Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Kasus DPID
KPK Selidiki Keterlibatan Banggar
Tuesday 23 Oct 2012 09:41:41

Gedung KPK (Foto: BeritaHUKUM.com/sya)
JAKARTA, Berita HUKUM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku akan segera melakukan kroscek terkait informasi dan fakta-fakta yang terkuak dari persidangan Wa Ode Nurhayati. Khususnya dalam kasus pengalokasian Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) soal keterlibatan pimpinan Badan Anggaran (Banggar) DPRRL.

"Saat ini KPK tidak diam dan masih melakukan validasi informasi yang terungkap dalam persidangan. Ini masih kita validasi," ucap Johan Budi, Juru Bicara KPK kemarin Senin (22/10).

Menurut Johan, pihaknya tidak bisa serta merta menetapkan seseorang menjadi tersangka hanya dari seluruh keterangan maupun informasi yang terkuak di persidangan.

Pasalnya selain harus memvalidasi keterangan-keterangan di persidangan tersebut, pihaknya juga harus memiliki dua buah alat bukti yang cukup untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka.

"Nanti akan kita cek, dan mencari minimal dua alat bukti untuk menelaah fakta-fakta di persidangan," tuturnya.

Dan setelah menemukan alat bukti yang cukup, maka KPK tentu akan membuka penyelidikan baru untuk menyeret para pelaku koruptor yang menjadi momok bangsa. "Nanti jika sudah ada bukti akan kita buka penyelidikan baru," bebernya.

Sementara itu, usai persidangan vonis beberapa waktu lalu, saat ditanya wartawan soal keterlibatan Badan Anggaran, Wa Ode Nurhayati, politisi dari Partai Amanat Nasional tersebut mengaku saat ini tidak ingin melangkah lebih jauh karena memilih fokus pada kasus hukum yang sedang menimpa dirinya tersebut. "Maaf saat ini saya hanya ingin fokus dulu pada kasus saya. Saya ini kan sudah biasa dijadikan kelinci percobaan," ucapnya.

Seperti diketahui, pada persidangan Wa Ode Nurhayati terungkap dugaan keterlibatan anggota Banggar dan pimpinan DPR dalam kasus suap DPID yakni mantan pimpinan Banggar DPR, Melchias Markung Mekeng yang pernah menerima Rp 250 milliar dari proyek DPID sebagai jatah konstitusional.

Yang bersangkutan mengetahui keterlibatan Mekeng dari berkas pemeriksaan tenaga ahli Banggar DPR RI, Nando yang menyatakan empat pimpinan Banggar DPR RI menerima jatah Rp 250 miliar. Sedangkan Ketua DPR RI Marzuki Alie menerima Rp 300 miliar. Adapun tiga wakilnya, Anis Matta, Priyo Budo Santoso, serta Pramono Anung menerima Rp 250 miliar.

Sebelumnya, Wa Ode Nurhayati divonis oleh Majelis Hakim Tipikor dengan vonis hukuman enam tahun kurungan dan denda Rp 500 juta. Selain terbukti menerima commitment fee dalam pengurusan alokasi DPID di empat kabupaten, terdakwa juga dianggap melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Di mana Wa Ode menempatkan uangnya sejak tahun 2010 - 2011 dalam rekeningnya dan mengasumsikan sebagai hasil usaha bisnis sampingannya di Merauke dan Makasar. Namun saat di persidangan yang bersangkutan tidak bisa membuktikan kebenaran usahanya tersebut.

Kedua belah pihak baik KPK ataupun terdakwa mengajukan banding karena sama-sama tidak puas dalam putusan hakim tersebut. Dimana versi KPK, vonis yang dijatuhkan hakim lebih ringan daripada apa yang diinginkan oleh Jaksa Penuntut Umum.(ip/kpk/bhc/opn)


 
Berita Terkait Kasus DPID
 
KPK Kembali Periksa Haris Andi Surahman
 
Inkracht, KPK Eksekusi Wa Ode Nurhayati
 
Anggota Komisi III Andi Anzar Penuhi Panggilan KPK
 
Irgan Waketum Komisi IX DPR Dipanggil KPK
 
Dituding Terima Duit DPID, Ketua Fraksi PAN: Saya Tidak Kenal Haris Suharman
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain
Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak
Dikabarkan mundur, Purbaya bakal umumkan realisasi APBN Mei 2026 hari ini (5/6)
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung Resmi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi MBG
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]