Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Gaya Hidup    
 
Google
Google Membantu NASA Temukan 2 Planet Baru
2017-12-18 06:36:36

SAN FRANSISCO, Berita HUKUM - Google (Alphabet Incorporated) membantu Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membuat analisis komputer canggih guna mengidentifikasi dua planet baru di sekitar bintang-bintang jauh, termasuk yang merupakan bagian dari sistem bintang tunggal dengan banyak planet, seperti tata surya Bumi.

Penelitian oleh Google dan University of Texas di Austin yang menggunakan data dari NASA mengangkat prospek wawasan baru ke alam semesta dengan memberi masukan data ke dalam program komputer yang dapat menghasilkan informasi lebih cepat dan lebih mendalam ketimbang secara manual, yang dikenal dalam teknik sebagai pembelajaran mesin.

Dalam kasus itu, perangkat lunak mempelajari perbedaan antara planet dan objek lainnya dengan menganalisis ribuan titik data, mencapai akurasi 96 persen, demikian pernyataan NASA pada sebuah konferensi pers, Kamis (14/12), layaknya dikutip Reuters.

Data tersebut berasal dari teleskop Kepler yang diluncurkan NASA ke luar angkasa pada 2009 sebagai bagian dari misi pencarian planet yang diperkirakan akan berakhir tahun depan, karena pesawat ruang angkasa tersebut kehabisan bahan bakar.

Perangkat lunak "jaringan saraf tiruan" dihubungkan melalui data sekitar 670 bintang, yang menghasilkan penemuan planet Kepler 80g dan Kepler 90i. Hal terakhir, sebuah massa berbatu yang gersang, berukuran 30 persen lebih besar dari Bumi, adalah planet kedelapan yang ditemukan mengorbit pada bintang yang sama.

Para astronom belum pernah melihat jaringan delapan planet di samping tata surya yang meliputi Bumi, menurut peneliti.

"Sementara penerapan jaringan saraf untuk data Kepler mendekati akhir, siapa yang mengetahui tentang apa yang mungkin ditemukan," ujar Jessie Dotson, ilmuwan proyek NASA untuk teleskop luar angkasa Kepler. "Saya sangat antusias menantikannya," ujarnya.

Christopher Shallue, seorang peneliti kecerdasan buatan di Google, dan Andrew Vanderburg, seorang astronom University of Texas di Austin, mengatakan bahwa mereka berencana untuk melanjutkan pekerjaan mereka dengan menganalisis data Kepler pada lebih dari 150 ribu bintang lainnya.

Kemajuan dalam perangkat keras dan teknik baru pada pembelajaran mesin telah memungkinkan perangkat lunak otomatis menangani analisis data di bidang sains, keuangan dan industri lainnya dalam beberapa tahun terakhir.

Pembelajaran mesin belum diterapkan pada data yang diperoleh oleh teleskop Kepler hingga Shallue mengemukakan gagasan tersebut, katanya.

"Di waktu luang, saya memulai mencari lewat Google untuk menemukan planet diluar tata surya dengan kumpulan data yang besar, dan mengetahui tentang misi Kepler serta kumpulan data yang besar tersedia," ujarnya.

Ia menimpali, "Mesin pembelajar benar-benar bersinar dalam situasi di mana ada begitu banyak data sehingga manusia tidak dapat mencarinya sendiri."

Vanderburg telah menerima dana melalui keanggotaan NASA yang ditujukan untuk para peneliti planet jauh.(Antara/bh/sya)


 
Berita Terkait Google
 
10 Cara Mengatasi Penyimpanan Gmail Penuh dengan Mudah dan Praktis
 
Google Didenda 2,5 Triliun Rupiah Atas Dugaan Monopoli Pasar di Korea Selatan
 
Pembaharuan Fungsi Google Maps Live View untuk Pengemudi
 
Google Meet Hadir di Gmail, Ini Manfaatnya
 
Google Sarankan Jangan Gunakan Browser Microsoft Edge
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah
Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit
Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional
Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]