Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Capim KPK
Jika Tolak Capim KPK, DPR Arogan dan Kontraproduktif
Thursday 08 Sep 2011 19:01:34

Ilustrasi
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Rencana penolakan delapan nama capim KPK, menunjukan sikap arogan DPR. Perilaku tersebut kontraproduktif terhadap upaya pemberantasan korupsi. “jangan berdebat yang tak substansi,” kata anggota Koalisi Pemantau Peradilan yang juga peneliti ICW Tama S Langkun dalam konferensi pers di kantor TII, Jakarta, Kamis (8/9).

Menurutnya, perdebatan dan pernyataan-pernyataan yang terlontar dari mulut beberapa anggota DPR mengenai jumlah calon pimpinan KPK yang harus diserahkan ke parlemen merupakan sikap yang pelecehan terhadap UU.

"Kami sudah mencatat anggota DPR yang kontraproduktif dengan pemberantasan korupsi. Kita tidak akan segan-segan melaporkan hal ini ke BK (badan kehormatan) dan partainya masing-masing," kata Tama.

Ia berpendapat, sikap yang ditunjukkan oleh beberapa politisi lewat pernyataannya, merupakan arogansi para wakil rakyat terhadap putusan pansel KPK. "Semakin cepat pimpinan KPK dipilih, semakin sempit ruang negosiasi," ujarnya.

Berdasarkan UU no 30 tahun 2002 tentang KPK dan Putusan Mahkamah Konstitusi nomor 5/PUU-IX/2011 tanggal 20 Juni 2011, DPR wajib memilih 8 calon yang diajukan oleh Presiden tersebut untuk kemudian menetapkan 4 pimpinan KPK terpilih. Namun, rencana penolakan delapan nama dan meminta 10 nama capim oleh DPR menguak.

Sementara peneliti ICW Febri Diansyah mengatakan, diperlukannya konteks pengawasan yang jelas dalam menafsirkan UU. "Diperlukan konteks pengawasan agar DPR tidak arogan dalam menafsirkan UU," katanya.

Sedangkan anggota Koalisi Pemantau Peradilan Taufk Basari mengatakan, Komisi III DPR telah menyandera KPK. Pasalnya, wakil rakyat tersebut dinilai mengulur-ulur waktu untuk memilih pimpinan KPK yang baru. "DPR telah mempertontonkan pembangkangan hukum. Padahal maksud pemilihan ini di DPR seyogyanya sebagai representasi publik untuk memilih jabatan (KPK)," kata dia.

Menurut Taufik, lembaga antikorupsi tersebut kini telah tersandera dari permainan politik di parlemen. "Tapi ini menjadi bahan untuk permainan politik. Ini politik yang tidak sehat," kata Taufik.(mic/spr)


 
Berita Terkait Capim KPK
 
Pansel KPK Harus Pastikan Capim-Calon Dewas Periode 2024-2029 Miliki Integritas Antikorupsi
 
'Calon Pimpinan KPK Harus Bersih dari Kasus HAM'
 
Capim KPK Loloskan 3 Jenderal Aktif, 1 Jenderal dan 1 Kombes Purnawirawan
 
Komisi III DPR Mulai Uji Capim KPK
 
Komisi III DPR Harus Segera Selesaikan Seleksi Capim KPK
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]