Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Kasus Indosat
Dugaan Korupsi Proyek Indosat Diambil Alih Kejagung
Saturday 14 Jan 2012 00:00:02

Ilustrasi (Foto: Ist)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Kejaksaan Agung mengambil alih kasus dugaan korupsi yang terjadi di PT Indosat Tbk dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat. Kasus dugaan korupsi ini, terkait dengan penyalahgunaan pita frekuensi 2,1 Ghz generasi ketiga (3G) yang dilakukan Indosat dan anak usahanya, Indosat Mega Media (IM2) dan merugikan negara hingga Rp 3.8 trilliun

Langkah pengambilalihan kasus ini, karena lingkup kejadian perkara berlangsung tak hanya di Jawa Barat. "Locus delicti-nya tidak hanya di lingkup Jawa Barat, tapi lebih luas. Kalau nanti hanya level Jawa Barat, maka cakupan wilayah hukumnya hanya Jabar. Kalau ditangani Kejagung, cakupannya jadi lebih luas," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung, Andhi Nirwanto kepada wartawan di gedung Kegung, Jakarta, Jumat (13/1).

Menurut dia, untuk memperjelas kasus ini, pihaknya pada Senin (16/1) pekan depan, akan melakukan gelar perkara di gedung bundar, Kejagung. Mantan Kajati DKI ini membantah penarikan kasus Indosat dilakukan karena nilai kerugian negaranya mencapai triliunan rupiah. "Bukan karena itu, tapi karena cakupan kasus itu lebih luas. Kasus ini belum akan dilakukan pemeriksaan. Kami akan melakukan ekspos perkara lebih dulu," jelas mantan Kajati DKI Jakarta ini.

Kasus ini sendiri bermula ketika LSM Konsumen Telekomunikasi Indonesi (KTI) melaporkan Indosat dan anak usahanya, Indosat Mega Media (IM2) ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat terkait penyalahgunaan pita frekuensi 2,1 Ghz generasi ketiga (3G). Akibat penyalahgunaan ini, menurut KTI, negara dirugikan hingga Rp3.834.009.736.400.

Awalnya, pada 2007, Indosat bersama Telkomsel dan XL diputuskan pemerintah berhak atas pengelolaan frekuensi 3G. Frekuensi ini kemudian dijual dan diakui sebagai paket broadband internet milik IM2. Di sinilah masalahnya, seharusnya pengelolaan frekuensi oleh IM2 tersebut melalui tender. Hal ini merujuk Pasal 33 UU Nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi, Pasal 58 ayat (3), dan Permen Nomor 7 Tahun 2006.

Disebutkan penyelenggara jasa internet harus memiliki izin sebagai penyelenggara 3G sendiri. Persoalan lain, jaringan telekomunikasi yang dapat disewakan kepada pihak lain hanyalah jaringan tetap tertutup, sesuai dengan Pasal 9 UU Telekomunikasi. Permasalahan lain, Indosat adalah perusahaan go public (terbuka), sementara IM2 masih merupakan perusahaan privat.

Anehnya, pada November 2011, tiba-tiba diumumkan bahwa IM2 melakukan imigrasi ke Indosat. Dari rangkai kejadian ini timbul potensi kehilangan pajak nilai badan Hak Penggunaan (BHP) jasa telekomunikasi yang terjadi sejak 2007 sampai sekarang. Hitungan sementara angka kerugian negaranya mencapai Rp 3,834 triliun.(dbs/bie)


 
Berita Terkait Kasus Indosat
 
LAPAK Desak Kejagung Tuntaskan Skandal Kasus Indosat
 
Akhirnya Mahkamah Agung Tolak PK Eks Dirut IM2
 
Paska Kasus IM2 Indosat, Menkopolhukam Sambut Sejumlah Perwakilan Masyarakat Telekomunikasi
 
Kasus Indosat - IM2, Sekretaris Korporat Diperiksa Penyidik
 
Penyidik Kejagung Periksa Indar Atmanto dan Jhonny Swandy Sjam
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah
Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit
Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional
Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]