Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Virus Corona
Covid-19: Trump Hentikan Aliran Dana ke WHO, Sebut 'Banyak Kematian Disebabkan Kesalahan Mereka'
2020-04-15 07:47:31

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan telah memerintahkan jajarannya untuk menghentikan aliran dana ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).(Foto: AFP/GETTY IMAGES)
AMERIKA SERIKAT, Berita HUKUM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan telah memerintahkan jajarannya untuk menghentikan aliran dana ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang ditudingnya berbuat kesalahan sehingga menyebabkan banyak orang meninggal dunia akibat virus corona.

"Saya memerintahkan jajaran saya untuk menghentikan pendanaan selagi menyusun tinjauan terhadap peran Organisasi Kesehatan Dunia dalam salah kelola yang parah dan menutupi penyebaran virus corona," papar Trump dalam jumpa pers di Gedung Putih, Selasa (14/4) waktu setempat.

"WHO gagal melakukan tugas dasar mereka dan harus dimintai pertanggungjawaban," lanjutnya.

Saat ini AS merupakan negara dengan kasus positif corona terbanyak di dunia, yaitu 602.989 kasus. AS juga mencatat angka kematian terbanyak di dunia, yaitu 25.575 orang.

Seorang pakar gugus tugas penanganan Covid-19 menyatakan Amerika Serikat "bisa menyelamatkan banyak nyawa" seandainya lebih awal menerapkan langkah-langkah untuk menghentikan Covid-19.

"Jika kita melakukannya sejak awal, untuk menutup semuanya, barangkali akan sedikit berbeda," kata Dr. Anthony Fauci, pakar dari gugus tugas penanganan virus corona di AS, kepada CNN.

New york CityHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSuasana 6th Avenue di Kota New York pada 12 April 2020.

Trump menuding WHO tidak bersikap obyektif sehingga menerima klaim China tanpa melakukan peninjauan.

"Jika saja WHO melakukan tugasnya dalam mengutus pakar-pakar kesehatan ke China untuk secara obyektif meninjau situasi di lapangan dan membeberkan kurangnya transparansi China, wabah ini bisa diatasi pada sumbernya dengan sedikit kematian," kata Trump.

"Ini akan menyelamatkan ribuan nyawa dan menghindari kerusakan ekonomi dunia," imbuhnya.

Trump menuding WHO terlalu percaya terhadap klaim pemerintah China.

"Kepercayaan WHO pada pernyataan China mungkin menyebabkan peningkatan 20 kali lipat di dunia dan mungkin lebih. Begitu banyak kematian disebabkan kesalahan mereka," tuding Trump.

whoHak atas fotoAFP
Image captionTolong, jangan politisasi virus ini," seru Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa WHO bersikap "China sentris" dalam menangani pandemi virus corona.

Namun, klaim itu ditepis Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Dia justru meminta semua pihak untuk "jangan mempolitisasi virus ini".

"Yang paling kuat seharusnya memimpin jalan dan mohon karantinakan politik Covid," papar Tedros, dalam pernyataan yang secara implisit merujuk Trump.

WHO mengandalkan baik dari negara-negara maupun pihak swasta sebagai sumber pendanaan. Pendanaan tersebut juga dibagi menjadi kontribusi wajib dan sukarela. Selama beberapa tahun terakhir, pendanaan sukarela terlihat semakin penting.

Pemerintah AS adalah kontributor dana sukarela terbesar, mencapai 15% dari seluruh pendanaan yang diterima WHO pada 2019.

Perlu dicatat AS juga berutang pada WHO dalam hal kontribusi wajib. Data pada Maret 2020 menunjukkan AS masih berutang lebih dari US$99 juta (Rp1,5 triliun). Jumlah ini terbanyak dari negara manapun.(BBC/bh/sya)




 
Berita Terkait Virus Corona
 
Pemerintah Perlu Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan Rakyat terkait Kedatangan Turis China
 
Pemerintah Cabut Kebijakan PPKM di Penghujung Tahun 2022
 
Indonesia Tidak Terapkan Syarat Khusus terhadap Pelancong dari China
 
Temuan BPK Soal Kejanggalan Proses Vaksinasi Jangan Dianggap Angin Lalu
 
Pemerintah Umumkan Kebijakan Bebas Masker di Ruang atau Area Publik Ini
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain
Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak
Dikabarkan mundur, Purbaya bakal umumkan realisasi APBN Mei 2026 hari ini (5/6)
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung Resmi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi MBG
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]