Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Turki
Dubes Rusia untuk Turki Tewas Ditembak di Ankara
2016-12-20 15:48:40

Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov (kanan atas) dan Penyerang adalah Mevlut Mert Aydintas, yang berusia 22 tahun dan anggota polisi anti-huru-hara Ankara.(Foto: Istimewa)
TURKI, Berita HUKUM - Seorang aparat polisi Turki menembak mati Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov, yang tampaknya merupakan aksi protes atas keterlibatan Rusia di Aleppo, Suriah.

Pembunuhnya disebut sebagai Mevlut Mert Aydintas, yang berusia 22 tahun dan anggota polisi anti-huru-hara Ankara. Masih belum jelas jika dia memiliki kaitan dengan kelompok tertentu atau tidak.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan serangan tersebut ditujukan untuk mengganggu hubungan dengan Rusia.

Dia juga sudah berbicara dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, lewat telepon dan mengatakan keduanya sepakat bahwa tindakan itu sebagai 'provokasi'.

Ditambahkan oleh Erdogan bahwa mereka yang ingin merusak hubungan kedua negara 'tidak akan mencapainya'.


Turki, Ankara, ErdoganImage copyrightAP/STF


Sebelumnya juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebut pembunuhan Andrei Karlov di ibu kota Ankara sebagai sebagai tindak terorisme.

Menurutnya, Turki sudah memberi jaminan akan ditempuh penyelidikan menyeluruh dan pihak-pihak yang terlibat akan dihukum.

"Terorisme tidak akan lolos! Kami akan memeranginya dengan sungguh-sungguh," tegas Zakharova.

"Kenangan atas diplomat Rusia yang terkemuka ini, seorang yang melakukan banyak hal untuk melawan terorisme akan tetap di hati kami selamanya."

Andrei Karlov tewas ditembak di sebuah galeri seni di Ankara, Senin (19/12) dan sempat dibawa untuk perawatan darurat karena menderita cedera serius namun meninggal dunia di rumah sakit.

Dia merupakan diplomat berpengalaman dan pernah bertugas sebagai duta besar Uni Soviet di Korea Utara pada masa 1980-an.



Turki, Rusia, Karlov, AnkaraImage copyrightREUTERS
Image captionKeamanan ditingkatkan di kawasan sekitar galeri tempat penembakan Dubes Karlov.


Laporan-laporan menyebutkan Karlov sedang memberikan pidato ketika seorang pria bersenjata melepaskan tembakan dan memekikkan pesan tentang kota Aleppo di Suriah.

Sementara juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, John Kirby, menegaskan para pejabat AS sudah mendengar laporan tentang serangan atas Dubes Karlov.

"Kami mengecam tindakan kekerasan ini, apapun sumbernya. Hati dan doa kami bersamanya dan keluarganya."

Polisi belakangan 'menetralisir' pria bersenjata itu namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Foto-foto yang beredar di internet memperlihatkan dua pria berpakaian jas tergeletak di lantai dengan tiang mikrofon di galeri seni yang sedang menggelar pameran berjudul 'Rusia seperti dilihat Turki'.



Andrey Karlov,Image copyrightAFP/DEPO PHOTOS
Image captionDuta Besar Andey Karlov ditembak saat menyampaikan pidato.


Hubungan Turki dan Rusia agak menegang dalam beberapa waktu belakangan karena keterlibatan kedua negara dalam konflik di Suriah.

Sehari sebelumnya marak unjuk rasa dari sekelompok warga di gedung Konsulat Jenderal Rusia di Istanbul yang menentang dukungan Rusia atas pasukan pemerintah Suriah.

Bagaimanapun pemerintah Ankara dan Moskow ikut bekerja sama dalam operasi senjata di Aleppo.

Belum dipastikan motif dari serangan atas Duta Besar Karlov dan identitas penyerangnya belum diungkapkan.

Beberapa laporan menyebutkan pelaku memasuki galeri seni itu dengan menggunakan kartu identitas polisi dan memekik, "Jangan lupakan Aleppo, jangan lupa tentang Suriah," dan memekik "Allahu Akbar."(BBC/bh/sya)



 
Berita Terkait Turki
 
Mengapa Kemenangan Erdogan Penting Bagi Negara-negara Barat?
 
Hagia Sophia: Salat Jumat Pertama Setelah 86 Tahun, 'Allahu Akbar, Terharu dan Merinding', Antusiasme Masyarakat Beribadah
 
Perang Saudara di Suriah: Turki Kutuk Serangan Udara oleh Suriah terhadap Konvoinya
 
Turki Tetap Datangkan Sistem Rudal S-400 Buatan Rusia Walau Ditentang AS
 
Lira, Mata Uang Turki Terjun Bebas, Erdogan Sebut 'Ini Ulah Amerika Serikat dan Barat'
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]