BANDA ACEH, Berita HUKUM - Delapan tahun berlalu perundingan damai antara pemerintah RI-GAM, namun sampai sekarang belum ada langkah kongkrit dalam upaya penyelesaian konflik antara keduanya.
Pun demikian, dari pihak RI juga belum ada pembicaraan perundingan yang mengarah pada tahap berikutnya. Dengan diamnya persoalanya ini, tentu sangat merugikan pemerintah GAM dan jelasnya sangat menguntungkan pihak RI, kata Tgk. Sufaini Syekhy, Jubir Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF) melalui telepon, Minggu (7/4).
Atas nama GAM di Australia, lanjutnya, yang mewakili pemerintah GAM di seluruh dunia tetap konsisten dalam perjuangan Aceh Merdeka (AM). Bahwa menurutnya perjuangan GAM belum berakhir sampai disini, apalagi GAM dianggap sudah bergabung dengan NKRI tentu tidak benar.
"Jangan menganggap perdamaian Helsinky sudah final, karena memang belum final," tegasnya
Dalam hal ini, Syekhy menganggap pemerintahan ZIKIR (Zaini-Muzakir-red) sangat OTORITER melebihi REZIM Suharto. Jika dilihat sejak ZIKIR menjadi pemimpin di Aceh, rakyat Aceh menjadi terpecah belah dan demokrasi menjadi terbelunggu serta semua sektor ekonomi rakyat mandeg, bahkan politik di Aceh amburadul karena PA dan ZIKIR tidak mewakili perjuangan AM.
"Tentu ini sangat merugikan perjuangan GAM untuk memisahkan diri dengan NKRI," tandas Syekhy.
Qanun Wali, pengibaran Bendera Bintang Bulan jelas sarat kepentingan politik kepentingan kelompok PA/Pemerintahan ZIKIR, bukan kepentingan untuk melanjutkan perjuangan AM dan rakyat. Ini justru berpotensi Aceh kembali dalam konflik yang lebih dasyat, bila pembicaraan damai fase-fase berikutnya tidak segera diagendakan dan tentu ini sangat berbahaya.
Karenanya, ASNLF sangat menyesalkan atas ketidakmampuan ZIKIR menjaga kedamaian di Aceh, serta tidak dapat menjaga persatuan bangsa Aceh dan justru ada indikasi bahwa ZIKIR merupakan biang perpecahan, sekaligus biang pemutus tali perjuangan AM.
ASNLF sangat prihatin pada kondisi Aceh pasca ZIKIR menjadi Gubernur/Wakil alias sebagai pemimpin RI di Aceh. Khusus pada tanggal 4 April 2013 kemarin, banyak masyarakat datang ke Banda Aceh untuk mengibarkan "Bintang Bulan" kebanggaan rakyat Aceh dan sebagai lambang kemerdekaan Aceh. Disebutkannya, pengibaran tersebut sangat diapresiasi tentu bila dilakukan semuanya murni untuk perjuangan Aceh merdeka.
Tetapi sebaliknya, bila gagasan pengibaran/qanun wali hanya untuk kepentingan kelompok tertentu demi menggalang suara untuk pemilih RI, maka kami mengecam keras karena kami anggap ini sebagai bentuk kejahatan perjuangan AM.
Karena kebijakan tersebut tidak dikoordinasikan dengan pihak petinggi GAM baik yang berada di luar maupun di dalam negeri, sedangkan ZIKIR tidak lagi mempunyai kebijakan dalam perintah-perintah yang menyangkut perjuangan AM. Karena mereka sudah menjadi bagian dari petinggi RI atau mereka resmi sebagai pemerintah RI.
Dengan demikian, ASNLF mendesak pemerintah RI yang berada di pusat maupun pemerintah RI yang ada di daerah yaitu pemerintah ZIKIR, untuk segera membuka pembicaraan lanjutan perdamaian antara GAM-RI. Karena perjuangan AM belum berakhir, yang masih melewati jalan panjang untuk mewujudkannya.
Pihaknya juga mendesak pemerintah Aceh sebagai perpanjang tanganan pemerintah pusat, untuk bersedia menjadi mediator damai RI-GAM. Diminta juga semua elemen masyarakat khususnya para panglima GAM semua wilayah, semua TNA untuk tidak ikut mengibarkan bendera Bintang Bulan sebelum ada kesepakatan antara RI-GAM atau sebelum ada pengakuan resmi kemerdekaan Aceh dari RI dan international.
Tambahnya, pengibaran bendera serta Qanun Wali itu bukan merupakan kebijakan AM, namun itu mutlak kebijakan Pemerintah RI yang ada di Aceh. GAM belum bisa disebut telah resmi bergabung dengan RI, yang telah resmi bergabung dengan RI yaitu kelompok ZIKIR dan Malek Mahmud cs.
Aceh Sumatera National Liberation Front juga menghimbau semua masyarakat Aceh, tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Aceh dari Sabang, Aceh Tamieng, Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Barat. Dan mengecam pihak-pihak yang sengaja memecah belahkan bangsa Aceh, dan melemahkan semangat perjuangan AM.
Mari kita semua tetap bersatu padu memperjuangkan Aceh yang makmur, aman, sejahtera dan sampai Aceh berdaulat, tutup Syekhy, Jubir ASNLF.(bhc/sul) |