Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Kasus BANSOS
Diperiksa KPK, Toto: Saya Enggak Tahu Istilah Gratifikasi Seks
Monday 24 Jun 2013 15:55:13

Toto Hutagalung usai diperiksa KPK, Senin (24/6).(Foto: BeritaHUKUM.com/opn)
JAKARTA, Berita HUKUM - Sekitar pukul 15:00 WIB, tersangka kasus suap Bantuan Sosial (Bansos) di Pemerintah Kota Bandung Toto Hutagalung keluar dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dengan mengenakan baju tahanan orange, pria yang sudah berkali-kali diperiksa penyidik KPK ini mengaku tidak tahu soal pemberian gratifikasi seks kepada hakim Setyabudi Tedjocahyono. Dan mengenai yang berkaitan langsung dengan Setyabudi sudah ia sampaikan kepada penyidik KPK.

"Saya enggak mengerti istilah itu (gratifikasi seks), yang jelas saya sudah sampaikan ke penyidik," katanya, Senin (24/6).

Saat dicecar beberapa pertanyaan oleh para wartawan, Toto tetap saja berkelit tentang dugaan adanya gratifikasi seks tersebut. Toto menjelaskan dirinya hanya kepanjangan dari hakim Setyabudi.

"Yang jelas saya hanya penyambung dari Setyabudi," ujarnya singkat.

Toto diperiksa selama lebih dari 3 jam oleh KPK. Dia datang sekitar pukul 12:00 WIB dan keluar pukul 15:00 WIB. Ia diperiksa karena diduga terlibat kasus korupsi Bantuan Sosial di Pemkot Bandung.

Seperti diketahui, kasus mencuat kala KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di PN Bandung beberapa waktu lalu. KPK berhasil menciduk Setyabudi kala bertransaksi suap-menyuap di kantornya. Suap itu diduga diberikan Toto agar terdakwa kasus Bansos bisa dihukum ringan. Sebab, Setyabudi lah yang menjadi hakim ketua dalam siding kasus itu.(bhc/opn)


 
Berita Terkait Kasus BANSOS
 
Terpidana Prof Dr Sutedja: Anggota DPRD dan Paturahman As'ad Minta 30 Persen
 
Divonis 6,6 Tahun Penjara, Prof Setedja Sebut Uang Korupsi Dibagi-bagi ke Pejabat dan Dewan
 
Korupsi Dana Bansos Rp18 Milyar, Prof Dr Thomas Susadya Divonis 6,6 Tahun Penjara
 
Mashudi Terdakwa Kasus Bansos PKBM Divonis 18 Bulan Penjara
 
Mashudi Terdakwa Kasus Bansos PKBM Dituntut 2 Tahun Penjara
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]