.(rzn/vlz /Reuters/AFP/mw/bh/sya)