Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Kriminal    
 
Makar
Aktivis Akan ke MPR Bukan Makar, Yusril: Maksudnya Agar Kembali Pada UUD'45 Secara Konstitusional
2016-12-16 07:44:54

Tampak Ratna Sarumpaet serta Pengacara Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H, M.Sc saat konferensi pers di kantor Ihza & Ihza Law Firm di gedung 88 Casablanka Office Tower, Jakarta, Kamis (15/12).(Foto: BH /mnd)
JAKARTA, Berita HUKUM - Yusril Ihza Mahendra sebagai Kuasa Hukum dari Ratna Sarumpaet sebagai aktivis senior yang dijadikan Tersangka terkait dugaan Makar oleh Polri yang sempat ditahan jelang Aksi Super Damai 212 (2 Desember 2016) lalu dengan sebelas (11) orang tokoh Aktivis Idonesia lainnya mengatakan, bahwa para aktivis bukan untuk melakukan Makar, tetapi bermaksud untuk meminta MPR RI agar menetapkan kembali ke UUD 1945 yang asli.

"Maksud dari beliau itu mendesak kepada MPR RI agar kembali ke UUD45. Beberapa tokoh yang lain juga tidak untuk menggulingkan Pemerintahan yang sah. Namun, maksudnya agar kembali pada UUD'45 secara konstitusional," jelas Yusril, selaku Kuasa Hukum para tokoh aktivis itu di hadapan para wartawan, saat jumpa pers di kantor Ihza & Ihza Law Firm, 88 Casablanka Office Tower, Jakarta Selatan pada, Kamis (15/12).

"Walaupun digiring dengan issue menggiring massa, namun belum tentu bertujuan untuk menduduki gedung DPR / MPR," cetusnya.

Yusril juga menyebutkan dari kasus tuduhan Makar terhadap tokoh-tokoh yang ditangani ini, yaitu Bu Ratna dan Rachmawati Soekarnoputri, juga akan turut dalam rangka pembelaan terhadap aktivis Sri Bintang Pamungkas. "Kami dapat pastikan, dimana Bu Ratna Sarumpaet, Bu Rachmawati tidak berniat menggulingkan pemerintahan," tegas Yusri menjelaskan.

Kemudian, Yusril selenjutnya merencanakan, kedepan akan mengajukan tinjauan terhadap pasal-pasal dalam KUHP terkait Makar tersebut. Agar tidak menjadi pasal karet supaya aparat penegak hukum tidak salah dalam penerapan itu. Supaya sesuai dengan hak-hak konstitusional.

"Oleh karena itu kami berkehendak mengajukan uji materi terhadap pasal-pasal makar, baik Pasal 107, Pasal 104, Pasal 87 dan Pasal 53 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Dimana salah satu yang dituduh, berhak menjadi pemohon. Paling tidak sebagai warga negara berhak peroleh kepastian hukum, agar pasal makar ini tidak digunakan sembarangan," terangnya.

Menurutnya, "ditafsirkan semena-mena yang akhirnya melanggar HAM. Hanya ada pihak tersangka yang mengajukan ke MK, hingga pihaknya hanya mendampingi proses itu," urainya.

Sedangkan, mengenai peristiwa penggeledahan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian kemarin pada, Rabu (13/12), bahkan sempat diutarakan oleh petugas, memang sudah membawa surat tugas. "pihak kami juga telah mencoba berunding, namun aparat yang bertugas merasa perintah atasan. Mengenai barang bukti yang dari penggeledahgan itu saja saya belum tahu, karena tidak ada di tempat saat itu," kata Yusril.

"Belum ada keterangan, namun biasanya setiap acara penggeledehan
pastinya ada," pungkas Yusril.(bh/mnd)


 
Berita Terkait Makar
 
Perseteruan Legal Standing Penasehat Hukum Kivlan Zein, Hakim akan Dilaporkan ke KY dan MA
 
Sidang Kivlan Zein Ditunda, Habil Marati Eksepsi
 
Kasus Kivlan Zein, Pengacara: Hakim Putuskan Kliennya Tidak Bersalah
 
Ahli: Frasa Makar Tak Dikenal di Negara Selain Indonesia
 
5 Orang Tersangka Dugaan Permufakatan Makar Dikenakan Pasal 107 dan Pasal 110 KUHP
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Korupsi BGN, Kejagung tolak permohonan justice collaborator Sony Sanjaya
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]