Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Legislatif    
 
Komisi VIII
Anggota Komisi VIII Tidak Puas Kinerja Kementerian Agama
2017-01-31 12:14:39

Anggota Komisi VIII DPR RI KH. Maman Imanul Haq saat Rapat Kerja Komisi VIiI dengan Menteri Agama, Senin (30/1).(Foto: Jaka/od)
JAKARTA, Berita HUKUM - Komisi VIII DPR mengkritisi kinerja Kementerian Agama terkait evaluasi pelaksanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2016.

Anggota Komisi VIII DPR RI KH. Maman Imanul Haq tidak puas dengan hasil kinerja Kementerian Agama Tahun 2016 dan mengkritik tajam terkait hasil laporan evaluasi yang disampaikan oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin tentang serapan anggaran Kemenag RI.

"Hasil laporan evaluasi yang disampaikan oleh Menteri Agama RI tentang serapan anggaran Kemenag RI, Saya menyayangkan adanya anggaran yang tidak terealisasi, apalagi mengingat jumlahnya cukup besar," katanya, dalam Rapat Kerja Komisi VIiI dengan Menteri Agama, Senin (30/1).

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga menyayangkan kondisi dan wajah Islam Indonesia dewasa ini, di mana seharusnya bisa menunjukan Islam yang Ahlussunnah Waljamaah, namun yang terjadi malah makin maraknya kelompok Ahlul Fitnah Waljamaah.

"Ini menunjukkan kegagalan peran penyuluh Agama dan tidak berfungsinya masjid-masjid di bawah naungan Kemenag RI. Kemenag melalui Menteri Agama hanya menyerukan himbauan tapi tidak menghadirkan negara sebagai institusi yang lebih baik," katanya.

Terkait masalah pengaturan Khotib oleh Kemenag RI, tak luput dari perhatiannya. KH. Maman mempertanyakan apakah ini standarisasi atau sertifikasi, "Kalau iya, apakah Kemenag RI bisa menjangkau semua mesjid pemerintah dan BUMN?",tanyanya.

"Jangan sampai masalah pengaturan standarisasi khotib ini akan menjadikan negara seperti era Orde Baru yang intervensif. Saran saya, sebaiknya pemerintah bisa menggunakan modul lama yang sudah ada dan tinggal diperbaharui saja," jelasnya.

Kemudian, dia mengingatkan kembali terkait pentingnya validasi data soal jumlah mesjid di Indonesia. Oleh karenanya, penting untuk melakukan penguatan litbang di Kemenag RI.

Lebih lanjut, H. Maman juga meminta kepada pemerintah untuk memperjelas status MUI. Menurutnya, MUI itu sama dengan ormas biasa, seperti NU, Muhammadiyah dan lain-lain, sehingga tidak ada institusi dan lembaga negara yang bisa menjadikan fatwa MUI sebagai acuan formal.

"Saya menyarankan agar MUI sebaiknya diberi anggaran yang besar, namun dengan catatan harus ada kualifikasi yang jelas," katanya.

Selain itu, Anggota DPR yang membidangi Agama ini juga meminta Pemerintah bersikap tegas dengan 'executive order' Presiden Donald Trump tentang pembatasan imigran dari 7 Negara. Hal ini bisa menuai balasan sama di berbagai belahan dunia lain.

"Ini langkah yang harus dicurigai sebagai upaya melarang muslim datang ke AS. Dikhawatirkan kebencian kepada Muslim selama ini akan manifest menjadi gerakan kekerasan pada minoritas. Sebagai negara mayoritas Islam, Indonesia harus menghentikan ini semua," tegas KH. Maman Imanul Haq, dari daerah pemilihan Jawa Barat IX.(as/DPR/bh/sya)


 
Berita Terkait Komisi VIII
 
• Data Kemiskinan di Indonesia Belum Akurat
 
• Program KUBE Butuh Penasihat Usaha
 
• Anggota Komisi VIII Tidak Puas Kinerja Kementerian Agama
 
• Pemerintah Perlu Evaluasi Program Bantuan Masyarakat Miskin
 
• Komisi VIII Kecewa pada Kementerian PP & PA
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan sebagai Tersangka Dugaan Penyadapan Ilegal terhadap Presiden
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan sebagai Tersangka Dugaan Penyadapan Ilegal terhadap Presiden
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional
• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum
• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat
• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]