Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Lingkungan    
 
SDA
Kekayaan Alam Indonesia Hanya Tinggal 30 Persen
Thursday 05 Jan 2012 02:38:13

Kerusakan alam akibat pertambangan (Foto: Ist)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Indonesia mengalami krisis ekologi. Hal ini diakibatkan oleh perusahaan tambang yang melakukan ekplorasi pertambangan di hutan dan laut Indonesia. Kerusakakan alam di negeri ini sudah mencapai 70 persen. Praktis, saat ini kekayaan alam Indonesia, hanya tersisa 30 persen.

"Kekayaan alam Indonesia hanya tersisa 30 persen. Kondisi alam Papua juga sudah rusak parah, karena dikepung dari Teluk Bintuni ditambah Freeport, ditambah lagi Merauke yang mau dijadikan perkebunan pangan," kata Manajer Kampanye Tambang dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Pius Ginting, seperti dikutip situs resmi Walhi, Kamis (5/1) .

Menurut dia, kerusakan hutan Papua kemungkinan tambah parah. Pasalnya, di sekitar perbatasan wilayah Indonesia dengan Papua Nugini, rencananya akan akan dijadikan perkebunan sawit. Kawasan-kawasan itu sebelumnya terisolir yang kini mulai dijamah untuk dilakukan ekplorasi alam yang sebenarnya memiliki kekayaan alam melimpah.

Kawasan lain yang terancam rusak, lanjut Pius, kawasan Pulau Halmahera yang memiliki keanekaragaman hayatinya juga tinggi karena banyak hutan. Tapi saat ini, di pulan tersebut tiga perusahaan tambang yang diperbolehkan menggarap kawasan hutan lindung. Pertambangan emas sangat rentan pencemaran.

Selain terkait pencemaran lingkungan, juga merugikan sumber daya mineral. Atas dasar ini, Walhi mendesak Pemerintah Indonesia untuk lebih peduli lagi terhadap keberadaan ekosistem alam, baik di hutan maupun di laut. Sumber daya alam itu untuk menghidupi masyarakat yang ada di sekitarnya.

“Sudah saatnya pemerintah harus segera merevitalisasi sumber daya alam bagi kemakmuran masyarakat. Bahkan, bila perlu mencabut kontrak karya yang telah merusak alam Indonesia tersebut. Pemerintah jangan diam saja, tapi harus tegas terhadap tindakan pengusaha yang merusak alam Indonesia,” imbuh Pius.(woi/bie)



 
Berita Terkait SDA
 
KPK-Auriga Bedah Permasalahan Sumber Daya Alam di Sulawesi Tengah
 
Panglima TNI Ajak Seluruh Komponen Bangsa Bersatu Kelola SDA Indonesia
 
Dewan Yakin RUU SDA Tidak Akan Dibatalkan MK
 
Manfaat Konservasi SDA Hayati Harus Dirasakan Masyarakat
 
Di Riau, KPK Dorong Pengelolaan SDA dan Energi yang Akuntabel
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Korupsi BGN, Kejagung tolak permohonan justice collaborator Sony Sanjaya
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung Resmi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi MBG
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]