Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Nusantara    
 
Angka Kemiskinan
Angka Kemiskinan Indonesia Bagai Poco Poco
2021-07-19 15:04:03

Ilustrasi. Warga beraktivitas di kawasan permukiman padat penduduk, di bantaran Kali Krukut Bawah, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta, Jumat (20/7/2018).(Foto: ANTARA/Aprillio Akbar)
JAKARTA, Berita HUKUM - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Syarief Hasan mempertanyakan langkah-langkah Pemerintah dalam menekan angka kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Pasalnya, angka kemiskinan di Indonesia terus mengalami kenaikan yang sangat signifikan hingga mencapai 27,54 juta penduduk miskin pada Maret 2021.

Syarief Hasan menilai, kenaikan angka kemiskinan ini menunjukkan tidak efektifnya program Pemerintah. "Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai program telah digalakkan Pemerintah untuk menekan angka kemiskinan. Namun, hingga kini, program tersebut berbanding terbalik dengan semakin meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia.", ungkap Syarief Hasan.

Memang, berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin hingga bulan Maret 2021 mencapai 27,54 juta orang miskin. Angka ini membuat persentase kemiskinan menjadi 10,14% dari total penduduk Indonesia. BPS menambahkan dalam rilisnya pada Kamis (15/7), jumlah penduduk miskin bertambah mencapai 1,12 juta orang miskin bila dibandingkan dengan tahun 2020 yang lalu.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini pun mendesak Pemerintah untuk segera mengambil kebijakan agar angka kemiskinan tidak semakin bertambah. "Pemerintah harus segera melakukan langkah yang bisa menekan angka kemiskinan dengan penguatan UMKM, sektor ekonomi kreatif, penekanan angka PHK, hingga keberpihakan pembukaan lapangan kerja baru bagi tenaga kerja Indonesia", tegas Syarief Hasan.

Menurut Syarief Hasan, Pemerintah juga harus menggandeng perusahaan dan industri dalam menekan angka PHK. "Kita melihat bahwa banyak sekali perusahaan dan industri yang melakukan PHK. Kalau hal ini terus berlanjut maka akan semakin banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan berbuntut pada peningkatan angka kemiskinan.", ungkap Syarief Hasan.

Ia pun menyebut, pengelolaan kemiskinan sekarang *seperti poco-poco*. "Dulu, SBY selalu dikritisi dan disebut poco-poco, padahal SBY terbukti bisa menekan kemiskinan dari 17,76% (39,30 juta) turun drastis menjadi 10,96% (27,73 juta) di akhir masa jabatan SBY. Berbeda dengan sekarang, sudah memasuki dua periode namun kemiskinan masih belum menurun signifikan tahun 2020 10,19%, sementara thn 2019 sebesar 9.22% seperti poco-poco.", ungkap Syarief Hasan.

Politisi senior Partai Demokrat ini pun mendorong Pemerintah untuk melakukan langkah yang terukur. "Pemerintah harus membuat langkah terukur dengan menanggulangi Pandemi Covid-19 terlebih dahulu. Setelah itu, memulihkan ekonomi nasional dengan menguatkan UMKM, Koperasi, Ekonomi Kreatif, hingga membuka lapangan kerja baru agar semakin banyak yang bekerja hingga mampu menekan angka pengangguran di Indonesia.", tutup Syarief Hasan.(MPR/bh/sya)




 
Berita Terkait Angka Kemiskinan
 
Jumlah Penduduk Miskin Hanya Berkurang 220 Ribu, Penanganan Kemiskinan Stagnan
 
Wakil Ketua MPR: Angka Kemiskinan Belum Menunjukkan Tren Penurunan signifikan
 
Angka Kemiskinan Indonesia Bagai Poco Poco
 
Legislator Ajak Semua Pihak Kurangi Angka Kemiskinan
 
Orang Miskin 4 Tahun Turun 1 Persen, Sementara Orang Kaya Naik 10 Persen
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]