Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

EkBis    
 
Indeks Kesejahteraan Rakyat - IKraR
Indonesia Luncurkan Indeks Kesejahteraan Rakyat
Thursday 22 Mar 2012 04:15:57

Menko Kesra, Agung Laksono,Mendikbud, M. Nuh, Meneg PP,Linda Amalia Sari, Menpora, A. Mallarangeng, Menag, Suryadharma dan Ketua IKraR, Sujana Royat, usai peluncuran IKraR di Jakarta, Rabu, (21/3/2012). (Foto: BeritaHUKUM.com/boy)
JAKARTA. (BeritaHUKUM.com) -- Akhirnya, Indonesia memiliki tingkat ukuran kesejahteraan. Acuan itu dinamakan Indeks Kesejahteraan Rakyat atau IKraR. Melalui IKraR, Indonesia tidak perlu lagi mengadopsi metode pengukuran luar negeri yang biasa digunakan.

"Metode pengukuran dari luar negeri yang kerap kita gunakan itu, belum cukup menggambarkan kesejahteraan masyarakat berdasarkan kondisi dan realitas ke-Indonesiaan," tegas Menko Kesra, Agung Laksono, Rabu (21/3), usai peluncuran IKraR, yang dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, M. Nuh, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari, Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng, serta Menteri Agama, Suryadharma Ali.

Menurut Agung, IKraR dihitung dengan menggunakan tiga dimensi, yaitu Keadilan Sosial, Keadilan Ekonomi, dan Keadilan Demokrasi yang di dalamnya terdapat 22 indikator sesuai dengan dimensi masing-masing. Meski begitu, belum ada indeks pasti untuk mengukur tingkat kesejahteraan rakyat.

"Apakah 80 persen, 100 persen, atau juga 60 persen sudah menggambarkan kesejahteraan rakyat. Begitu pula dengan indeks tiap provinsi. Namun, yang pasti, Indonesia tidak harus selalu mengacu pada indeks buatan negara lain," ujarnya.

Karena itu, sebagai pilot project, Pemerintah memilih 10 propinsi dan 30 kabupaten yang akan diukur pada tahun 2013.
Agung pun berharap, perumusan IKraR ini dapat membantu pemerintah mengukur tingkat kesejahteraan. Pada 2014, pemerintah menargetkan kemiskinan turun menjadi 8-10 persen, sedangkan target MDG's sebesar 7,5 persen pada 2015.

Proses Perumusan IKraR

Menurut Deputi Kemenkokesra Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat, Sujana Royat, IKraR dirumuskan sejak tahun 2010.
Sejumlah kerangka perumusan didapatkan melalui rangkaian diskusi dengan para ahli, pemangku kepentingan, simulasi dan konsultasi public di tingkat daerah dan nasional.

“Tujuan perumusan IKraR melalui rangkaian diskusi dan simulasi diupayakan agar timbulnya sejumlah gagasan dan memperbaiki rumusan yang sebelumnya hadir. Simulasi pun diupayakan yang berguna untuk menyempurnakan draft yang dihasilkan,” ungkap Sujana Royat yang juga merupakan Ketua Umum IKraR.

IKraR memiliki beberapa batasan. Dari sisi sektoral adalah terpenuhinya hak dasar individu, misalnya terpenuhinya hak pangan dan sandang. Ditinjau sisi holistic adalah pemenuhan hak dasar komunitas, yaitu terpenuhinya hak atas air bersih. Batasan terakhir adalah terpenuhinya kebutuhan dasar atas kehidupan masyarakat yang berdaulat sejak lahir hingga akhir hayat. (boy)


 
Berita Terkait Indeks Kesejahteraan Rakyat - IKraR
 
• Indonesia Luncurkan Indeks Kesejahteraan Rakyat
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]