Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Legislatif    
 
Penistaan Agama Islam
Demo 4 November Bukan Kudeta Yang Gagal
2016-11-09 07:47:00

Ilustrasi. Tampak Fahri Hamzah diatas Mobil Komando dengan mengangkat dan mengepalkan kedua tangan saat Demonstrasi Aksi Bela Islam jilid 2 di Jakarta, Jumat (4/11).(Foto: BH /mnd)
JAKARTA, Berita HUKUM - Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menegaskan bahwa demo Aksi Bela Islam jilid 2 pada Jumat, 4 November atau 411, yang berakhir sedikit rusuh itu bukan 'kudeta yang gagal'. Karena memang bukan untuk mengkudeta Presiden RI.

Demo 411 itu hanya merupakan gerakan massa dengan lebih dari sejuta ummat, yang marah karena pemerintah dianggap lambat dan cenderung melindungi kasus Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga melakukan penistaan agama.

"Jadi tidak benar kalau kudeta. Selama TNI tidak sepakat, maka tak ada yang namanya kudeta. Seperti di Thailand, Mesir, Turki, Philipina dan lain-lain. Maka, Presiden Jokowi jangan menggunakan terminologi Orde Baru. Demo 411 itu juga tak bisa yang menunggangi, sehingga kalau tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk menjatuhkan Presiden RI, maka jangan bilang ditunggangi," tegas Fahri Hamzah saat diskusi dialektika demokrasi "Siapa Aktor Demo 411" bersama Direktur Eksekutif IndoBarometer Mohammad Qodari di Gedung DPR RI Jakarta, Selasa (8/11).

Sebaliknya Fahri menilai, Presiden Jokowi yang ditunggangi, karena dalam proses hukum terhadap Ahok lambat. Tapi, pihaknya tidak akan menanggapi tuduhan tunggangan politik tersebut kalau belum definitif. "Kalau tuduhan itu definitif, baru saya akan tanggapi. Jangan sampai presiden menerima informasi dari sumber yang tidak jelas," ujarnya.

Fahri pun mengakui jika dirinya sudah biasa menghadiri undangan demo dimana pun. Bahkan pernah diundang demo di Solo, NTB, dan Jakarta. Dalam demokrasi itu biasa. Prosedurnya diatur, maka kalau geger dengan demo 411 itu berarti pemain baru. "Siapa yang memulai? Jeda sebelum aksi itu cukup panjang karena Ahok tidak segera diproses hukum. Puncaknya eskalasi massa di 411, sampai MUI berfatwa. Jadi, negara dan agama harus dikelola secara harmoni," tambahnya.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut, Qodari menanyakan kenapa Jokowi bertemu NU dan Muhammadiyah? Karena sebagai ormas keagamaan terbesar tidak turun demo 411 tersebut. Sementara Fahri Hamzah satu mobil dengan Habib Rizieq, Haidar Nasir, Zaitun dan lain-lain. "Idealnya kalau tidak cocok dengan situasi, pimpinan DPR itu tetap satu mobil dengan Said Aqil Siradj dan Haidar Nasir," katanya.

Yang pasti kata Qodari demo 411 tersebut membawa empat kepentingan sekaligus, yaitu pertama, tersinggung dengan pernyataan Ahok terkait surat Almaidah 51.

Kedua, kaum miskin kota yang terdampak akibat kebijakan Ahok di Jakarta. Ketiga, untuk jatuhkan elektabilitas Ahok dalam Pilkada. Apalagi Bachtiar Nasir selalu bilang Jokowi menciptakan pemimpin kafir di Solo, dan juga di Jakarta. "Habib Rizieq pun menyebut Wiranto menjadi Wiranti karena Hanura mengusung Ahok dalam Pilkada DKI," tambahnya.

Keempat, adalah kepentingan lawan-lawan politik Jokowi-JK agar elektabilitas pemerintahannya turun. Khawatirnya lagi menurut Qodari, kalau kondisinya kritis dalam demo 411 tersebut bisa disusupi ISIS.

Untuk itu dia meminta kita hati-hati dan tidak menyepelekan aksi-aksi besar yang bisa disusupi ISIS. "Kita harus belajar dari Timur Tengah. Kini Irak, Iran, Suriah, Mesir, Pakistan, Afghanistan, bahkan Saudi Arabia dll dibuat hancur dengan ISIS. Penduduk negara tersebut mengungsi sampai tenggelam di laut, atau mati akibat bom dan lainnya," jelasnya.

Karena itu Qodari meminta kita hati-hati dan harus menjaga Indonesia yang majemuk ini sebagai keajaiban Allah SWT. Bahwa Ahok memang salah karena buruk dalam memilih diksi atau kosa-kata dalam berucap surat Almaidah 51, dan itulah kelemahannya. "Memang tidak ada yang sempurna dalam setiap orang, untuk itu pula tidak ada yang perlu dibela," pungkasnya.(sc/DPR/bh/sya)


 
Berita Terkait Penistaan Agama Islam
 
DICARI!!, Setelah M Kece, Pria Ini Jadi Buronan Netizen Gegara Hina Nabi Muhammad
 
HNW Apresiasi Kinerja Polri Tangkap Terduga Penista Agama
 
Sukmawati, Potret Sosial-Politik dan Hukum Kita
 
Bareskrim Polri Tetapkan Ustadz Bachtiar Nasir sebagai Tersangka Dugaan TPPU
 
Jubir PA 212 Kembali Mendatangi PMJ untuk Menanyakan LP Ketua BTP Mania, Immanuel Ebenizer
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain
Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak
Dikabarkan mundur, Purbaya bakal umumkan realisasi APBN Mei 2026 hari ini (5/6)
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung Resmi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi MBG
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]