Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Kriminal    
 
Jakarta
Kerawanan Sosial Meningkat di Jakarta dan Daerah
Monday 10 Mar 2014 10:49:37

Tokoh Muda Jakarta, Muhammad Idrus.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Tokoh Muda Jakarta, Muhammad Idrus, mengingatkan Pemda DKI agar memperhatikan kerawanan sosial yang cenderung meningkat di Ibukota dan sekitarnya.

"Hal itu terlihat dari survei Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta yang merilis Indeks Potensi Kerawanan Sosial (IPKS) 2013. Hasilnya, ada 10 kelurahan yang memiliki tingkat potensi kerawanan sosial tinggi, dengan Kelurahan Kampung Rawa di Jakarta Pusat pada urutan pertama," ungkapnya, saat berdialog dengan Tokoh Masyarakat dan warga kampung Muara Baru, Jakarta Utara.

Dalam Siaran Pers yang dirilis Minggu (9/3), disebutkan, bahwa menurut data BPS, ada 10 kelurahan yang memiliki tingkat potensi kerawanan sosial tinggi dari 267 kelurahan yang ada di Jakarta. Sepuluh Kelurahan tersebut adalah Kelurahan Kampung Rawa, Kelurahan Galur, Kelurahan Tanah Tinggi, Kelurahan Kartini, Kelurahan Kali Baru, Kelurahan Penjaringan, Kelurahan Ancol, Kelurahan Lagoa, Kelurahan Kampung Melayu dan Kelurahan Manggarai.

"Dari survei tersebut terungkap wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara paling luas potensi kerawanan sosialnya. Gejala itu mungkin disebabkan ketimpangan yang semakin lebar dan parah. Perlu tindakan antisipasi agar tidak muncul konflik atau gesekan berdampak luas," jelas Idrus yang selama ini melakukan pemberdayaan bagi kaum muda dan perempuan.

Kelurahan Kampung Rawa di Jakarta Pusat merupakan kelurahan tertinggi potensi kerawanan sosialnya, yaitu mencapai 44,78%. Untuk membuat pemetaan IPKS tersebut, BPS membuat indikator IPKS, yaitu kemiskinan, lingkungan dan kesehatan, prasarana fisik, modal sosial, perekonomian, serta keamanan dan ketertiban.

Tenaga Ahli Menteri Sosial, Bidang Kehumasan dan Tatakelola Pemerintahan, Sapto Waluyo menyatakan kerawanan tidak hanya terjadi di Ibukota, melainkan juga di daerah.

"Kementerian Sosial telah memetakan 184 daerah rawan konflik. Sebagian besar kondisi ekonominya tertinggal dibanding daerah lain. Namun, ada juga daerah maju tapi interaksi sosial antar kelompok sangat kaku, sehingga mudah meletup hanya karena masalah kecil," ungkap Sapto saat meninjau realisasi bantuan bedah rumah di Kabupaten Tuban.

Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal memetakan 183 daerah yang masih terbelakang kondisi sosial-ekonominya.

"Tapi tidak semua daerah tertinggal itu rawan konflik. Ada enam daerah diprediksi sebagai wilayah paling rawan konflik sosial pada tahun 2014. Yaitu, Papua, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, dan Jawa Tengah. Indikatornya terlihat sepanjang 2013 daerah tersebut bermunculan aneka konflik," jelas Sapto.

Sepanjang 2013 di Papua terjadi 24 peristiwa konflik sosial, Jawa Barat (24), Jakarta (18), Sumatera Utara (10), Sulawesi Tengah (10) dan Jateng (10). Di tahun politik 2014, ketegangan tentu akan meningkat.

"Karena itu, Kemensos melancarkan program keserasian sosial di 50 Daerah rawan dan penguatan kearifan lokal di 30 Daerah. Targetnya mencegah kemungkinan terjadinya konflik atau memperkecil dampak, jika konflik tetap terjadi," tegas Sapto.

Memang harus ditumbuhkan tenaga pelopor perdamaian di seluruh pelosok Indonesia, terutama dari kawula muda.(Ria/Evie/DS/rri/bhc/sya)


 
Berita Terkait Jakarta
 
Omzet Toko Daging Dharma Jaya di Kembangan Capai Ratusan Juta
 
Presiden dan Wakil Presiden RI Hadiri Resepsi Pernikahan Putri Anies Baswedan
 
Gelar Acara 'Jakarta Menyapa', Gubernur Anies Apresiasi Peran Kader PKK Menjaga Kesejahteraan Keluarga
 
Survei CSIS Bertolak Belakang dengan Data BPS, Tingkat Kesempatan Kerja di DKI Jakarta Meningkat
 
KPw BI DKI Jakarta Sebut Transaksi Digital QRIS di Jakarta Luar Biasa
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Korupsi BGN, Kejagung tolak permohonan justice collaborator Sony Sanjaya
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]